Makna 9 Istilah yang Sering Muncul tentang COVID-19


 

Ada banyak istilah yang sering muncul di pemberitaan seputar corona atau COVID-19. Agar tidak bingung atau salah mengartikan, Anda bisa mencari tahu maknanya berikut ini:

Epidemi
Epidemi dalam KBBI diartikan sebagai penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban. Virus corona menjadi epidemi yang awalnya ditemukan di Wuhan, China, dan menyebar ke area geografis yang lebih luas.

Pandemi
WHO telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Pandemi dimaknai sebagai wabah yang berjangkit serempak, meliputi daerah geografi yang luas. Sementara, WHO mendefinisikannya sebagai situasi ketika populasi selutuh dunia memiliki kemungkinan terinfeksi. Bisa dikatakan bahwa pandemi adalah epidemi global di mana ada peningkatan kasus dengan skala yang besar di beberapa negara atau benua.

Suspect
Suspect artinya terduga. Ketika seseorang dinyatakan sebagai suspect, maka ada dugaan ia menderita COVID-19 karena telah berkontak dengan seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi sebelumnya. Oleh karenanya, pasien suspect akan diambil spesimen cairan dari saluran napasnya untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini ditujukan untuk mendiagnosis apakah pasien benar-benar telah terinfeksi virus corona.

Orang dalam Pemantauan (ODP)
ODP adalah semua orang yang datang dari suatu negara yang telah terkonfirmasi mengalami penularan COVID-19. Seseorang yang datang atau baru saja pulang dari negara-negara yang positif corona, akan ditempatkan sebagai ODP oleh Kemenkes dengan tujuan mengantisipasi bila yang bersangkutan sakit, sehingga bisa melakukan pelacakan dengan cepat.

Pasien dalam Pengawasan (PDP)
Orang yang sebelumnya termasuk dalam kategori ODP dan mengalami beberapa gejala seperti batuk, demam, pilek, atau masalah pernapasan akan ditingkatkan statusnya menjadi pasien dalam pengawasan. PDP akan dirawat dan diisolasi untuk dicaritahu kembali apakah terkategori suspect.
 

Social Distance
Lisa Lockerd Maragakis, M.D., M.P.H., direktur senior pencegahan infeksi di John Hopkins Medicine, Baltimore, Maryland, AS menyebut bahwa social distance adalah peningkatan jarak ruang fisik antara orang-orang untuk menghindari penyebaran penyakit. “Berdiri (berada) sejauh setidaknya enam kaki (1,8 m) dari orang lain mengurangi peluang Anda untuk menangkap COVID-19,” ujarnya.
 
Dengan memperlebar jarak sosial orang per orang membantu menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit sehingga memungkinkan sistem perawatan kesehatan untuk lebih siap merawat pasien dari waktu ke waktu. Hal ini bisa dilakukan dengan menghindari kerumunan atau berada di rumah ramai dan lebih memilih untuk tinggal di rumah.


Karantina
Lisa menjelaskan bahwa karantina perlu dilakukan oleh orang-orang yang baru saja bepergian dari negara yang telah positif terinfeksi virus corona dan berisika terkena COVID-19. Mereka dapat mempraktikkan karantina sendiri. Pakar kesehatan merekomendasikan karantina sendiri selama 14 hari. Saat menjalani karantina, seseorang sebaiknya berada setidaknya sejauh 6 kaki (1,8 m) dari orang lain di rumahnya, tidak dikunjungi, tidak berbagi handuk atau peralatan makan, menjaga kebersihan. Jika masa karantina berakhir dan seseorang tidak menunjukkan gejala, maka ia bisa kembali ke rutinitas normal.
 

Isolasi
Bagi seseorang yang sudah dinyatakan positif COVID-19, maka ia harus diisolasi. Lisa menjelaskan bahwa isolasi adalah istilah perawatan kesehatan yang berarti menjauhkan orang-orang yang terinfeksi penyakit menular dari mereka yang tidak terinfeksi. Peralatan pelindung pribadi khusus akan digunakan untuk merawat pasien-pasien ini dalam pengaturan perawatan kesehatan.
 

Flattening the Curve
Pernah mendengar istilah ini? Belakangan istilah ini sering muncul bersamaan dengan analisis bagaimana menekan laju persebaran virus corona. Pada grafik yang menjelaskan jumlah pasien dan fasilitas kesehatan, lonjakan mendadak pada pasien dalam waktu singkat dapat direpresentasikan sebagai kurva tinggi dan sempit.
 
Flattening the curve atau meratakan kurva dijelaskan oleh Lisa mengacu pada penggunaan praktik perlindungan untuk memperlambat laju infeksi COVID-19 sehingga rumah sakit memiliki ruang, persediaan, dan dokter untuk semua pasien yang membutuhkan perawatan. Lisa menyebut, “Terlalu banyak orang menjadi sakit parah dengan COVID-19 pada waktu yang bersamaan dapat menyebabkan kekurangan tempat tidur rumah sakit, peralatan atau dokter.”
 
Oleh karenanya, kita semua berupaya untuk membuat garis grafik terlibat seperti kurva yang lebih panjang, lebih rata yang artinya membuat jumlah pasien yang sama tiba di rumah sakit pada tingkat yang lebih lambat agar fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan mampu menangani. Hal ini salah satunya bisa diwujudkan dengan social distance tadi.
 

(Lela Latifa)
Foto: Pixabay


Topic

#corona #viruscorona #covid19 #coronavirus

 





Video

Behind The Scene - Cover Parenting Indonesia Agustus 2017


Polling

Makna 9 Istilah yang Sering Muncul tentang COVID-19

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia