6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 1)


 

Najeela Shihab, pendidik dan pendiri Keluarga Kita, organisasi yang fokus pada pendidikan keluarga dan pengasuhan, mengatakan bahwa anak-anak usia 6-12 tahun sudah bisa diajak berbicara politik. Beberapa topik yang bisa dibahas antara lain soal pemilu, pemimpin, pemerintahan yang baik, atau soal kebijakan publik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
 
Menurut Najeela, berdiskusi politik dengan anak akan memberikan mereka pondasi yang kuat tentang nilai-nilai integritas, tanggung jawab, dan demokrasi. Di samping itu, berdiskusi politik dapat mendorong anak untuk selalu berpikir dan bersikap kritis, serta berani menyampaikan pendapat.
 
Sayangnya, Najeela menilai masih ada beberapa kesalahan orang tua saat membicarakan politik dengan anak-anaknya, antara lain :
 
Terlalu Meremehkan
“Banyak orang tua yang underestimate anaknya. Dipikirnya, ah, kamu masih kecil, belum ngerti soal itu,” kata Najeela. Padahal, menurutnya, anak-anak sering kali tahu lebih banyak dibandingkan dengan yang orang tua duga.
 
Najeela menjelaskan bahwa di era keterbukaan informasi, anak-anak sangat mungkin terpapar berbagai informasi tentang politik. “Kalau mendengar dan melihat terus-menerus setiap hari, pasti otak anak memproses informasi itu,” tuturnya.
 
Oleh karenanya, Najaeela menyarankan agar ketika anak mulai bertanya atau menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan ranah politik, seperti pemilu, presiden, partai, atau apa pun, jangan cuek dan meremehkan mereka. Ketika Anda menganggap mereka belum tahu, mereka akan penasaran dan berusaha mencari sumber informasi lain. Salah-salah mereka mendapatkan informasi yang tidak tepat dan justru bertentangan dengan tujuan pengasuhan Anda.
 
Reaktif dan Membombardir
Bersikap reaktif ketika anak berkomentar seputar politik, misalnya saja mengenai salah satu calon pemimpin, adalah hal yang tidak tepat. Anda mungkin ingin anak punya pandangan positif yang politik dan sejalan dengan ideologi keluarga. Namun, ketika Anda menggertaknya dengan kalimat, “Heh, salah itu!” ia akan menjadi ciut dan takut berkomentar lagi.
 
Belum lagi, bila Anda membombardirnya dengan pertanyaan beruntut seperti, “Kata siapa itu? Dengar dari mana kamu? Kok, bisa ngomong begitu?” Itu akan semakin membuatnya berjarak dengan wawasan politik.
 
Menganggap Pemimpin itu Sakral
Menurut Najeela, sering kali orang tua secara tidak sadar menunjukkan pada anaknya bahwa pemimpin itu adalah ‘yang utama’ dan oleh karenanya sangat ‘sakral’. Begitu juga dengan pemimpin negara atau presiden. Padahal tidak juga bisa dipahami seperti itu.
 
Orang tua perlu mengajarkan kepada anak soal ‘tugas pelayanan’ seorang pemimpin. “Pemimpin adalah orang yang melayani kebutuhan rakyat banyak. Mensakralkan pemimpin itu sangat tidak tepat,” sergah Najeela.
 
Menurutnya, dengan menganggap pemimpin sakral akan mengajarkan anak untuk berpikir keliru, bahwa pemimpin bisa berbuat apa saja dan diikuti. Ini tidak akan mengajarkan anak mengenai kriteria pemimpin yang baik.
 
 
Berlanjut ke 6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 2)
 

Baca juga:
Politik Pilkada Mengancam Rasa Toleransi Anak
Ajari Anak Pendidikan Politik
 
 

 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK
 
 

 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia