Anak Nonton Anime, Amankah?

Beberapa waktu lalu, mungkin Anda sempat mendengar (atau membaca) kabar yang beredar soal seorang remaja yang bunuh diri akibat terpengaruh oleh manga dan anime. Terlepas dari alasan sebenarnya sang remaja tersebut bunuh diri, jika si kecil Anda termasuk penggemar manga dan anime, ada baiknya perhatikan hal-hal berikut:

Manga adalah komik versi Jepang sedangkan anime adalah film kartun versi Jepang, anime seringkali dibuat berdasarkan manga. Karena penggemarnya dari berbagai kalangan usia, manga dan anime tidak semuanya ditujukan untuk anak-anak, jadi mama-papa harus benar-benar memperhatikan cerita dalam manga dan anime yang dibaca atau ditonton si kecil.

Perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia juga sebaiknya jadi pertimbangan. Dalam budaya Jepang membicarakan kematian bahkan dengan anak kecil bukanlah sesuatu yang tabu, jadi jangan heran kalau dalam cerita anime anak-anak karakter jagoannya mati. Tidak seperti kartun Barat (baca: Disney), jalan cerita anime tidak wajib berakhir bahagia.

Selain itu, budaya Jepang juga ‘lebih santai’ soal seksualitas dan ketelanjangan. Kalau hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai di keluarga Anda, waspadai adegan nudis (sekalipun tak ada kaitannya dengan seks) di anime anak. Contohnya nih, dalam anime Naruto, tokoh utamanya bisa mengubah diri menjadi perempuan bugil (walau tubuh bugilnya ditutupi rambut panjang) dan menggunakan kemampuan itu untuk mengecoh lawan.

Termasuk jenis anime yang popular adalah kategori battle anime. Isi ceritanya penuh action pertarungan yang biasanya menggunakan ilmu martial arts dan senjata tajam. Tak jarang para tokoh dalam anime jenis ini ditampilkan babak belur atau berdarah-darah akibat pertarungan.

Pada intinya, Mama tak perlu melarang sama sekali si kecil membaca manga atau menonton anime, tapi ketahuilah dulu isi ceritanya untuk mengetahui apakah materinya cocok untuk anak, jangan sampai terkecoh gambar dan judul. Kalau tak sempat ‘survei’ dampingi anak saat ia menonton.

Foto: Getty Image