Perlukah Pelajaran Politik di Sekolah?

 

Najeela Shihab, pendidik sekaligus pendiri Keluarga Kita, organisasi yang fokus pada pendidikan keluarga dan pengasuhan menyoroti kurangnya kurikulum perpolitikan di sekolah. “Kurikulum perpolitikan di sekolah sangat kurang ya, atau bisa dibilang tidak ada,” tuturnya.
 
Ela, sapaan akrabnya melanjutkan dengan menjelaskan beberapa masalah berkaitan dengan kurikulum perpolitikan di sekolah, “Jangan-jangan sekolah selain tidak punya, justru info yang disampaikan juga salah, misalnya saja soal politik berkaitan dengan sejarah.” Ela menilai bahwa masih banyak materi tentang kebenaran yang berat sebelah dan dipengaruhi oleh ideologi sekolah juga.
 
Untuk Kelas Berapa?
Menurutnya, anak-anak usia 6-12 tahun atau usia SD sudah bisa menerima materi tentang politik. “Hanya saja untuk menjelaskan tentang politik itu harus disesuaikan dengan perkembangan anak. Karena tidak mungkin anak kelas 3 SD punya pemahaman yang sama dengan anak kelas 3 SMP atau 3 SMA,” tegasnya. Oleh karenanya, kurikulum perpolitikan menurut Najeela harus benar-benar direncanakan dan terstruktur sesuai dengan usia peserta didik.
 
Belajar Apa?
Ela menjelaskan bahwa kurikulum perpolitikan bukan berarti berisi pelajaran tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, bagaimana cara menjadi politisi, atau bagaimana sistem politik di Indonesia sekarang. “Sebetulnya kita tidak harus menyebut itu dengan gamblang sebagai politik begitu. Tidak juga harus ada mata pelajaran politik. Yang perlu kita lakukan adalah menyampaikan materi yang berkaitan dengan pengetahuan serta keterampilan yang ingin ditumbuhkan sejak kecil. Dan, itu bisa dimasukkan ke banyak pelajaran lain.”
 
Menurut Ela, untuk anak usia SD, pelajaran politik yang bisa disampaikan antara lain adalah tentang nilai-nilai integritas, pembagian peran, kerjasama, tanggung jawab, keadilan, atau tentang hak warga negara. Ia menambahkan bahwa materi ini bisa dicontohkan di berbagai pelajaran. “Jadi nggak harus di mata pelajaran IPS, ya. Mata pelajaran IPA juga bisa sekali, jadi jalan masuk untuk bahas politik. Misalnya saja, isu tentang lingkungan seperti siapa saja yang dapat akses ke air bersih,” tuturnya.
 
Manfaatnya
Menurut Ela, kurikulum perpolitikan bila diberikan sejak dini dapat memberikan pondasi yang kuat bagi kehidupan anak-anak dan nilai-nilai positif. Tentunya, hal tersebut akan menjadi bekal yang baik untuk mereka di kehidupan berdemokrasi kelak.
 
Baca juga:
Melindungi Anak dari Informasi Negatif Menjelang Pemilu (Bagian 1)
Melindungi Anak dari Informasi Negatif Menjelang Pemilu (Bagian 2)
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 1)
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 2)
Politik Pilkada Mengancam Rasa Toleransi Anak
Ajari Anak Pendidikan Politik
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: SHUTTERSTOCK, FREEPIK
 

 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia