Mengajarkan Anak Minta Bantuan Berdasarkan Tipenya


Mengetahui kapan dan bagaimana meminta bantuan adalah keterampilan hidup yang sangat penting bagi anak-anak. Sayangnya, menurut Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., psikolog anak dan ahli parenting di Pricenton, New Jersey, AS, tidak semua anak memiliki kemampuan tersebut.
 
Ia memaparkan bahwa anak-anak seringkali memiliki kesulitan untuk mengomunikasikan apa yang mereka butuhkan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kebingungan mereka sendiri memahami perasaan mereka. “Mereka mungkin juga memiliki keyakinan yang membuat mereka menghindari meminta bantuan atau bertanya terlalu sering atau pada waktu yang tidak tepat,” ujarnya.
 
Berikut ini Eileen memberikan panduan bagi orang tua untuk mengajarkan anak meminta bantuan dengan cara yang tepat melalui bagi 4 tipe anak berikut ini:


1. Anak yang Mudah Frustasi

Beberapa anak memiliki toleransi yang rendah untuk menghadapi frustasi. Mereka ini adalah anak-anak yang bisa dibilang memiliki daya juang yang mudah dipatahkan. Begitu menghadapi kesulitan, mereka bisa saja lansung menyerah, bahkan tanpa berupaya minta bantuan terlebih dahulu. Mengajarkan mereka meminta bantuan saat kesulitan akan membantu mereka untuk tidak menyerah sejak awal jalan.
 
Reaksi umum: Anak-anak tipe ini akan sangat mudah terjebak pada reaksi, “Aku menyerah. Ini terlalu sulit.”
 
Cara: Anda bisa mengajarkan mereka untuk mengatakan “Aku sudah mencoba … dan …, tetapi masih belum bisa. Bisakah Mama/Papa membantu?”
Mengapa penting untuk menekankan kata ‘mencoba’? Ini bertujuan untuk mengarahkan mereka mencoba beberapa cara sebelum menyerah. Misal, saat mengerjakan PR, Anda bisa mengarahka mereka kembali untuk membaca ulang instruksi soal, menggaris bawahi atau melingkari kata kunci, dan melihat contoh kembali. Bila mereka belum dapat menyelesaikan, maka beritahu bahwa Anda siap membantu bila ia meminta bantuan


2. Anak yang Tak Percaya Diri

Beberapa anak langsung menilai diri mereka sebagai orang yang tidak mampu ketika mereka tidak berhasil menyelesaikan hal ini. Mereka akan mendramatisir berlebihan ketidak mampuan tersebut. Ini dapat mengikis kepercayaan diri mereka sendiri. Mendorong mereka untuk belajar minta bantuan adalah cara yang baik untuk menghentikan sikap tersebut.
 
Reaksi Umum: Anak-anak tipe ini akan sangat mudah terjebak pada reaksi, “Aku tidak bisa melakukan ini! Aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar!"
 
Cara: Anda bisa mengajarkan mereka untuk mengatakan, “Aku bisa …, tapi aku tidak tahu caranya … Bisakah Mama/Papa bantu menjelaskan?"
Kalimat ini penting diajarkan untuk membuat ia paham bahwa tetap ada hal yang mampu ia pahami/lakukan, walaupun ada hal yang ia tidak bisa. Ini adalah poin penting agar ia tidak terus menerus merasa tidak percaya diri karena tidak mampu mengerjakan apa pun.


3. Anak yang Perfeksionis

Beberapa anak meyakini bahwa meminta bantuan adalah tanda bahwa mereka tidak kompeten. Anak-anak perfeksionis berpikir mereka perlu melakukan semuanya sendiri. Ini menyebabkan mereka menderita. Jelaskan bahwa menolak untuk meminta bantuan tidak membuat mereka terlihat mengagumkan, itu hanya pertanda bahwa mereka tidak fleksibel.
 
Reaksi Umum: Anak-anak tipe ini akan sangat mudah terjebak pada reaksi, “Aku tidak mau dibantu! Aku seharusnya bisa mengerjakan ini sendiri.”
 
Cara: Anda bisa mengajarkan mereka untuk mengatakan, “Ini yang sudah aku rencanakan. Apa Mama/Papa punya saran?  Bila ada, bantu beritahu aku."
Penting bagi anak perfeksionis untuk diapresiasi idenya terlebih dahulu. Karena, mereka selalu punya rencana sendiri. Namun, Anak-anak yang perfeksionis sering kali memiliki ide muluk tentang apa yang ingin mereka lakukan. Di sinilah ia butuh bantuan untuk meluruskan rencananya.


4. Anak yang Kewalahan

Kadang-kadang anak-anak menjadi begitu kewalahan oleh perasaan frustrasi atau ketidak mampuan mereka. Biasanya mereka akan mengakhiri dengan tangisan atau menghancurkan pekerjaannya. Anak-anak ini perlu belajar untuk beristirahat sebelum itu terjadi. Meski ini bukan bentuk meminta bantuan, ini adalah bentuk advokasi diri yang penting. Anak-anak ini tidak akan dapat memproses segala jenis saran atau instruksi yang bermanfaat sampai mereka tenang.
 
Reaksi Umum: Anak-anak tipe ini akan sangat mudah terjebak pada reaksi, “Tidak ada gunanya” atau berteriak “huaaa…” sambil menangis dan merusak apa yang mereka kerjakan.
 
Cara: Anda bisa mencoba menyarankannya untuk beristirahat dengan menanyakan, “Apa kamu merasa kewalahan?” Arahkan mereka untuk mengatakan, “Aku kewalahan. Tolong Mama atau Papa tidak mengganggu dulu. Aku mau istirahat sebentar sebelum memulai lagi.”
 
Tidak apa untuk Anda berjarak dulu darinya. Dengan ini, mereka dapat mempelajari beberapa strategi penenangan diri seperti pernapasan lambat dan dalam, dan berpikir dengan jernih. Ingatlah bahwa istirahat bukan jalan keluar. Jadi, pastikan ia memahami bahwa ia hanya boleh mendapatkan jeda istrirahat sekian menit sebelum memulai lagi.
 
Baca juga:
Anak Malas Belajar, Perlukah Cari Bantuan?
Anak Percaya Diri atau Tidak?
Orang Tua Percaya Diri = Anak Percaya Diri
Membangun Rasa Percaya Diri Anak
Pelukan Tingkatkan Percaya Diri Anak
 
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: PIXABAY

 
 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia