4 Alasan Tak Lagi Membuang Sampah Makanan


 

Anak tidak menghabiskan makanannya? Di meja makan juga masih ada sisa makan malam? Cabai yang terlalu lama disimpan ternyata busuk? Anda membeli makanan di luar dan ternyata tidak Anda habiskan karena rasanya yang tidak sesuai ekspektasi? Apa yang Mama lakukan atas semua sisa bahan makanan ini? Membuangnya ke tempat sampah adalah cara yang hampir pasti kita pilih. Hal ini terasa seperti aktivitas yang biasa saja karena kita sudah terbiasa melakukannya sehari-hari.


Akan tetapi, tahukah Mama, bahwa membuang makanan atau sisa makanan, selain berpengaruh terhadap keuangan Anda juga dapat berdampak buruk pada lingkungan? Bahkan, sekalipun Anda telah memisahkannya ke dalam tong sampah organik, bila tak diolah, sisa makanan itu akan menjadi limbah yang tetap memicu masalah lingkungan.


Melansir dari BBC, makanan rumah tangga menjadi kontributor utama limbah makanan. Sumber-sumber limbah makanan tersebut antara lain adalah sisa makanan yang sudah dimasak namun tidak termakan serta makanan kedaluwarsa. Di luar limbah rumah tangga, limbah makanan berasal dari buah dan sayuran yang cacat, berbintik, berubah warna atau berukuran yang tidak memenuhi standar pasar biasanya dibuang, bahkan sebelum meninggalkan lahan perkebunan atau pertanian. Jumlah ini mencapai 20-40% maupun eberapa makanan yang rusak saat diangkut untuk didistribusikan.


Tak Lagi Buang Makanan!

Berikut ini adalah tiga alasan mengapa Anda perlu mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan membuang-buang makanan:

  1. Menghemat Pengeluaran Anda

Tentu saja, ini adalah alasan yang paling terasa dampaknya. Ketika Anda makan sesuai kebutuhan dan tidak ada yang terbuang, maka pengeluaran Anda akan jadi lebih hemat. Sayangnya, kita sering kali membeli melebihi apa yang kita butuhkan. 

 
  1. Gas Rumah Kaca yang Menyebabkan Perubahan Iklim

Membuang makanan kelihatannya sepele. Padahal ini punya dampak  penting bagi alam semesta dalam jangka waktu panjang. Makanan yang dibuang dibuang ke tempat sampah dan tidak diolah akan membusuk dan menghasilkan gas metana. Ini merupakan gas rumah kaca kedua yang paling umum. Menurut laporan dari World Resources Institute (WRI), limbah makanan bertanggung jawab atas 8% dari emisi gas rumah kaca tahunan. Dengan kata lain, kebiasaan Anda membuang makanan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

 
  1. Buang-buang Air dalam Jumlah Besar

Buang-buang makanan sama halnya dengan buang-buang air dalam jumlah besar. WRI menyebut bahwa 25% dari semua air yang digunakan untuk pertanian hilang melalui limbah makanan setiap tahun. Jumlah itu setara dengan 45 triliun galon atau sekitar 170 triliun liter. 
 

  1. Ancaman Ketahanan Pangan dan Gizi

Carmen Byker Shanks, Ph.D., R.D., ahli gizi sekaligus profesor diet, nutrisi, dan sistem pangan berkelanjutan di Montana State University, Amerika Serikat mencatat bahwa membuang makanan berkontribusi terhadap ancaman ketahanan pangan dan gizi sebab produk-produk segar dan sehat dari pertanian cenderung menjadi yang paling banyak terbuang dibandingkan dengan produk-produk olahan yang mudah rusak. Bila jumlah produksinya lebih kecil daripada jumlah yang terbuang, maka ada kemungkinan kekurangan pangan dan gizi.

 

Kondisi Limbah Makanan di Berbagai Negara

Indonesia sendiri menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2018 lalu menempati posisi kedua sebagai produsen sampah makanan terbanyak di dunia setelah Arab Saudi. Tak hanya Indonesia saja, masalah limbah makanan juga menjadi isu lingkungan global yang terjadi di berbagai negara.

 

Di Amerika Serikat, misalnya. Menurut laporan US Drug and Food Adimistration (USDA), 30-40% pasokan makanan terbuang sia-sia. Jumlah ini setara dengan 161 miliar dolar setiap tahunnya. Inilah yang membuat negara adidaya ini pada 2015 lalu merencanakan pengurangan limbah makanan hingga 50% di 2030. 

 

Data dari The Waste and Resources Action Programme (WRAP), sebuah lembaga yang fokus pada upaya optimalisasi sumber daya yang berkelanjutan di Inggris menunjukkan bahwa limbah makanan rumah tangga mencapai sekitar 70% dari seluruh hasil pertanian yang disetor ke industri untuk diolah.

 

Nah, mengingat bahayanya dampak membuang makanan, mulai sekarang yuk berikhtiar untuk lebih bijak dan cermat mengolah makanan agar jangan sampai ada yang terbuang, yuk, Ma. 

 

Lela Latifa
Foto: Shutterstock

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia