5 Motif di Balik Bully

Setiap tindakan manusia—baik pada diri mereka yang sudah dewasa maupun masih kanak-kanak, pasti didasari oleh motif tertentu. Memahami apa yang menjadi latar belakang perilaku bully akan memberikan pertimbangan ekstra bagi Anda mengenai tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah pengalaman tidak mengenakkan itu menimpa anak. Apa saja motif yang seringkali melatarbelakangi tindakan bully?

1. Cari perhatian
Bagi anak-anak yang haus perhatian, tidak ada malapetaka yang lebih mengerikan daripada diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama oleh keluarga dan lingkungan terdekat. Nah, mengolok-olok ataupun mengganggu anak lain akan membuat perhatian “seluruh dunia” tertuju pada diri si pelaku bully—meskipun seringkali dalam bentuk perhatian negatif. Tapi hal ini tidak menjadi masalah, karena bagi mereka, mendulang perhatian negatif selalu terasa lebih baik daripada tidak diperhatikan orang sama sekali.

2. Main-main
Menggoda anak lain terkadang juga dilakukan sekadar untuk bermain-main tanpa keinginan untuk menyakiti—meski dari luar tindakan tersebut terlihat kejam. Anak-anak SD seringkali saling memanggil temannya dengan nama julukan seperti “si gendut” atau “si kribo” untuk sekadar “lucu-lucuan”. Tetapi hati-hati Ma, meski awalnya tidak bermaksud jahat, saling menggoda dan memanggil dengan nama julukan ini bisa berpotensi kebablasan menjadi perselisihan jangka panjang.

3. Ikut-ikutan
Di setiap lingkungan pasti ada satu atau sekelompok anak yang dianggap keren oleh teman-teman sebayanya. Jika si anak keren tadi kedapatan sedang mengganggu orang lain, maka anak-anak lainnya bisa merasa harus ikut melakukannya pula supaya bisa dianggap sama keren. Efek ikut-ikutan ini juga berlaku apabila pelaku bully adalah salah seorang teman atau saudara yang usianya lebih tua. Ikut-ikutan sang kakak mem-bully anak lain akan dianggap sebagai tindakan yang bisa mengangkat derajatnya hingga setara dengan si “anak besar”.

4. Belum paham makna perbedaan
Anak-anak tidak dapat dengan sendirinya memahami apa sebab anak tetangga di sebelah rumah Anda mengenakan kacamata setebal “pantat botol” atau mengapa teman sekelasnya di kelas dua berjalan dengan sebelah kaki yang pincang.

Jika tidak bisa memahami apa yang dilihatnya, maka mereka tidak mampu menunjukkan empati pada anak lain yang penampilannya “berbeda” tersebut. Dengan demikian, sesuatu yang berbeda tadi dianggapnya sebagai bahan hiburan. Itulah sebabnya mereka senang mengolok-olok temannya dengan sebutan “si mata empat”, “si pincang”, dan lain sebagainya.

5. Eskpresi perasaan frustasi
“Efek bully bisa bermacam-macam. Bully bisa membuat seorang anak menjadi kurang percaya diri namun bisa pula mengubah seorang anak menjadi pelaku bully di tempat lain,” kata psikolog, Nessi Purnomo.  Itu sebabnya, anak-anak yang memiliki kecenderungan menghina orang lain biasanya justru sering mendapatkan pengalaman direndahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Sesekali, mereka ingin merasakan dirinya berkuasa dengan cara balik merendahkan orang lain.

Tak heran bila banyak pelaku bully adalah anak-anak yang diserang stres dan menjadi korban kekerasan baik secara fisik maupun emosional di dalam lingkungan keluarga ataupun pergaulannya. Mereka yang hobi mengejek secara tidak sadar sebenarnya sedang mengekspresikan perasaan frustasi, amarah, serta ketidakbahagiaan yang dirasakan oleh dirinya sendiri.


Topic

#MentalMerdeka

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia