Latih Anak Berbahasa

Banyak orangtua menyepelekan gangguan bicara yang terjadi pada anak. Jika tidak dilatih berbahasa sejak dini, maka dapat mempengaruhi kemampuan anak berkomunikasi dan membuatnya tidak mengerti apa yang dikomunikasikan oleh orang lain. Padahal, bahasa dan bicara adalah bagian dari komunikasi yang kita gunakan untuk saling bertukar informasi, perasaan, keinginan, dan bermacam-macam pikiran.

Menurut Evi Sabir Gitawan, BSc, Terapis Wicara di Pusat Terapi Anak Kalilam, jika anak masih mengucapkan ‘pintu’ terdengar menjadi ‘pitu’ dan ‘nanas’ menjadi ‘a-as’ ketika ia berusia 3,5 tahun, Anda patut untuk waspada. Huruf konsonan P dan N seharusnya sudah dapat diucapkan dengan jelas oleh anak berusia 3 tahun. Namun jangan panik ketika anak mengucapkan ‘rumah’ menjadi ‘lumah’, ‘sapu’ menjadi ‘apu’ disaat ia berusia 3 tahun, ya, Ma. Konsonan R seharusnya dapat diucapkan dengan jelas oleh anak berusia 4 tahun dan 4,5 tahun untuk huruf konsonan S.

Adapun penyebab anak mengalami gangguan bicara dapat datang dari orangtua sendiri. Seringkali orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya berbicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban yang sangat singkat.

Selain itu, gangguan bicara juga dapat timbul bila anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh yang kurang mengerti pentingnya kemampuan bicara dan berbahasa anak. Ditambah lagi, banyak batita yang ditinggal dengan pengasuhnya dan hanya menonton TV sepanjang hari, dimana cenderung akan menjadikan anak sebagai pendengar pasif, tanpa bisa mencerna dan memproses informasi yang masuk.

Jika terus dibiarkan, kemungkinan besar dapat membuat anak tidak nyaman untuk bergabung dengan teman-temannya dan sulit untuk menerima pemahaman dalam proses pembelajaran di sekolah.

Lebih jauh lagi, jika gangguan bicara terus berlanjut sampai menghambat komunikasi, maka akan mengganggu banyak aspek lain juga lho, Ma. Gangguan komunikasi yang paling sering terjadi pada anak adalah kesulitan belajar karena permasalahan bahasa (language-based disabilities), attention deficit disorder (ADD), attention deficit hyperactive disorder (ADHD), cerebral palsy, gangguan mental, bibir sumbing (cleft lip atau palete), dan autism spectrum disorders (ASD).

Oleh sebab itu, ayo, Ma, mulai giat latih anak berbahasa. Mama bisa mencoba menyebutkan nama-nama benda di sekitar atau dengan buku bergambar atau mainan kesukaannya.

Jika Mama dan papa bekerja, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memasukkan anak ke babygroup atau playgroup. Dengan begitu, anak tetap mendapatkan stimulasi optimal karena ia berinteraksi dengan banyak orang seperti guru, teman-teman sebaya, dan juga berbagai macam mainan.

Bila masih merasa butuh bantuan lebih, Mama juga bisa memaksimalkan kemampuan berbahasa anak dengan membawanya ke psikolog atau terapis wicara. Walaupun cara ini tidak akan sepenuhnya ‘menyembuhkan’ anak, namun tetap dapat membantu mengatasi masalah keterlambatan anak dalam berbicara.

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia