Memahami Klaster Keluarga


 

Perkantoran sempat menjadi klaster infeksi COVID-19 yang banyak dibicarakan. Kantor dinilai menjadi tempat yang berisiko bagi penularan COVID-19. Meja kerja yang berdekatan, tombol lift yang sama, berbagi toilet, serta gedung tertutup yang ber-AC ditengarai mempermudah penularan virus Corona antarpegawai.
 
Belakangan, topik klaster keluarga jadi kian hangat diberitakan. Ya, transmisi COVID-19 juga mengancam keluarga atau rumah tangga—tempat di mana kita merasa aman. Klaster keluarga terjadi saat ada satu anggota keluarga di rumah yang terinfeksi COVID-19 menularkannya kepada anggota keluarga lain sehingga satu rumah tertular saat berada di rumah sendiri. Misal, Ayah yang bekerja di kantor terinfeksi COVID-19 (dengan atau tanpa gejala) dan menularkannya kepada anggota keluarga lain yang bahkan tak keluar rumah.
 
Di Mana Saja?
Saat ini, angka klaster keluarga semakin banyak. Mengutip data yang dielaborasi oleh Pandemic Talks, sebuah platform info dan data COVID-19 di Indonesia dari berbagai media, Bekasi menjadi kota dengan klaster keluarga tertinggi. Ada 437 kasus dari 155 klaster keluarga di sana. Bogor menempati posisi ke dua dengan jumlah kasus sebanyak 189 dari 48 klaster keluarga. Kota lain yang juga memiliki kasus dari klaster keluarga terbanyak antara lain Malang, Yogyakarta, dan Semarang.
 
Budaya Komunal
Harus diakui bahwa belakangan aktivitas di ruang publik kian padat. Sudah banyak perusahaan yang tak lagi memberlakukan sistem shift kerja dari rumah dan kerja di kantor. Di samping itu, budaya komunal untuk bersilaturahmi seperti mengunjungi keluarga, kumpul warga, pengajian, olah raga bersama, atau acara makan-makan juga meningkatkan risiko transmisi. Anggota keluarga yang terinfeksi dari acara-acara ini bisa menulari anggota keluarga lainnya. Bahkan, terdapat 1 RT di Bogor yang hampir seluruh warganya terdeteksi positif COVID-19.
 
Karena Merasa Aman di Rumah
Masih dari Pandemic Talks yang mengutip Forbes pada Mei 2020, 66% dari 1200 warga New York yang dirawat di rumah sakit lantaran infeksi COVID-19 tertular dari rumah tangganya sendiri. Pasien kebanyakan tinggal bersama keluarga yang sering keluar rumah dengan berbagai alasan.
 
Hal ini diakibatkan saat di rumah kita justru tidak mempraktikkan berjarak fisik dengan anggota keluarga lain yang sering melakukan aktivitas di luar rumah. Hal ini lantaran, kita merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman. Pikiran inilah yang justru meningkatkan potensi transmisi. Apalagi, ditambah dengan tak sedikitnya Orang Tanpa Gejala (OTG).
 
 
Baca juga:
5 Aturan Memakai Masker yang Benar untuk Cegah Corona
Solusi Masalah Keuangan di Masa Pandemi: Hindari Utang, Mulai Berdagang
9 Ide Weekend Activity Selama Pandemi
3 Langkah Pakai Masker Kain yang Benar
3 Cara Pakai Masker Ini Salah, Ancam Kesehatan Pernapasan Anda


 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK

 

 





Video

The Power Duo Business + Parenthood


Polling

Memahami Klaster Keluarga

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia