Anak Khawatir Merasa Gemuk


 

Anak Anda mulai memasuki masa praremaja, mulai suka bercermin dan mengamati tubuhnya? Masalah body image umum dibicarakan di kalangan anak perempuan praremaja. Sementara itu, anak laki-laki sebayanya merasa stres tentang bagaimana mereka tampil juga, sih (meski mereka lebih sering merasa khawatir kalau menjadi gemuk dan tidak terlalu pusing dengan ‘masalah’ menguruskan badan).
 
Anda memang tidak bisa melindungi anak dari paparan image wanita yang terlalu kurus di TV dan media sosial, sehingga terpiculah pertanyaan, “Aku gemuk, ya, Ma?” Karena, sayangnya, perempuan yang dikatakan atau dipersepsi cantik dan menarik adalah yang kurus langsing, berkulit putih mulus, dan beberapa kriteria lainnya, bersliweran di TV dan media lainnya. 
 
Baca juga: Jika Anak Takut Gemuk
 
Berikut ini berbagai hal yang bisa dilakukan jika anak mulai merasa khawatir dengan tubuhnya, menganggap dirinya gemuk, tidak seperti perempuan-perempuan kurus yang banyak diidolakan:

1. Cari Tahu Masalahnya.
Kadang-kadang anak perempuan mengatakan bahwa mereka tidak menyukai tubuhnya karena merasa cemas dengan perubahan yang terjadi saat pubertas. Bisa saja, dia khawatir perubahan yang dia alami itu akan berlangsung lama dan membuatnya makin tidak nyaman, lalu berakhir dengan menjadi sosok tidak seideal pikirannya.
 
Tapi, untuk memastikannya, Anda tetap perlu mencari tahu masalah atau sumber kekhawatirannya. Amati, dekati, dan buka komunikasi dengan mengatakan, “Apa yang kamu rasakan dengan dirimu saat ini?” Lalu bisa dengan bertanya, “Apa yang tidak kamu sukai tentang tubuh kamu?” atau “Oh..., yaaa? Kenapa kamu bisa merasa begitu?”
 
Dari konversasi ini, Anda bisa mendapat inti permasalahan yang sedang dia alami atau rasakan, dan membantunya menjadi lebih percaya diri.
 
2. Jangan Sepelekan Kecemasannya.
Ia akan merasa kalau Anda tidak mendengarkannya bila Anda hanya mengatakan, “Tapi, kamu, kan, tidak gemuk!” Tahan dulu reaksi semacam itu. Dan, jika alasannya tidak masuk akal sekalipun, biarkan ia menceritakan segala sesuatunya sampai tuntas. Yang perlu Anda lakukan adalah mendengarkan dan memvalidasi emosi-emosinya. Lalu baru Anda bisa mengatakan kepadanya mengapa Anda merasa lebih baik ia menerima dirinya apa adanya saja.
 
3. Tekankan Pentingnya Arti Kesehatan, dan Bukan Masalah Berat Badan. 
Bila anak merasa tidak puas berbicara dengan Anda atau mengatakan bahwa ia mau menjalani diet, jangan langsung memarahinya atau menganggap idenya bodoh, walaupun itu tidak benar. Atau, Anda justru mengiyakan! Jangan, ya…. Karena diet tanpa pengawasan dokter tidak dianjurkan, apalagi anak-anak belum perlu melakukannya.
 
Namun, sebagai ganti ide dietnya, coba tawarkan dia untuk mulai rutin melakukan olahraga yang menyenangkan, yang mungkin akan dia sukai. Misalnya zumba dance, bersepeda, jalan kaki keliling kompleks, atau inline skating. Tawarkan diri Anda sebagai teman berolahraga untuknya.
 
Jangan sekali-kali menyebut soal timbangan atau lainnya. Katakan kepadanya, ini bukan soal dia harus lebih kurus, namun itu merupakan cara terbaik untuk merawat tubuhnya.
 
Baca juga: Bolehkah Anak Diet?
 
4. Jaga Perkataan Anda. 
Coba cek diri Anda sendiri, ya. Anda mungkin tidak akan mengatakan bahwa ia harus menguruskan badan, tapi Anda sendiri ternyata selalu merasa kegemukan atau ingin memakai baju yang berukuran lebih kecil. Tiap berdandan Anda mengeluhkan pipi chubby Anda, atau merasa tubuh terlalu besar di cermin.
 
Bagaimana pun, anak akan mendengarkan apa yang Anda katakan atau keluhkan. Ingat, Anda merupakan role model yang paling berpengaruh baginya. Yakinkan dia bahwa tujuan Anda memberitahunya benar, kok. Dan, ia tak perlu merasa terlalu stres dengan tubuhnya yang dia pandang gemuk, bahkan jika dia memang benar kelebihan berat badannya.
 
Baca juga:
Benarkah Sarapan Rutin Cegah Anak Kegemukan?
Dampak Kegemukan pada Kesehatan Anak
Anak Di-bully Karena Bertubuh Gemuk
Pemanis Buatan Picu Kegemukan Pada Anak
 
Foto: Shutterstock
Updated: 2021


Topic

#usiasekolah #kesehatananak

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia