Bolehkah Membantu Anak Mengerjakan PR?


“Ma, soal ini bagaimana menyelesaikannya, sih?” kata Erika (9) suatu malam, sambil menunjukkan soal pecahan matematika kepada mamanya. Jandi, sang mama, buru-buru menghampiri putrinya, dan tak lama lembar kerja Erika telah terisi oleh jawaban yang ditulis mama.

Kata Jandi, “Kalaupun saya mau menerangkan tentang pecahan kepada Erika, saya bingung harus pakai cara apa. Jangan-jangan, cara yang saya ajarkan nanti malah berbeda dengan yang diajarkan gurunya di sekolah.” Itulah ‘tantangan’ yang harus dihadapi para mama masa kini.

Tingkat kesulitan PR konon semakin naik dibanding zaman kita sekolah dulu. Ditambah lagi, harapan kita para orang tua dan guru terhadap anak-anak saat ini semakin tinggi (kalau bisa, kelas 1 SD sudah bisa hapal daftar perkalian 1 sampai 10!). Dan, ketika sudah siap menjadi mentor si kecil, mama masih harus ‘bersaing’ dengan para pengganggu di rumah, seperti tablet, smartphone, dan TV.

Lalu, bagaimana mama harus menyikapi si kecil yang kerap kesulitan dengan pekerjaan rumahnya? Seperti dikatakan Cathy Vatterott, Ph.D., profesor pendidikan di University of Missouri-St. Louis AS, sekaligus pendiri situs pendidikan HomeworkLady. com, “Tujuan dari pekerjaan rumah adalah membantu anak-anak menjadi pembelajar mandiri.” Tapi memang tak mudah, sih. Anda tak bisa juga berharap si kecil akan otomatis mengerjakan PR tepat waktu dengan sendirinya dan menyelesaikan semua dengan sempurna.

Nah, beberapa taktik sederhana berikut mungkin bisa Anda coba jalankan agar proses mengerjakan PR berjalan lancar baik bagi si kecil maupun Anda.

Ciptakan rutinitas untuk setiap anak
Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah meminta pendapat anak mengenai waktu, tempat, dan cara yang ia mau untuk menyelesaikan tugas atau PR-nya. “Tanyakan apakah ia memiliki ide untuk membuat pekerjaan rumah lebih mudah dilakukan,” saran Deborah Stipek, Ph.D., dekan Stanford University Graduate School of Education.

Atau, tawarkan saran. Misalnya, “Kamu mau mengerjakan PR di ayunan di halaman belakang?” Atau “Apakah Mama perlu membuatkan camilan kesukaanmu?”

Bila ada lebih dari satu anak di rumah Anda, biarkan mereka menciptakan rutinitasnya masing-masing. Misalnya, ada anak yang duduk di lantai, di tempat tidur, dan ada yang di meja makan. Sementara itu, pastikan Anda berada di dekat anak sambil mengerjakan sesuatu hal yang lain (dengan begitu, anak tidak akan merasa seperti sedang diawasai mama!).

Satu hal yang perlu Anda ingat, cobalah bersikap ‘kejam’ dengan tidak memberikan screening time (main gadget, nonton TV, dsb) kepada anak sampai tugasnya selesai.

“Kebijakan ini akan mengirimkan pesan tersirat kepada anak bahwa ia hanya bisa nonton TV atau memegang gadget kembali jika PR-nya sudah selesai,” kata Stephanie Donaldson-Pressman, direktur klinis dari New England Center for Pediatric Psychology, AS. Dan, tetapkan aturan ini sejak awal tahun ajaran, terutama jika Anda telah membiarkannya terlalu santai selama liburan.

Berada di dekat anak untuk memantau
PR memungkinkan guru mengidentifikasi apa yang siswa telah serap di kelas, jadi jangan pernah mengubah PR menjadi tugas buat Anda, Ma.

“Kami ingin melihat kesalahan,” kata Matt Vaccaro, seorang guru kelas satu SD di Locust Valley, New York, AS. Tidak semua anak-anak suka dengan PR, sehingga Anda sebaiknya tidak melakukan ‘brain wash’ kepada anak bahwa mereka harus selalu memberi jawaban benar
di PR-nya.

Donaldson-Pressman menyarankan hal ini: “Katakan kepada anak, mereka dapat bertanya pada Anda maksimal tiga soal setiap malam, dan selebihnya adalah tugas mereka mencari tahu sendiri jawabannya.

Atau, lingkari soal yang tidak bisa dikerjakannya untuk ditunjukkan kepada guru keesokan harinya.” Ketika si kecil bertanya kepada Anda tentang sebuah soal, tanyakan, “Apakah kamu benar-benar ingin menggunakan jatah ‘bertanya’ malam ini untuk soal itu?” Hal ini untuk membantu meyakinkan diri bahwa anak memang benar-benar membutuhkan bantuan Anda, ataukah hanya sekadar malas mencari jawaban.

Atau, Anda juga bisa katakan kepada anak bahwa Anda sedang di tengah-tengah melakukan sesuatu, dan akan membantunya setelah Anda selesai dengan tugas Anda sendiri (meskipun mungkin sebenarnya Anda tidak sedang melakukan sesuatu hal yang penting!).

“Semakin lama Anda membuat anak menunggu, semakin besar kemungkinan anak akan membaca kembali petunjuk pengerjaan atau materi yang berkaitan dengan soal PR,” kata Jessica Lahey, guru bahasa Inggris di sekolah menengah sekaligus penulis The Gift of Failure: How the Best Parents Learn to Let Go So Their Children Can Succeed.

 
Satu hal lagi yang perlu Anda ingat, karena pekerjaan rumah juga memberi pelajaran soal manajemen waktu kepada anak, jangan biarkan anak Anda melakukannya tanpa batas. National Education Association merekomendasikan pertambahan waktu 10 menit untuk setiap tingkatan. Artinya, anak kelas 1 SD mendapat jatah mengerjakan PR selama 10 menit, kelas 2 selama 20 menit, kelas 3 selama 30 menit, dst.

Awasi waktunya, Ma! Jika anak Anda telah berupaya maksimal mengerjakan PR namun ada soal yang belum dapat diselesaikannya, mintalah ia untuk menutup bukunya dan tuliskan catatan untuk guru mengenai upaya yang sudah anak lakukan.


Baca juga:
IQ Anak Tinggi Tapi Tidak Pandai Matematika

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia