Cegah Penularan Virus Japanese Enchepalitus Lewat Vaksin


Pada 2016, Departemen Kesehatan melaporkan ada sekitar 326 kasus Japanese Enchepalithus di Indonesia, dimana 226 pasiennya berdomisili di provinsi Bali.
 
Sesungguhnya apa itu Japanese Enchepalitus (JE)? Menurut DR Dr Hindra Irawan Satari, SpA(K), MTroPaed., seorang Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Penyakit Infeksi dan Pediatric Tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, JE atau yang biasa dikenal dengan ensefalitus adalah radang otak yang disebabkan  flavivirus (famili virus yang menyebar melalui vektor arthropoda terutama nyamuk), yakni virus penyebab demam berdarah.
 
Sebenarnya virus ini hanya menyerang nyamuk, babi, dan burung rawa. Namun manusia dapat juga tertular virus ini juga jika tergigit oleh nyamuk Culex Tritaeniorhynchus yang terinfeksi. 

Untuk Anda ketahui, nyamuk ini banyak ditemukan di area persawahan dan irigasi, lho. Mungkin, itulah mengapa ada lebih banyak pasien ensefalitus yang berasal dari provinsi Bali, mengingat di provinsi itu terdapat banyak persawahan dan irigasi.
 
Melalui Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, pemerintah mengatakan, penanggulangan JE yang paling utama adalah dengan pengendalian vektor, yaitu eliminasi populasi unggas, vaksinasi pada babi, eliminasi pemaparan manusia pada vektor, dan imunisasi JE pada manusia.
 
Dan menyoal itu, vaksin JE ini baru akan  mulai dikampanyekan pada September mendatang di 9 Kabupaten/Kota di Bali dengan sasaran sebanyak 897.050 anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun (85% kasus JE yang dilaporkan tahun 2016 terjadi pada kelompok umur 15 tahun).

Ini yang menyebabkan JE dianggap sebagai penyakit pada anak meski juga dapat berjangkit pada semua umur.
 
Berdasarkan info dari depkes.go.id,  gejala penyakit yang disebabkan virus JE biasanya sangat ringan. Gejala itu baru akan muncul setelah 5-15 hari pasien digigit nyamuk yang terinfeksi. Gejalanya adalah demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah.
 
Sedangkan gejala berat ditunjukkan dengan adanya peradangan otak (encephalitis), yang disertai demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku pada tengkuk, disorientasi, koma (penurunan kesadaran), kejang, dan kelumpuhan.
 
Gejala kejang sering terjadi pada pasien anak-anak. Sedangkan gejala sakit kepala dan kaku pada tengkuk terjadi pada pasien dewasa. Keluhan-keluhan tersebut biasanya membaik setelah fase penyakit akut terlampaui.

Tetapi pada 20-30% pasien, gangguan saraf kognitif dan psikiatri dilaporkan menetap. Komplikasi terberat pada kasus JE adalah meninggal dunia (terjadi pada 20-30% kasus Encephalitus). (Ester Sondang)

Baca juga: Cegah Penularan Virus Japanese Enchepalithus


 

 

Edisi Terbaru

Aku Indonesia

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia