Anak Bergosip Tak Selalu Negatif, Ini Alasannya!


Entah kenapa, gosip lebih identik dengan perempuan. Dan rasanya hampir semua di antara kita pernah melakukannya, ya. Menurut seorang psikolog sosial asal Prancis, Laurent Begue, bergosip bagaikan ‘guilty pleasure’ bagi banyak orang. Banyak orang tahu bahwa bergosip itu adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan, tapi nyatanya lebih dari separuh populasi manusia melakukannya. Kenapa itu bisa terjadi?

Hal tersebut karena secara tidak disadari, bergosip adalah suatu kegiatan yang mampu membangun ikatan sosial. Bahkan ikatan sosial yang terbangun melalui gosip akan jauh lebih kuat dibanding ketika orang membagi hal-hal yang positif, demikian dikatakan Begue. Dan yang lebih parah, gosip itu bagaikan candu. Sekali melakukannya, kita akan terus bergosip karena tidak puas jika hanya bergosip sekali.

Tetapi, gosip, bagaimana pun tak sepenuhnya bersifat negatif. Bagi anak-anak, bergosip akan membantu ia bersosialisasi. Bukan berarti, ia harus menjadi penyebar gosip agar diterima oleh lingkunganya, lho (meski ada juga yang melakukannya dengan tujuan seperti itu!). Dengan ikut bergosip, anak akan tahu perilaku apa yang bisa diterima oleh lingkungan (teman-teman suka memuji teman lain meski si teman yang dipuji tak ada bersama mereka!) dan perilaku yang tak bisa diterima oleh lingkungan (teman-teman selalu menjelek-jelekkan perilaku salah satu teman!).

Tak hanya itu, lama-kelamaan anak juga akan tahu mana teman yang setia dan mana teman yang sukanya hanya mencari kejelekan teman lain. Anak tahu mana teman yang bisa dipercaya ketika ia ingin berbagi rahasia, dan mana teman yang ia harus menjaga jarak dan berhati-hati darinya. Ketika bergosip dengan aman —tidak membicarakan keburukan orang lain dan dilakukan oleh teman yang bisa dipercaya— anak juga akan membangun hubungan yang lebih dekat dengan teman-temannya. Inilah yang membuat gosip sebenarnya bisa menjadi ajang bersosialisasi bagi anak.

Gosip Membuat Anak Populer?
Anda mungkin tak setuju dengan kalimat di atas, bahwa gosip bisa membuat anak menjadi popular. Tapi, sebuah penelitian yang dilakukan Kristina McDonald, Ph.D. di Duke University, menunjukkan bahwa pada usia ini memang itulah yang terjadi. Anak-anak yang bergosip ternyata lebih disukai oleh teman-temannya dan memiliki persahabatan yang lebih akrab dibanding anak-anak yang tidak bergosip.

Masalahnya, anak-anak di kelas 4 SD tampaknya sudah tahu tentang fakta ini. Hal ini diamini oleh Lucky Palupi, guru di SD Kembang, Jakarta, yang menganggap anak-anak di sekolahnya bergosip hanya karena mereka bangga dianggap menjadi orang yang lebih tahu, atau pertama kali tahu. Bahkan, kalaupun yang mereka gosipkan sebenarnya adalah asumsi yang belum dipastikan kebenarannya, mereka melakukannya karena sok tahu, bukan dengan niat menyakiti.

Sebagai orang tua, Anda mungkin bisa mengajarkan anak bergosip mengenai hal-hal yang baik-baik saja. Katakan kepada anak, “Kalau kamu ingin populer karena menjadi orang yang pertama kali tahu sesuatu, mengapa tak kamu manfaatkan mencari berita-berita aktual terhangat untuk diceritakan kepada teman-temanmu?” Atau, ia bisa saja bergosip soal selebritas yang sedang naik daun atau jadi favorit teman-temannya. Dengan begitu, ia tak berisiko menyakiti perasaan teman-temannya, atau siapapun. (foto: 123rf)

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Anak Bergosip Tak Selalu Negatif, Ini Alasannya!