7 Kesalahan Orang Tua Mendisiplinkan Anak


“Dua minggu lalu Nino (3 tahun) menangis dan menjerit keras saat saya mengajaknya ke minimarket dekat rumah. Saya sudah mencoba meredakan tangisannya dengan beragam cara tapi tidak berhasil. Sesampainya di rumah, saya melihat Nino langsung naik ke atas sofa, dan tertidur. Setelah mengingat-ingat, saya baru menyadari bahwa saya tidak mengenali sinyal-sinyal yang sebenarnya diperlihatkan Nino sebelum diajak ke minimarket, seperti mengucek mata dan rewel. Dengan kata lain, itu semua adalah tanda-tanda ia mengantuk. Ternyata itu sebabnya ia tantrum,” cerita Mama Salwa tentang anaknya, Nino, yang sering tantrum di tempat umum.

Anda memang bukan orang tua satu-satunya yang sering salah menebak sinyal yang terlihat pada si kecil, kata penasehat keluarga, Michele Borba, Ed.D., yang juga penulis buku The Big Book of Parenting Solutions. “Ada beberapa pola atau sinyal yang dapat memperlihatkan perilaku si kecil. Misalnya, saat anak lelah, mengantuk,lapar atau kesal, mereka akan memperlihatkan sinyal yang mirip. Jadi tinggal kita para orang tua yang harus peka pada sinyal-sinyal si kecil, dan mengetahui cara menghadapinya.

Saran buat Mama Salwa, menurut Dr. Borba, coba kenali mood anak. Pada kejadian di atas, yang seharusnya Anda lakukan adalah membiarkan si kecil istirahat atau tidur siang. Bila sudah segar dan tidak mengantuk, baru Anda bisa ajak si kecil berbelanja. Mengabaikan sinyal-sinyal pada anak adalah satu dari banyak kesalahan orang tua saat mengajari anak disiplin. Namun, memperbaiki kesalahan-kesalahan ini dapat membuat perbedaan besar pada pengalaman Anda mengasuh anak. Apa saja kesalahannya? Dr. Borba mengungkapkan tujuh kesalahan yang sering terjadi:

Kesalahan 1: Orang tua berkata negatif
“Jangan pukul adik kamu!” “Berhenti lompat-lompat di kasur!” Sudah dilarang, kok, anak makin ‘bersemangat’ melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan?

Solusi: Tidak ada orang tua yang ingin membesarkan anak yang tidak memahami batasan. Namun, orang tua berkata ‘Tidak’ pada anak terlalu sering bisa membuatnya kebal terhadap hal itu, dan kata ‘Tidak’ tidak lagi memiliki pengaruh apa-apa ke anak, Dr. Borba menjelaskan, “Kita sering melarang anak berbuat sesuatu tanpa memberi tahu apa yang seharusnya mereka lakukan,” ujar Linda Sonna, Ph.D., penulis The Everything Toddler Book. Jadi, simpan ucapan ‘Tidak’ pada situasi-situasi darurat atau membahayakan (seperti si kecil mau memasukkan garpu ke dalam lubang stop kontak atau ketika ia ingin makan laba-laba yang ia temukan di lantai), dan fokus pada memberitahu anak bagaimana mereka sebaiknya berperilaku.

Contohnya, dari pada bilang “Jangan berdiri saat mandi di bathtub! Coba bilang, “Yuk, kita duduk saat mandi di bathtub, biar tidak terpeleset. Di lain waktu, ketika Anda melihat si kecil bermain air dalam bathtub pada posisi duduk, berikan ia pujian. Misalnya, “Yay, gitu dong, enak, kan, mandinya sambil duduk”. Cara ini mendorong anak untuk bertingkah laku baik.

Kesalahan 2: Berharap terlalu banyak pada anak
Anda sedang beribadah di masjid atau gereja. Tiba-tiba si kecil berteriak. Ketika Anda memintanya untuk diam, anak malah berteriak lagi. Benar-benar bikin malu! Kenapa si kecil tidak mau mendengarkan saya?

Solusi:Orang tua perlu berperan layaknya seorang guru. Anak usia balita belum bisa mengendalikan emosi atau memahami orang-orang di sekitarnya, terutama di tempat umum, seperti di supermarket, restoran atau tempat ibadah. Masalahnya orang tua menggangap anak sudah memahami hal ini,” kata Dr. Sonna. Ketika si kecil bertingkah aneh atau di luar kewajaran, Anda perlu menyadari bahwa ia bukan mencoba membuat Anda kesal, ia hanya tidak tahu harus berperilaku seperti apa pada situasi tersebut. Jadi, membentaknya bukankah tindakan yang efektif (atau adil) untuk menangani masalah ini. Fokuslah dengan memperlihatkan pada si kecil cara ia berperilaku layaknya yang Anda inginkan. Bisikkan padanya, “Mama bicara perlahan karena saat ini kita sedang berada di tempat ibadah. Bila Mama butuh sesuatu dari Papa, Mama juga akan berbisik pada Papa. Juga tunjukkan padanya, anak-anak lain yang terlihat tenang saat di tempat ibadah. “Lihat temanmu, ia ikut berdoa di samping mamanya.” Anak-anak terlahir untuk meniru dari orang-orang di sekitarnya. Maka itu, jadilah role model buatnya atau ajak si kecil melihat perilaku baik dari orang lain atau anak sebayanya agar ia melakukan hal sama. Hal ini butuh waktu dan dipraktikkan berulang-ulang agar si kecil bisa terbiasa mengendalikan emosinya,” kata Dr. Sonna. Yang artinya, Anda perlu terus menerus mengingatkan si kecil, dan memberitahunya bila ia belum juga terbiasa. Lama kelamaan ia akan belajar cara berperilaku sesuai pada situasi dan kondisi.

Kesalahan 3: Orang tua berperilaku negatif
Ketika menjatuhkan sesuatu, Anda berteriak. Saat ada orang lain yang menyalip antrian, Anda memakinya. Tapi Anda langsung marah bila si kecil bereaksi hal yang sama ketika ia mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Solusi:Meminta maaf dan ubah perilaku Anda. Ada efek bumerang pada perilaku orang tua. Bila kita berteriak pada kejadian tertentu, si kecil juga bisa melakukan hal sama, kata Devra Renner, penulis buku Mommy Guilt. Ya, memang sangat sulit untuk berperilaku sempurna setiap saat, jadi meminta maaflah bila Anda tanpa sengaja bersikap yang tidak baik di depan anak. Cara ini juga menciptakan kesempatan untuk membicarakan alasan Anda bereaksi seperti itu dan memberikan cara yang baik merespon ketika Anda sedang kesal. Itulah yang dilakukan Dina, saat anak laki-lakinya Owen berusia 5 tahun, menangis dan tidak mau pakai baju seragam sekolah. Tanpa sadar Dina berteriak, “Diam, dan pakai baju sekarang!” Namun menyadari cara ini akan membuat si kecil akan meniru atau bereksi sama pada situasi yang sama, Dina langsung berlutut dan meminta maaf, lalu mengajaknya bicara tentang pentingnya untuk tidak terlambat ke sekolah. Ternyata berhasil: Owen langsung bersiap-siap ke sekolah dengan tenang setelahnya.

Kesalahan 4: Langsung marah melihat si kecil bertingkah
Mendengar anak berlarian dalam rumah atau membongkar kembali laci mainannya, Anda langsung berteriak dan memarahinya.

Solusi: Orang tua perlu selektif merespon tingkah laku si kecil. Sering kali, orang tua merasa harus terlibat setiap kali anak melakukan sesuatu. Tidak perlu melulu jadi orang tua galak, Ma. Perlu Anda ingat, kadangkala anak melakukan hal-hal yang menjengkelkan tidak hanya karena sedang mencari perhatian Anda, tapi bisa juga mereka sedang mengembangkan kemampuan baru. Jadi, balita Anda bisa menuangkan jus jeruk ke mangkuk serealnya karena ia sedang belajar tentang cairan. Dalam hal bereaksi pada perilaku si kecil, aturan dari Dr. Borba, bila aktivitas tidak membahayakan, coba amati tingkah lakunya. Saat melihat anak menekan-nekan remote TV sehingga channel TV berubah-ubah, coba tidak langsung berteriak. Perhatikan apa yang terjadi sambil melanjutkan apa yang sedang Anda kerjakan. Biasanya bila diam saja, si kecil lama kelamaan juga akan berhenti, dan Anda akan lebih tenang karena tidak perlu marah-marah.

Kesalahan 5: Hanya bicara tanpa tindakan tegas
“Matikan TV… Mama serius, nih… Benar-benar, ya!”Si kecil bisa terus berperilaku buruk ketika Anda tidak tegas dan tidak memberinya konsekuensi.

Solusi: Buat aturan dan praktikkan. Menurut Robert Mac Kenzie, Ph.D., penulis buku Setting Limits With Your Strong- Willed Child, untuk mengajarkan anak mengikuti aturan, buat ekspektasi secara jelas, dan berikan konsekuensi bila dilanggar. Jika ingin si kecil bangun dari sofa dan mengerjakan PR, coba mulai dengan mengucapkan kalimat mengandung pengarahan yang baik. Misalnya, “Tolong matikan TV-nya sekarang, Nak, dan selesaikan PR-mu”. Bila ia melakukan permintaan Anda, ucapkan terima kasih padanya. Bila tidak, berikan ia konsekuensi: “Mama matikan TV sekarang. Tidak boleh nonton TV sampai PR selesai.”

Kesalahan 6: Beri hukuman yang tidak tepat
Ketika Anda menyuruh si kecil yang berusia 4 tahun ke kamarnya setelah ia memukul adiknya. Yang terjadi, si kecil malah menangis histeris di kamarnya.

Solusi: Inti dari ‘time out’ adalah memberikan anak waktu untuk mendinginkan kepala, meredam emosi, dan memikirkan apakah perilakunya benar atau salah. Sebagian anak merespons baik dengan cara ini. Mereka akan diam di dalam kamar hingga merasa tenang. Tapi, bagi sebagian anak, cara ini malah akan membuatnya merasa ditolak, sehingga membuatnya makin marah. Plus, cara ini tidak mengajarkan si kecil bagaimana seharusnya ia berperilaku seperti yang Anda inginkan. Sebagai alternatif, Dr. Sonna menyarankan melakukan metode ‘time in’, yaitu Anda duduk tenang dengan si kecil. Bila ia sangat marah, beri ia pelukan untuk menenangkannya. Bila ia sudah tenang, jelaskan padanya secara perlahan bahwa tindakan tadi tidaklah baik. Bagaimana bila Anda terlalu marah untuk menenangkan si kecil? Beri ‘time out’ untuk diri Anda sendiri. Bila sudah tenang, ajak si kecil bicara dan jelaskan padanya bahwa perbuatannya pada adiknya tidaklah baik. Anda bisa mulai obrolan dengan berkata, “Saat adik merebut mainan kamu, apa yang bisa kamu lakukan selain memukulnya?”

Kesalahan 7: Berasumsi metode disiplin untuk semua anak sama
Cara terbaik untuk mengatasi anak laki-laki Anda yang sedang tantrum adalah berhadapan dalam posisi sejajar (eye level) dan menjelaskan bahwa perilakunya harus berubah. Tapi, saat Anda mempraktikkan hal sama pada anak perempuan Anda, ia malah makin tantrum.

Solusi: Sangat mudah menyalahkan anak ketika teknik Anda mendisiplinkannya mengalami kegagalan. Namun, perlu Anda sadari bahwa tiap anak berbeda. Bila satu metode disiplin berhasil pada anak sulung Anda, belum tentu berhasil pada adiknya, kata Avivia Pflock, penulis Mommy Guilt. Bila si sulung bisa diajarkan disiplin hanya lewat perkataan Anda, tapi si bungsu perlu diberi konsekuensi dulu baru bisa disiplin, bukan berarti Anda tidak konsisten, lho. Semuanya tergantung kebutuhan dan respons si kecil.

Foto: 123rf

Baca juga : 4 Cara Terapkan Disiplin Tanpa Kekerasan


 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia