Serba-Serbi Kanker Paru, Penyebab Kematian Karena Kanker Tertinggi di Indonesia




Kita mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa kanker payudara menjadi peringkat pertama yang jumlah kasusnya paling banyak di Indonesia. Sementara, kanker paru menempati posisi ketiga dalam jumlah kasus. Berdasarkan Globocan Data 2020 kejadian kanker paru di Indonesia meningkat dari sebelumnya 30.023 pada tahun 2018, menjadi 34.783 pada tahun 2020. Sekalipun demikian, dalam Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia yang diinisiasi oleh Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dan PT Takeda Indonesia, dr. Evelina Suzanna, Sp.PA, Spesialis Patologi Anatomi di RS Dharmais mengatakan bahwa kanker paru menjadi penyebab kematian karena kanker tertinggi atau peringkat pertama di Indonesia.
 
Hal ini disebabkan oleh kanker paru sering kali terlambat dideteksi. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid, Spesialis Penyakit Dalam (Hematologi-Onkologi Medik) FKUI-RSCM menyebutkan data bahwa 57% kanker paru baru terdeteksi saat stadium lanjut karena gejalanya yang baru kelihatan. Inilah yang menyebabkan menurunnya harapan hidup pasien kanker paru. “Hanya 5,2% pasien kanker paru yang dapat bertahan hidup jika ditemukan saat sudah stadium lanjut,” ujarnya.
 
Gejala Kanker Paru

  • Batuk berkepanjangan
  • Gangguan pernapasan
  • Kelelahan
  • Nyeri dada
  • Terdapat darah pada dahak
  • Mengalami penurunan berat badan dan nafsu makan
  • Merasa pusing atau nyeri pada pasien kanker paru dengan penyebaran ke tulang atau otak
 
Penyebab Kanker Paru
Dokter Ikhwan mengategorikan penyebab kanker ke dalam dua kelompok, yakni yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah, juga penyebab yang belum jelas.
 
  • Yang dapat diubah:
  1. Merokok, 20-50 kali lebih berisiko terkena kanker paru.
  2. Perokok pasif.
  3. Diet tinggi daging merah.
  4. Paparan asbes radioaktif, diesel, silika, logam berat, kromium, atau polycyclic aromatic hydrocarbons.
  5. Konsumsi suplemen yang mengandung beta karoten.
  6. Paparan air yang mengandung arsen.
  7. Penyakit paru seperti asma dan tuberkolusis.
 
  • Yang tidak dapat diubah:
  1. Paparan radiasi dada pada pasien kanker lain.
  2. Polusi udara .
  3. Riwayat keluarga yang juga menderita kanker paru.
  4. Polimorfisme gen.
 
Selain itu, ada juga penyebab yang belum jelas, antara lain adalah konsumsi marijuana maupun rokok elektrik.
 
Jenis Kanker Paru
Dijelaskan dr. Evelina bahwa secara garis besar ada dua jenis kanker paru, yakni:
  • Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC)
Merupakan jenis yang paling banyak ditemukan atau sebesar 85%. Ditemukan pada perokok ringan atau tidak merokok. Kanker jenis ini kurang sensitif terhadap kemoterapi dan radioterapi.
  • Small Cel Lung Cancer (SCLC)
Jumlahnya hanya 15% dari total kasus kanker paru. Jenis kanker paru ini sangat jarang ditemukan pada pasien yang tidak merokok. Jenis kanker ini juga memiliki kemampuan menyebar yang lebih cepat.
 
 “Baik NSCLC maupun SCLC, gejala umum yang bisa dilihat seperti batuk yang tak kunjung hilang, batuk darah, nyeri dada hingga sesak napas, penurunan berat badan yang drastis, sakit kepala, hingga sakit tulang,” ungkap dr. Evelina.
 
Pemeriksaan Kanker Paru
Pemeriksaan umum pasien suspek kanker paru dapat dilakukan dengan foto toraks, CT Scan, PET Scan, dan MRI.
 
Pengobatan Kanker Paru
Bila terdeteksi di stadium awal, kanker paru dapat ditangani dengan operasi. Akan tetapi, bila telah mencapai stadium lanjut, maka harus dilakukan pengobatan dengan cara radioterapi, kemoterapi, terapi ablasi, atau terapi fotodinamik.
 
Saat ini, salah satu jenis terapi yang dapat diberikan untuk pasien kanker paru NSCLC dengan mutasi gen EGFR atau ALK adalah terapi target. Terapi target adalah jenis pengobatan yang secara spesifik menargetkan sel kanker yang ditandai dengan gen yang bermutasi. Untuk mendapatkan terapi target, pasien harus terlebih dahulu melakukan pemeriksaan histopatologi dan molekular. Setelah terdiagnosis positif untuk mutasi tertentu, pasien baru memenuhi syarat untuk mendapatkan pengobatan menggunakan terapi target.
 
Penelitian yang diterbitkan dalam Oncotarget menunjukkan bahwa pemberian terapi target ALK dapat meningkatkan harapan hidup pasien hingga 89.6 bulan dibandingkan dengan harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi selain ALK yaitu 28.2 bulan. Hal serupa juga terlihat pada pasien yang mendapatkan terapi target EGFR yang menunjukkan harapan hidup hingga 24.3 bulan dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan terapi selain EGFR yang menunjukkan harapan hidup hingga 10.8 bulan.
 
Bila Pasien dengan Kanker Paru Mengalami COVID-19
Dokter Ikhwan mengatakan bahwa jika terinfeksi COVID-19, pasien kanker termasuk ke dalam populasi yang lebih rentan dengan tingkat gejala yang lebih parah dibandingkan dengan pasien tanpa penyakit kanker. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan sel-sel kanker dan terapi kanker menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh yang berguna dalam melawan infeksi virus. Selain itu, pasien kanker juga perlu melakukan kunjungan ke rumah sakit secara berkala untuk mendapatkan terapi kanker.
 
Saat terserang COVID-19 pasien kanker paru cenderung menunjukkan gejala gangguan pernapasan yang lebih cepat dibandingkan dengan pasien tanpa kanker paru. Hal ini dapat disebabkan karena pasien kanker paru memiliki fungsi paru yang sudah terganggu pada awal infeksi dibandingkan dengan pasien tanpa kanker paru.
 
 
Baca juga:
Serba-Serbi Kanker Kolorektal yang Rawan Menimpa Laki-laki
Kanker Prostat, Bisakah Dicegah?
Tipe Wanita Berisiko Tinggi Kanker Payudara
Yuk, Deteksi Kanker Payudara dengan SADARI
 
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 


Topic

#keluarga #kesehatan

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Serba-Serbi Kanker Paru, Penyebab Kematian Karena Kanker Tertinggi di Indonesia