Dampak Negatif Mengancam Anak

Ingin tahu apa yang salah dari sikap kita sehingga anak tidak mau mendengarkan? Mengancam, lalu Anda tidak bertindak apapun.


“Setiap kali anak saya, Narendra (4), memilih mainan yang disukainya, Rachel (4), teman mainnya, selalu merebut mainan tersebut. Mama Rachel berteriak ‘Rachel, kembalikan!’ tapi kemudian berpaling lagi untuk ngobrol dengan ibu-ibu lainnya. Akhirnya Rachel pun mengulangi aksinya,” cerita Dwi Ariana dari Malang. 


Cara yang lebih baik: Menurut Bridget Barnes, salah seorang penulis buku Common Sense Parenting for Toddlers and Preschoolers, memang tidak menyenangkan bila kita jadi ‘si jahat’. Namun bila anak mulai bertingkah, harus ada konsekuensi dari tindakannya.


Kata-kata yang diucapkan berulang kali seperti, “Kalau kamu tetap melempar-lempar pasir seperti itu, aku akan mengeluarkanmu dari kotak pasir!”, tidak akan menghentikan kebiasaan buruknya.


Apa yang anak dengar adalah “Aku masih bisa melakukan ini beberapa lama sampai Mama benar-benar menyuruhku berhenti.” Lebih baik berikan peringatan pada anak, lalu bila anak masih melakukannya segera berikan konsekuensi langsung seperti waktu time-out. Jika anak masih saja tidak berhenti, ajak dia pulang.


Di lain waktu ia mengulangnya lagi, sedikit kata-kata bisa mengingatkannya: “Ingat nggak waktu Mama harus mengajakmu pulang gara-gara kamu melempar-lempar pasir? Mama harap kita tak harus pulang cepat lagi hari ini.”


 





Video

The Power Duo Business + Parenthood


Polling

Dampak Negatif Mengancam Anak

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia