Politik Pilkada Mengancam Rasa Toleransi Anak



Menyambut Pilkada DKI Jakarta putaran final pada 19 April 2017 mendatang, partai politik pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari dua kubu berbeda makin gencar melakukan aksi kampanye, mulai dari orasi atau debat politik terbuka, tulisan di media sosial maupun website, hingga spanduk super besar di berbagai sudut jalan ibu kota.

Sayang, isu seputar suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) tak ketinggalan mewarnai kegiatan kampanye tersebut. Sejumlah aksi unjuk rasa dan ceramah pemuka agama menyuarakan ketidaksukaan terhadap suku, agama, dan ras tertentu, yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal di masyarakat.

Dan kondisi tersebut tak hanya memengaruhi orang dewasa, lho, Ma. Anak-anak pun bisa terdampak. Dilansir dari femina.co.id, Prof. Irwanto, Ph.D., dari Pusat Kajian Perlindungan Anak (PUSKAPA), menjelaskan bahwa bagi orang dewasa, konflik Pilkada ini hanya berlangsung sementara, tetapi tidak halnya bagi anak-anak. Kata-kata kasar dan kekerasan yang dilihat dan didengar anak-anak akan tetap tertanam dalam pikiran mereka. Itu bisa menjadi bibit radikalisme yang akan mengancam bangsa, jika terus dibiarkan.

Konflik politik Pilkada yang mengabaikan kebhinekaan sangat memengaruhi perilaku anak, terutama terkait dengan pemahaman nilai-nilai tolerasinya. “Anak tidak memiliki hak dalam kegiatan politik, maka lebih baik tidak melibatkan mereka di dalamnya. Pemahaman anak belum cukup untuk menyaring hal yang baik dan buruk, yang ia lihat dari kegiatan politik,” kata Irma Gustiana Andriani, M.Psi, psikolog anak dari Irma and Co. Child & Family Psychological Services.

Ia menambahkan, dampak buruk lain yang akan muncul ketika anak terlibat aksi politik adalah hilangnya rasa empati. Anak pun jadi cenderung memilih-milih teman berdasarkan kesamaan yang dimiliki, seperti agama, suku, atau kelas sosial lain. Perilaku meniru kekerasan juga mungkin muncul, ketika ada seseorang yang berlainan pendapat dengan anak.

Untuk menantisipasi hal tersebut, menurut Irma, sebaiknya orang tua sejak dini memberikan pengertian tentang pentingnya rasa toleransi kepada anak. Anda bisa mulai melakukannya dengan terlebih dahulu mengoreksi diri Anda sendiri. Terkadang, kita tidak menyadari celaan atau makian yang terlepas ketika sedang menyaksikan tanyangan kampanye politik partai yang bukan menjadi jagoan kita. Ingat, Ma, anak meniru perilaku kita sebagai orang tuanya.

Jika anak terlanjur mendapat pengaruh dari luar, maka berilah ia pengertian bahwa sesama manusia harus saling menyayangi, menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Selalu ingatkan anak juga bahwa kebersamaan akan lebih menyenangkan dibandingkan hanya bergaul dengan satu kelompok saja.

Bagi anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah, Irma berbagi tip berikut untuk mengajarkan mereka toleransi:

 
  1. Libatkan anak dalam kegiatan yang menumbuhkan nasionalisme dan kebhinekaan, seperti peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, Sumpah Pemuda atau Kartini. Dengan ikut memakai baju daerah dan menyanyikan lagu daerah, secara tidak langsung anak akan mengerti bahwa ada banyak suku dan budaya di Indonesia.
  2. Piknik edukatif. Anda bisa mengajak anak ke Taman Mini Indonesia Indah, misalnya, dan memperlihatkan rumah adat dari berbagai suku di Indonesia. Anda juga bisa mengajak anak ke wahana Istana Boneka di Dunia Fantasi. Di tempat-tempat semacam itu, anak akan belajar lebih banyak tentang perbedaan. Bukan hanya di Indonesia saja yang memiliki banyak suku, tetapi di dunia pun ada begitu banyak suku bangsa. Berikan pengajaraan dengan pemaknaan keanekaragaman.
  3. Mulai ajarkan toleransi dari rumah, lewat hal sederhana. Misalnya, dengan meminta anak membantu Anda, kakak atau adiknya mengerjakan sesuatu. Bantu anak mengerti bahwa setiap orang memiliki tugas berbeda, dan menolong merupakan hal baik yang bisa membuat orang lain bahagia.

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia