Pilih Asuransi atau Tabungan Pendidikan Anak?



Pengeluaran keuangan untuk pendidikan anak akan makan waktu belasan bahkan lebih dari 20 tahun. Mama harus cermat mengelola keuangan.

Untuk menjamin agar pendidikan anak tetap berkelanjutan, alangkah baiknya jika Anda mulai merencanakannya sedini mungkin dengan tabungan atau asuransi pendidikan. Tapi sebelumnya, tentu saja Anda harus tahu dulu perbedaan dan plus minus keduanya supaya bisa memilih mana yang paling sesuai dengan kondisi keuangan dan tujuan Anda.

Tabungan Pendidikan
Menurut Freddy Pieloor, penasehat keuangan independen, tabungan pendidikan mirip dengan tabungan jenis lainnya. Perbedaannya terletak pada jumlah uang yang disetorkan dalam jangka waktu tertentu. Tabungan pendidikan mewajibkan nasabah menyetor jumlah tertentu, biasanya setiap bulan, untuk mencapai jumlah uang tertentu sesuai yang telah ditetapkan di awal periode.

Tabungan pendidikan memiliki periode atau jangka waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan dana pendidikan anak, misalnya: saat masuk SD, masuk SMP, masuk SMA dan masuk perguruan tinggi. Bunga (tingkat pengembalian) yang diberikan oleh bank ada yang tetap (fix) dan ada yang mengambang (floating). Selain itu tabungan pendidikan berisikan juga unsur asuransi jiwa (term life), yang memberikan nilai tunai pada masa mencicil iuran, bila sang pencari nafkah (yang membayar cicilan) meninggal dunia. Di sini, pihak bank bekerja sama dengan pihak perusahaan asuransi jiwa. Ada bagian cicilan bulanan yang dipergunakan untuk membayar premi asuransi jiwa, atau bisa diambil dari selisih bunga yang diberikan (lebih kecil).

Asuransi Pendidikan
Asuransi pendidikan adalah asuransi yang ditujukan bagi para orang tua dalam mempersiapkan dana pendidikan bagi anaknya kelak, demikian kata Andy Nugroho, perencana keuangan dari MRE Financial & Business Advisory. Asuransi pendidikan akan menggantikan fungsi orang tua yang menabung secara reguler pada dana pendidikan apabila terjadi risiko pada orang tua, semisal meninggal ataupun sakit yang menyebabkan ia tidak dapat mencari nafkah lagi. Jika produk tabungan pendidikan dikeluarkan oleh bank, asuransi pendidikan merupakan produk yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Biasanya, di dalam asuransi pendidikan ada unsur investasinya, misalnya reksadana tipe tertentu. Jadi, ada dua elemen dalam iuran yang dibayar oleh nasabah setiap bulannya.

Mana yang Menguntungkan?
Masih menurut Freddy, tabungan dan asuransi pendidikan, keduanya memberikan imbal hasil minim. Walhasil, dana yang diperoleh seringkali tidak mencukupi kala dibutuhkan karena inflasi dana pendidikan sangat tinggi, sebesar 15-25 persen per tahun, sementara imbal hasil dari tabungan dan asuransi pendidikan di bawah itu.

Meski begitu, menurut Andy, dengan jumlah cicilan yang sama besar tiap bulannya, tabungan pendidikan akan memberi imbal hasil dana pendidikan yang lebih besar dari asuransi. Ini karena tabungan pendidikan mengalokasikan dana ke pos pendidikan lebih besar dibanding asuransi. Misalnya, tabungan pendidikan mengalokasikan dana ke pos pendidikan sebesar 75 persen, dan ke asuransi/investasi 25 persen.

Sementara asuransi pendidikan mengalokasikan dana lebih kecil ke pos pendidikan dibanding tabungan pendidikan. Itu sebabnya, bila terjadi risiko pada orang tua yang menyebabkannya tidak lagi bisa mencari nafkah, proses menabung akan tetap berjalan dan dapat digunakan oleh anak untuk pendidikannya.

Foto : Fotosearch

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia