Jangan Abaikan 3 Masalah Gigi Susu Ini!


 

Dr. Eva Fauziah, drg, Sp.KGA (K), Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Pengurus Daerah DKI Jakarta, menyayangkan bahwa masih banyak orang tua yang menyepelekan perawatan terhadap gigi susu atau gigi sulung anak. “Ah, cuma gigi susu. Nanti juga ganti,” ujarnya.


Padahal, menurutnya kesehatan gigi dan mulut anak harus diperhatikan bahkan sejak tumbuhnya gigi sulung pertama mereka. Sebab, Dr. Eva menjelaskan bahwa benih gigi tetap tepat berada di bawah gigi sulung, sehingga ketika ada sesuatu yang terjadi dengan gigi sulung, maka akan berdampak juga ke gigi tetap.


Ada beberapa masalah gigi sulung atau gigi susu yang sebaiknya tidak diabaikan oleh orang tua antara lain:
 

1. Gigi Susu Tumbuh Rapat

Ini mungkin hal yang aneh untuk Anda. Bukankah gigi yang tumbuh rapat berjajar itu bagus? Malahan, gigi yang demikian sering jadi kebanggaan para ibu.
 

Ternyata, gigi susu yang tumbuh terlalu rapat dapat memengaruhi pertumbuhan gigi dewasanya. Dr. Eva menjelaskan bahwa gigi sulung dan gigi permanen memiliki ukuran yang berbeda. “Gigi sulung kecil-kecil. Gigi dewasa itu (ukurannya) dua kali dari gigi sulung,” katanya. Sehingga, ketika gigi sulung terlalu rapat, maka bisa jadi tidak ada ruang yang cukup ketika ada gigi dewasa muncul. Akhirnya gigi anak pun jadi berjejalan tidak rapi.
 

Karenanya, Dr. Eva menyarankan orang tua untuk rutin membawa anak-anak kontrol ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali untuk selalu memantau pertumbuhan giginya.
 

2. Karies

Pernah melihat gigi anak berwarna kehitaman atau kecokelatan? Banyak yang menyebutnya sebagai gigis. Bila empat gigi depan anak memiliki bercak hitam atau cokelat, ini adalah kondisi di mana anak mengalami childhood caries. Sebetulnya, pada saat itu, kondisi gigi anak bukan lagi hanya terdapat bercak, melainkan ada lubang kecil-kecil di bagian depan gigi.
 

Nah, karies ini disebutkan oleh Dr. Eva sering disebabkan oleh penggunaan dot. “Enak, nih, malam hari anak mau tidur, dikasih dot,” ujarnya. Akan tetapi, Dr. Eva menjelaskan, “Dot itu, kan, mengalirkan susu atau minuman manis, tergenang di mulut.” Sementara, malam hari kemampuan saliva untuk membersihkan sisa-sisa makanan atau minuman di mulut berkurang. Sisa minuman dari dot yang manis ini ketika bertemu dengan gigi yang asam maka akan mempercepat pembentukan lubang.
 

Gigi karies apabila tidak segera ditangani juga bisa berdampak ke pencabutan gigi. “Kalau sudah pencabutan, si gigi tetap nanti tumbuhnya akan nggak ada arah, akhirnya jadi berantakan,” ujarnya.
 

3. Patah atau Lepas Karena Jatuh

Yah, gigi si kecil patah atau lepas karena jatuh. Anda mungkin tidak akan terlalu khawatir ketika tidak terjadi perdarahan yang hebat. Lebih-lebih bila si kecil memang tidak menampakkan kesakitan. Padahal, menurut Dr. Eva, ketika ada gigi yang patah atau lepas karena kecelakaan, maka sebaiknya diperiksakan ke dokter gigi anak.
 

Sebab, gigi yang patah atau lepas bisa berpengaruh ke saraf maupun berisiko mengalami infeksi. Apabila dua hal ini sudah terjadi, maka anak akan merasa sakit sehingga tidak mau makan.
 

Selain itu, gigi susu yang lepas juga bisa memengaruhi pertumbuhan gigi tetap jadi berantakan. “Gigi susu memberikan arah ke gigi tetap. Kalau dia hilang, maka tak ada arah,” ujar Dr. Eva.
 

Dr. Eva dan rekan-rekannya sendiri mengaku terus mengampanyekan pada orang tua bahwa gigi susu anak sekali pun nanti akan lepas dan ganti yang baru, harus tetap dilakukan perawatan. “Jangan sampai menyepelekan, ah, cuma gigi susu,” tandasnya.

 

Baca juga:

Kapan Gigi Susu Tumbuh?

Merawat Gigi Susu

Perawatan Gigi Susu yang Baik Akan Mencegah Karies

Peralihan Gigi Susu Jadi Gigi Tetap

Gigi Susu Bermasalah, Perlukan Makan Sesuatu?

 

(LELA LATIFA)

FOTO: FREEPIK

 





Video

The Power Duo Business + Parenthood


Polling

Jangan Abaikan 3 Masalah Gigi Susu Ini!

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia