5 Alasan Mengapa Orang Tua Tak Perlu Membantu Anak Mengerjakan PR


 

Beberapa orang tua barangkali termotivasi untuk membantu mengerjakan PR anak mereka dengan tujuan memastikan bahwa soal terjawab dengan benar, atau proyek mereka terselesaikan dengan baik. Harapannya adalah si kecil akan mendapatkan nilai yang baik di sekolah.
 
Akan tetapi, di luar dugaan Anda, membantu anak-anak mengerjakan PR malah bisa jadi bumerang. Penelitian yang dilakukan oleh Michael M. Barger, Ph.D., asisten dosen psikologi pendidikan University of Georgia, Athena, AS, menemukan bahwa bantuan orang tua dalam mengerjakan PR menunjukkan manfaat yang sangat sedikit atau tidak sama sekali.  Di sisi lain, bantuan pekerjaan rumah dari orang tua dikaitkan dengan prestasi yang lebih rendah dan tidak terkait dengan keterlibatan atau motivasi akademis anak-anak.
 
Bagaimana bisa demikian?


1. Interaksi yang Tidak Menyenangkan

Orang tua berpikir bahwa mereka hanya memastikan atau memeriksa bahwa semua pekerjaan anak-anak mereka dikerjakan dengan baik—atau benar. Akan tetapi, hal ini sering berubah menjadi adegan buruk ketika orang tua melihat bahwa anaknya melakukan sejumlah kesalahan. Orang tua akhirnya meminta anak-anak untuk memperbaiki dan mengulanginya.
 
Yang terjadi adalah anak-anak menolak, membantah, bahkan menangis. Momen itu kemudian membuat anak-anak merasa frustasi dan orang tua juga kesal. Anak-anak tidak akan belajar dengan baik atau tidak akan termotivasi untuk melakukan lebih baik ketika mereka berada dalam interaksi tidak menyenangkan seperti tadi. Konflik tersebut malah hanya akan membuat anak-anak enggan mengerjakan PR.


2. Mempersulit Guru Mengevaluasi

Tujuan guru memberikan PR sebetulnya adalah untuk mengevaluasi apakah siswanya memahami hasil pembelajaran di kelas pada siang harinya. Bila orang tua mati-matian membantu anak agar hasil PR-nya sempurna, guru jadi kesulitan mengevaluasi. Karena, nyatanya kesempurnaan tersebut adalah hasil campur tangan orang tua, bukan semata hasil review anak-anak atas pelajarannya sebelumnya.

3. Merusak Kepercayaan Diri Anak-anak

Turun tangan mengerjakan PR anak rentan menunjukkan bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang tidak dapat ditolerir. Hal ini menyiratkan pada anak-anak bahwa mereka tidak mampu mengerjakan PR sendiri atau bahkan tugasnya tidak cukup bagus untuk dilihat di depan umum, sehingga Anda harus memperbaikinya. Hal ini tentu merusak kepercayaan diri anak-anak.

4. Tidak Disiplin

Anda menginginkan anak-anak untuk menjadi disiplin. Namun, sebetulnya Anda sendirilah yang berpotensi merusak harapan itu saat membantu mengerjakan PR anak-anak. Lantaran hal tersebut memunculkan kebingungan tentang apakah PR menjadi tanggung jawab anak-anak atau orang tua. Pada akhirnya, mereka akan menjadi tidak disiplin tentang itu.

5. Mudah Menyerah

Kebiasaan membantu mengerjakan PR anak-anak akan membuat mereka lebih mudah menyerah untuk memecahkan hal yang sulit. Mereka barangkali berpikir untuk apa susah-susah bila pada akhirnya orang tua akan memeriksa semuanya dan membantu mengerjakan.
 
 
Pendapat yang didasarkan pada temuan di lapangan ini mungkin tidak relevan dengan kondisi Anda dan anak Anda. Akan tetapi, yang patut diperhatikan adalah bahwa tugas orang tua adalah sebatas mendorong anak-anak untuk “merasa mampu” dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya sendiri.
 
Baca juga:
Sejauh Apa Orang Tua Boleh Membantu Anak Mengerjakan PR?
Apakah Anak-Anak Kembali Sekolah Saat Tahun Ajaran Baru Dimulai Pertengahan Juli Nanti?
Grafik Belum Landai, Kapan Anak-anak Kembali Sekolah?
7 Tip Mendampingi Anak Belajar di Rumah Selama Sekolah Ditutup
Bagaimana Manajemen Waktu Anak Usia Sekolah?
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK
 

 
 

 





Video

The Power Duo Business + Parenthood


Polling

5 Alasan Mengapa Orang Tua Tak Perlu Membantu Anak Mengerjakan PR

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia