Mengelola Sampah Kemasan: Pakai Ulang Hingga Hasilkan Uang




Persoalan sampah sebetulnya bukan isu yang jauh dari kehidupan kita. Justru, isu sampah menjadi masalah sehari-hari yang sangat dekat dengan kita. Sehari saja tukang sampah tidak datang mengambil sampah rumah tangga kita, sudah jadi masalah, kan? Sebegitu bergantungnya kita pada budaya membuang semua hal yang kita anggap sampah begitu saja.
 
Tahun 2019 lalu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menaksir timbunan sampah di Indonesia sebesar 67,8 juta ton. Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah tiap hari dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Atau, tiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari.
 
Ketakutan Menyimpan Kemasan saat Pandemi
Jumlah timbunan sampah tentunya diprediksi terus bertambah. Belum ada data terbaru berapa timbunan sampah di tahun ini, utamanya setelah pandemi. Sebab, di masa pandemi ini banyak orang yang punya ketakutan untuk menyimpan kemasan yang dibeli dari luar.
 
Kemasan seperti kotak plastik makanan, botol minuman, gelas plastik, paper bag, kresek plastik yang sebelum pandemi sering disimpan untuk dipakai, kini langsung saja dilempar ke tempat sampah. Ini juga akan meningkatkan jumlah sampah, selain sampah masker yang jadi isu penting di masa pandemi.
 
Upaya mengurangi timbunan sampah terus dimulai. Akan tetapi, hal ini sangat butuh dukungan dari setiap rumah. Hal-hal apa saja sih, yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah kemasan ini?
 
Cuci Ulang, Pakai Ulang
Kemasan yang terbuat dari kaca, adalah yang paling baik untuk dicuci ulang dan dipakai ulang. Ia bisa digunakan sebagai tempat penyimpanan bahkan sebagai hiasan.
 
Bila Anda mendapatkan kemasan plastik dengan kode angka 2 dan kode HDPE atau PEHD saat membeli sesuatu di luar, maka akan sangat lebih baik bila digunakan ulang. Jenis plastik ini (seperti botol sabun, sampo) termasuk golongan yang cukup aman digunakan berulang kali.
 
Tidak hanya plastik yang kokoh saja, kresek, kantong sampah, tas belanja, hingga bungkus makanan yang umumnya berkode kode angka 4 dan LDPE atau PE-LD juga memiliki daya tahan yang lama dan dapat digunakan untuk berulang kali. Jadi, daripada sekali pakai langsung dibuang, lebih baik dicuci bersih dulu dengan sabun, sehingga bisa dipakai ulang. Hal sama juga berlaku dengan kode angka 5 dan kode PP seperti pada wadah makanan tahan panas, sedotan, atau kotak yogurt.
 
Hasilkan Uang
Bila bahan-bahan plastik tersebut sudah tak lagi dipakai, maka simpan dulu, Ma. Jangan langsung dibuang. Hal yang sama berlaku untuk paper  bag, kertas bungkus roti, atau jar kaca. Sebab, sampah-sampah ini bisa diuangkan. Ada beberapa cara yang bisa Anda pilih untuk menguangkan sampah-sampah ini:
 

  • Bank Sampah RT
Ini adalah salah satu cara yang sudah dikenal luas. Bank sampah umumnya dikelola PKK di masing-masing RT atau RW dan dilaksanakan tiap seminggu atau dua kali seminggu. Nah, Mama bisa mencoba cara ini untuk menghasilkan uang. Kumpulkan sampah dan tukarkan dengan saldo di buku rekening yang dibagikan oleh pengelola bank sampah.
 
  • Jual Lewat Aplikasi
Saat ini semakin banyak yang sadar akan pentingnya manajemen sampah. Anda bisa menghasilkan uang lewat menjual sampah-sampah yang sudah Anda simpan lewat aplikasi. Sampah yang diterima akan dikelola lagi.
 
Berikut ini beberapa aplikasi di Google Play dan App Store yang bisa Anda coba:
  • Rekosistem
Lewat aplikasi ini, Anda dapat menyetorkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, kaca/beling, sampah karet, sampah metal, dan sampah e-waste atau yang berasal dari peralatan elektornik ke tempat yang telah disediakan, yakni waste station dan rebox. Area cakupan Rekosistem adalah DKI Jakarta, Tangerang Selatan, Blitar, Cirebon, Bogor, Semarang.
  • Duitin
Tak perlu diantar! Petugas mereka akan menjemput sampah-sampah Anda yang berupa plastik, karton, kaca, kaleng alumunium, dan kotak multi layer. Duitin bekerja di area Jakarta Selatan dan wilayah terdekatnya.
  • eRecycle
Sampah terpilah akan dijemput ke rumah, ditimbang secara digital dan akurat untuk didaur ulang. Sampah yang diterima adalah plastik, kertas, dan botol kaca. Beroperasi di daerah Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok.
  • Rapel
Rapel juga menerima penjualan sampah anorganik seperti botol kaca, kertas, plastik, logam, dan e-waste yang telah dipilah oleh user atau pemilik rumah. Namun, di sini sampah akan dijual kepada kolektor atau agen pengepul sampah yang menjadi mitra aplikasi. Baik user maupun agen akan mendapat poin yang dapat ditukar dengan berbagai hadiah. Rapel saat ini mencakup sebagian Provinsi DI Yogyakarta, yakni di Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul serta beberapa kota di Jawa Tengah, yakni Semarang, Salatiga, Banyumas, Solo, Klaten, Kartosuro, Boyolali, Sukoharjo, dan Karanganyar.
  • Mallsampah
Aplikasi ini menggunakan jejaring pengepul dan pemulung lokal. Sampah yang diterima adalah plastik, kertas, botol kaca, alumunium, logam, dan alat elektronik bekas. Saat ini, Mallsampah beroperasi di Makasar dan sekitarnya.
 
 
Bagi Mama yang khawatir menyimpan sampah selama pandemi ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti menyemprot dengan disinfektan dulu, menjemurnya, dan menyimpan di dalam wadah besar seperti kardus atau container tertutup di gudang atau ruangan lain yang tidak dekat dengan area aktivitas keluarga.
 
Baca juga:
Cara Lain Kurangi Sampah Botol Plastik
Belajar tentang sampah di Temesi
Membaca kode kemasan plastik
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 
 
 
 
 
 


Topic

#haribumi

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Mengelola Sampah Kemasan: Pakai Ulang Hingga Hasilkan Uang