Bila Jam Kerja Wanita Dikurangi

Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menggulirkan wacana pengurangan jam kerja bagi pekerja wanita. Wapres berharap instansi pemerintah dan swasta mengizinkan para mama yang memiliki anak di bawah usia 6 tahun untuk bisa masuk kerja 1 jam lebih lambat dan pulang 1 jam lebih awal. Dengan begitu, para mama masih ada waktu untuk mendidik dan merawat anak-anaknya di masa emas tumbuh kembang mereka.

Tentu saja muncul pro dan kontra atas imbauan Wapres tersebut. Kalangan yang tidak setuju menganggap kebijakan itu akan menghambat peluang karier para mama karena perusahaan akan lebih memilih karyawan laki-laki yang jam kerjanya bisa lebih lama. Sedangkan kalangan yang setuju menganggap kebijakan itu bisa membuat para mama lebih mudah menyeimbangkan antara keluarga (terutama anak) dan karier.

Ya, hidup dan bekerja di kota-kota besar yang padat, sibuk dan macet memang membuat mama-papa sering kali harus berjuang keras untuk menyediakan waktu bagi si kecil. Jam kerja yang fleksibel bagi mama maupun papa tentu sangat membantu, apalagi kalau kemacetan bisa dikurangi. Mama-papa tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk berangkat dan pulang kerja sehingga waktu bersama anak juga bisa lebih banyak.

Meski pemerintah masih mengkaji imbauan tersebut, beberapa instansi, pemkot dan pemda mengaku siap menerapkan pengurangan jam kerja para mama. Bagaimana dengan kantor Anda, Ma? Termasuk yang pro atau kontra?

Apa Kata Mama?

Saya tidak setuju, karena posisi tawar perempuan di dunia kerja jadi turun. Lebih baik maternity leave dipanjangkan, misalnya menjadi 6 bulan, sehingga bayi bisa lulus ASI eksklusif. Masalah lainnya bisa muncul di antara rekan kerja, bisa saja ini dianggap tidak adil oleh rekan-rekan yang masih single.  
Nur Kusumawardhani, desainer grafis, mama dari Marsha (6)

Kebijakan ini ‘nggak penting’ menurut saya. Lebih baik pemerintah membuat kebijakan yang lebih mendukung dan berpihak kepada para mama yang bekerja dan harus meninggalkan anak-anaknya di rumah. Misalnya, membuat regulasi di mana setiap perusahaan harus menyediakan childcare. Pengurangan jam kerja juga bisa berdampak pada pengurangan pendapatan, terutama jika itu diterapkan kepada pekerja yang digaji berdasarkan jumlah jam kerja. Padahal sekarang makin banyak mama yang menjadi tulang punggung keluarga atau single mom.  
Leila Safira, editor in chief, mama dari Yoko (8)

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia