Let's Vacay!
Sudah punya rencana liburan akhir tahun ini? Wisata apa yang jadi pilihan keluarga Anda?
Jelajah Museum
Bermain di Pantai
Liburan di Pegunungan
Wisata Belanja
Wisata Kuliner

Anak Tak Mau Sikat Gigi? Ini Triknya!

Memiliki balita terasa indah saat memperhatikan tahap demi tahap pertumbuhannya. Sebaliknya, terasa berat untuk menerima kenyataan bahwa mereka juga memiliki kebiasaan yang seringkali berseberangan dengan keinginan orangtua.

Kabar baiknya, sikap melawan tidak hanya pertanda balita Anda normal, tapi juga sehat. Berarti ia sedang mengasah rasa percaya diri dan kemandiriannya. Berikut beberapa trik agar anak bersedia berubah (tidak instan ya, Ma) berdasar pada tingkat kebutuhan :

1. Anak menolak sikat gigi
Perlu dilawan? Tergantung.

Kesadaran untuk membersihkan gigi perlu diajarkan sejak kecil. Dokter gigi anak merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari dan orangtua membantu mereka setidaknya hingga anak berusia 5 atau 6 tahun. Namun ketika anak sudah agak bisa menggosok gigi dan berkumur, tak apa juga mereka dibiarkan merasa ‘besar’ dan mandiri. Masih lebih baik daripada tidak menggosok sama sekali.

Jika mereka masih juga menolak menggosok gigi, Anda bisa mulai dengan ‘menjual' nama dokter. Biasanya manjur untuk bilang “Kata Om Dokter kamu harus gosok gigi”.  

2. Anak menolak bersalaman dengan kakek dan nenek
Perlu dilawan? Tidak terlalu.

Walaupun hal ini penting bagi banyak keluarga, memaksakan balita melakukannya (ketika tidak mau) masih belum perlu. Mereka belum mengerti sepenuhnya nilai dan norma. Anda bisa mulai mengenalkan kebiasaan ini dengan memberi contoh lebih dulu.

Saat bertemu kakek dan neneknya (ataupun kerabat lain yang lebih tua), Anda bisa terlebih dulu memberi salam. Jika ini jadi kebiasaan Anda, lama- kelamaan ia juga akan meniru Anda.

3. Anak menolak makan sayur.
Perlu dilawan ? sedikit.

Masa balita seringkali merupakan periode pilih-pilih makanan paling ekstrem. Bila anak Anda memboikot sayuran, jangan panik dulu. Tanpa diduga, setelah beberapa waktu pilihan makanan mereka tetap bisa seimbang, kata Marilyn Tanner-Blasiar, R.D., ahli diet khusus anak-anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington.

Tapi, bukan berarti Mama tidak mengenalkan rasa makanan hijau (dan merah, oranye, kuning) kepada mereka.  Karena umumnya rasa sayur lebih kuat jika dimasak, coba tawarkan ketika mentah atau direbus saja. Wortel dipotong ala korek api, edamame atau brokoli dicelup saus cukup disukai banyak anak. Untuk penyeimbang diet, perbanyak buah terutama yang kadar vitamin A dan C-nya tinggi seperti melon, aprikot, mangga, jeruk dan stroberi. (Fina Khairaty/Foto: dok. Feminagroup)

Baca juga: Mengenali Karakter Anak


   Komentar

  
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti kamu telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
 
   Kirim ke Teman


 
200 karakter tersedia
** Jika sudah login, email akan terkirim dengan nama anda.
 



Home | Hamil | Bayi | Balita | Usia Sekolah (5-12) | Dunia Mama | Acara Parenting | Berlangganan | Privacy Policy & Disclaimer | Terms & Condition

2004 - 2014 Hak cipta oleh majalah Parenting
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/meng-copy isi website tanpa seijin pihak Femina Group
Tampilan terbaik gunakan IE 7+ / Mozilla Firefox 3+