Seberapa Penting Tes TORCH?

Pakar imunologi terkemuka, Dr. Liliane Grangeot-Keros, dari Universite Paris Sud II, Prancis, sempat melakukan tur keliling Asia untuk mempromosikan pentingnya skrining TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus/CMV, dan herpes simplex) pada calon mama.

Menurutnya, inilah cara sederhana (namun efektif!) menurunkan risiko yang ditimbulkan TORCH, seperti keguguran dan cacat pada bayi yang dilahirkan. Tapi, tak semua calon mama wajib melakukan skrining TORCH, lho. Hanya mereka yang memiliki risiko tinggi saja dianjurkan melakukannya, yaitu:

- Calon mama yang gemar mengonsumsi sayuran mentah (salad atau karedok).
- Calon mama yang senang mengonsumsi daging (ikan, sapi, ayam) setengah matang.
- Calon mama yang suka memelihara binatang, seperti kucing, anjing, burung merpati, dll, namun tidak memperhatikan kebersihan binatang peliharaannya.

Berbeda dari diagnosa TORCH yang dilakukan dengan cara mengambil sampel cairan ketuban, proses skrining TORCH jauh lebih sederhana, yaitu mengambil sampel darah di lengan dan diperiksa di laboratorium. Untuk hasil terbaik, lakukan skrining pada trimester pertama. Tujuannya? Anda masih punya banyak waktu untuk melakukan terapi, bila ditemukan sesuatu mencurigakan.

Baca juga:Kenali Komplikasi Kehamilan

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia