7 Tip Ajari Si Kecil Bangga pada Dirinya Sendiri


 

Si kecil tiba-tiba datang pada Anda sambil menangis dan bercerita, “Mama, teman-teman panggil aku ‘si gendut’” atau “Aku benci kenapa warna kulitku kayak gini. Aku nggak kayak teman-teman yang lain, Ma.” Anda pasti geram dengan apa yang menimpa mereka. Di satu sisi, Anda juga sedih karena si kecil jadi meragukan dirinya sendiri.
 
Menurut psikolog perkembangan dari Universitas Indonesia Luh Surini Yulia Savitri, M.Psi., atau yang kerap dipanggil Vivi, ketika menginjak usia sekolah dasar, anak-anak sudah mulai tertarik untuk melihat penampilan teman-temannya dan membuat perbandingan dengan dirinya. Hal ini terus berkembang seiring dengan pertambahan usia. “Memasuki usia pra remaja anak akan mulai berpikir, “kok, saya gemuk. Kok, saya hitam. Saya tidak ganteng atau cantik,” ujar Vivi.
 
Vivi mengatakan bahwa julukan atau pikiran negatif tentang tubuh dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. Anak dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah, pada ujungnya akan cenderung menarik diri dari teman-temannya. Hal ini tentu tidak baik untuk perkembangan sosialnya.
 
Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak menerima dan cinta pada bentuk fisik dirinya sendiri. Apa saja yang bisa orang tua lakukan untuk menumbuhkan rasa bangga anak terhadap dirinya sendiri?


1. Jadikan Anda Panutan

Alexis Conason, Psy.D., psikolog klinis dari New York, AS, mengatakan bahwa jika orang tua ingin anak-anak melihat tubuhnya dengan pandangan yang positif, maka orang tua harus jadi contohnya.
 
Sebuah penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Univesity of California dan Ohio State University menyatakan bahwa anak yang seringkali mendengar orang tuanya mengucapkan kalimat negatif tentang tubuh seperti keluhan, “Mama gendut, nih,” akan cenderung tidak bisa mengapresiasi bentuk tubuhnya sendiri dan orang lain. Selain itu, mereka juga cenderung memiliki pola makan yang tidak baik.


2. Mengenalkan Anak pada Keberagaman

Tunjukkan pada anak soal keberagaman warna kulit, bentuk tubuh, warna rambut, dan bentuk rambut. Bantu ia memahami bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang sama. Dorong ia untuk memaklumi bahwa perbedaan adalah hal yang wajar sehingga tidak perlu ingin menjadi sama dengan yang lain.

3. Melihat Pohon Keluarga

Ketika anak terus-terusan merisaukan penampilannya, bantu berikan ia contoh tentang bagaimana bentuk tubuh anggota keluarga lainnya. Anda bisa mengatakan, “Coba lihat, kulit Mama warnanya sawo matang, kulit Papa juga. Jadi, tidak mungkin kulit kamu warnanya lebih terang. Kan, kamu Anaknya Mama dan Papa.”

4. Mengapresiasi Kelebihan Anak

Fokus untuk mengapresiasi kelebihan anak. Misal, kemampuannya dalam bidang akademik, prestasi olahraga yang sudah ia hasilkan, atau bakat seninya. Hal ini bisa mendorongnya untuk percaya diri dan mengabaikan masalah bentuk tubuh.

5. Tidak Bicara tentang Penampilannya

Rebecca Puhl, Ph.D., dari Rudd Center for Food Policy and Obesity di Yale University, Connecticut, AS, mengatakan bahwa saat Anda ingin berbicara dengan anak anda tentang berat badannya, alih-alih mengomentari penampilannya seperti “kamu gendut”, “lihat lemak perutmu menggelambir!” atau “kenapa kamu kurus banget, sih!”, lebih baik fokus pada kesehatan dan perilakunya. Misal, tentang pola makan atau kebiasaan olahraga.
 
Anak-anak yang sering mendengarkan orang tuanya membicarakan penampilan dan ukuran badannya akan berpotensi melakukan diet keras bahkan mengalami kelainan makan sebagai kemungkinan terburuknya.


6. Tidak Menilai Orang Lain Berdasarkan Bentuk Tubuhnya

Hindari menilai orang lain berdasarkan bentuk tubuhnya di hadapan Anak. Berikan penilaian tentang bagaimana sifat dan prestasi orang itu. Hal ini juga akan mendorong si kecil berpikir bahwa seseorang tidak dinilai berdasarkan kesempurnaan tubuhnya.

7. Selalu Dampingi Anak saat Menonton TV

Penilaian tentang apa itu “cantik” atau “tampan” seringkali didapatkan anak dari TV. Sebuah penelitian yang diadakan oleh Canadian’s Women Foundation mengatakan bahwa 9 dari 10 anak perempuan mengalami tekanan akibat gambaran kecantikan yang ada di media. Penelitian ini juga mengungkap bahwa 50% anak perempuan kelas 6 SD menjalani diet.
 
Maka, penting bagi orang tua untuk selalu mendampingi anak mereka dalam menonton tayangan apa pun dan memberi penjelasan pada mereka bila mereka membutuhkan.
 
 
Baca juga:
Jika Anak Mulai Tak Percaya Diri dengan Penampilannya
Anak Percaya Diri atau Tidak?
Orang Tua Percaya Diri = Anak Percaya Diri
Anak Disleksia Percaya Diri di Kelas
Tumbuhkan Rasa Percaya Diri
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK

 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia