Kenali Ciri Berita Hoax


Perkembangan era digital, tak semata memberi dampak positif pada kemudahan mengakses informasi. Tetapi juga menjadi ladang subur bagi penyebaran berita hoax. Mengapa? Karena berita apa pun yang hadir di kanal digital memiliki karakteristik mudah dibagikan (shareable). Baik melalui copy paste link, capture, atau fitur share yang biasanya ada di situs maupun platform media sosial.

Jangan menganggap sepele berita hoax. Karena dampak yang ditimbulkan bisa sangat merugikan. Masih ingat kan isu tentang penculikan anak pada bulan Maret 2017 lalu yang ternyata hoax? Berita penculikan itu bermula dari sebuah situs yang memberitakan adanya penculikan anak untuk diambil organ dalam tubuhnya. Kemudian berita tersebut menjadi viral di media sosial karena banyak yang membagikan. Tak pelak, banyak pihak yang dibuat resah terutama para orang tua.  

Meski pihak kepolisian mengklarifikasi bahwa berita penculikan itu adalah berita palsu, sejumlah masyarakat sudah terlanjur percaya sehingga sempat melakukan tindakan yang tidak semestinya. Misalnya di Madura, dikutip dari detik.com, masyarakat beramai-ramai menangkap dua orang gila yang diduga sebagai pelaku penculikan. Di daerah Banyuwangi, para orang tua beramai-ramai menjemput anaknya pulang sekolah karena khawatir anaknya diculik.

Ini hanya satu contoh. Masih banyak lagi berita hoax yang tidak disadari kebohongannya oleh masyarakat. Memang, pihak yang membagikan berita itu sebenarnya tidak berniat menyebarkan hoax. Tapi lebih karena dorongan ingin membantu sesama, menginformasikan suatu berita agar orang lain waspada dan mengambil langkah kehati-hatian.

Berita hoax itu sendiri dibuat bukan tanpa maksud. Ada tujuan tertentu yang melatarbelakanginya. Menurut Shafiq Pontoh dari Provetic yang ditemui di acara Nutrischool Media Gathering 2017 di Jakarta pada 7 April lalu, ada lima motivasi seseorang menciptakan berita hoax. Di antaranya: ideologi, uang, politik, kebencian, dan iseng. Dalam acara itu Shafiq juga menyampaikan satu fakta bersumber dari Tirto.id, bahwa salah satu situs pembuat hoax – postmetro.co -  yang kini telah diblokir pemerintah, bisa meraup penghasilan sebesar 25-30 juta rupiah sebulan. 

Soal dampak yang ditimbulkan dari peredaran berita hoax itu, tergantung pada jenis tema berita itu sendiri. Di Indonesia, menurut survei yang diadakan oleh Mastel, jenis hoax bermuatan sosial politik menempati urutan tertinggi dengan persentase 91.8%. Disusul hoax dengan isu SARA 88.6%, hoax kesehatan 41.2%, hoax makanan dan minuman 32.6%, kemudian hoax penipuan keuangan 24.5%, dan hoax-hoax lain seputar iptek, berita duka, candaan, bencana alam, dan lalu lintas. 

Nah, jangan sampai kita turut menyumbang peredaran berita hoax, Ma. Tentang apa pun itu. Tahan diri untuk tidak mudah membagikan berita sebelum mengecek kebenarannya. Tak ingin menjadi kepanjangan tangan para pelaku hoax yang tidak bertanggung jawab, kan? Sementara orang lain tanpa sadar menerima kebohongan, pelaku hoax mendapat keuntungan.

Ada baiknya, sebelum Anda membagikan suatu berita, apakah di media sosial, platform chatting, atau di mana pun itu, selalu cek kebenarannya. Terutama yang terkait isu-isu sensitif, seperti politik, SARA, dan kesehatan. Berikut ini tip dari Shafiq Pontoh untuk mengenali suatu berita apakah benar atau hoax.


1.Perhatikan judul
Apakah judul dari berita itu mengandung muatan provokatif yang membuat hati langsung ingin membenci orang/kelompok lain? Jika Anda curiga atau belum yakin, sempatkan untuk crosscheck dengan media lain. Mengenai judul, biasanya berita hoax diberi judul bombastis padahal kontennya memuat kebohongan.
 

2.Perhatikan sumber berita
Apakah situs yang menyampaikan berita itu kredibel dan terverifikasi? Atau situs abal-abal yang tidak jelas? Selalu pertanyakan hal ini setiap kali mengakses suatu informasi. Biasanya situs abal-abal memiliki karakteristik nama yang mengundang kecurigaan.
 

3. Waspada informasi “copas dari grup sebelah”
Jika dalam informasi itu menyebut suatu kejadian, ajukan pertanyaan di mana kejadiannya? Siapa yang terlibat? Pastikan nama subyek dan lokasi harus jelas. Jika memungkinkan tanyakan siapa yang pertama kali menyebarkannya agar Anda dapat mengecek faktanya. Jika aspek-aspek ini tidak dapat terjawab dengan jelas, sebaiknya tahan jempol Anda untuk membagikan daripada terlibat sebagai penyebar hoax.
 

4. Jangan terkecoh dengan foto yang tertera pada suatu berita
Rumusnya ajukan pertanyaan ini saat membaca: Apakah foto yang tertera adalah benar tokoh yang diceritakan di badan berita?  Pada suatu kasus, ditemukan berita hoax dimana pembuatnya mencantumkan foto yang sama sekali tidak sinkron dengan isi konten, namun diolah sedemikian rupa sehingga seolah-olah berita itu menceritakan sosok pada foto.
 

Menurut Shafiq, berdasarkan tingkat rekayasanya, hoax dibedakan menjadi dua. Yakni, hoax yang mudah diklarifikasi; berisi konten berita fiktif, menyebar fitnah, mudah dicari bantahannya, biasanya terdapat pada situs clickbait. Dan hoax yang sulit diklarifikasi; menggabungkan fakta dan fiksi, direkayasa oleh tim dengan kemampuan tinggi.
 

5. Bergabung dengan fanpage dan diskusi anti hoax. Di Indonesia terdapat komunitas yang memiliki misi memerangi peredaran berita hoax. Di antaranya: Indonesia Hoax Busters, Masyarakat Anti Hoax Indonesia, Turn Back Hoax, Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. (Alika Rukhan)

Foto: Pixabay

Baca juga : Gerakan Anti Hoax di Indonesia 
 
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia