Anak Sekolah Sehari Penuh, Ini Kata Orang Tua!


Isu mengenai pendidikan selalu menarik untuk diperbincangkan karena tidak hanya berkaitan dengan masa depan anak sebagai individu, namun juga nasib suatu bangsa. Baru-baru ini dunia pendidikan Indonesia menuai polemik akibat wacana yang disosialisasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan – Prof. Dr. Muhajir Effendy, Drs., M.AP – tentang pemberlakuan Full Day School. Tujuannya, agar anak tidak sendirian sepulang sekolah, ketika orang tua masih bekerja. Meski baru wacana, pernyataan Mendikbud ini cukup banyak memunculkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Di antaranya, pendapat dari para orang tua yang kami kumpulkan dari Fanpage Facebook Parenting Indonesia berikut ini.

“Untuk saat ini, saya rasa kurang tepat wacana full day school. Banyak aspek dan sarana yg harus dipenuhi untuk menunjang hal tersebut. Penyediaan tempat ibadah di sekolah, kantin yang layak dan penambahan kelas di sekolah. Hingga saat ini msh banyak sekolah yang memiliki  shift pagi dan siang karena tidak cukup untuk menampung murid-muridnya. Terutama sekolah-sekolah di daerah terpencil.” – Yu Nii.

“Pak Menteri baru berwacana. Anak saya sejak kelas 3 SD sampai sekarang kelas 1 SMA sudah biasa full day school, masuk sekolah jam 7.30 pagi dan pulang sekolah jam 3.30 sore. Setelah itu ikut ekskul, malam ngaji dan bikin PR. Sabtu Minggu libur dia bisa melakukan kegiatan yang dia sukai tentunya tetap dibawah pengawasan saya dan suami. Dan anaknya enjoy sekali, tidak ada keluhan apapun.” – Liebe Rose.

“Saya tidak setuju. Guru mempunyai anak yang perlu diperhatikan. Anak-anak juga perlu istirahat dan waktu bermain. Kalau sekolah kelamaan jadi stress dan jenuh. Kita saja orang dewasa jika berada di satu tempat terlalu lama, bisa merasa bosan. Selain itu, tidak semua orang tua bekerja.” - Melvi

“Dua anak saya full day school, mereka bisa menikmati. Pelajaran dan ngajinya tidak ketinggalan. Sementara orang tua bekerja. Tempat belajar, kawan belajar, dan yang dipelajari anak semua terkontrol. Apa yang direpotkan? Soal fisik anak? Apa kalo anak di rumah mau istirahat yg betul? Di sekolah full day, tidak monoton belajar, lho, Ma.  Diselingi makan bersama solat jamaah dan ngaji bareng. Anak enjoy saja karena semua dilakukan bareng-bareng. Karena saya sudah merasakannya, jadi saya setuju banget. – Karbiat Nur

“Kalau saya kurang setuju, kebetulan saya tinggal di desa. Dengan fasilitas sekolah yang seadanya. Panas, kotor, toilet juga tidak jelas. Full day school mungkin lebih cocok di kota, bukan di desa.”- Damayanti Fauzi

“Ya, bagaimana dulu sistemnya. Kalau full day school sebagai pengganti pendidikan informal di luar sekolah tidak masalah. Misalnya belajar bernyanyi, alat musik, olahraga renang, bela diri, belajar bahasa asing, dsb. Itupun harus didukung oleh guru atau pengajar yang berkualitas, bukan asal atau ‘ecek-ecek’, juga tempat belajar mengajar yang baik dan nyaman.” – Hengki Simanjuntak Papa- Jo

“Kenapa tidak dibuat 1 hari penuh, 1 mata pelajaran. Biarin deh dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Tapi anak-anak diajak keliling. Contoh pelajaran sejarah, ajak siswanya ke museum seperti outing class tapi tiap hari pelajarannya berbeda. Siapa tahu pemerintah mau membiayai. Katanya, kan, sebutannya bukan guru tapi fasilitator.” – Witburga Winarni Widiastuti.

“Setuju jika pihak sekolah bisa profesional, menfasilitasi siswa dengan benar dan baik. Kepribadian siswa baik yang introvert maupun extrovert juga berbeda. Perhatian lebih lanjut juga diperlukan untuk kasus pelecehan seksual dan mental siswa terhadap bullying.” – Rudyanto.

Full day school itu harusnya optional. Disesuaikan kebutuhan masing-masing anak dan orgtua. Seperti yang berjalan sekarang ini, orangtua yang cocok dengan full day school, ya,  silahkan cari sekolah dengan sistem tersebut. Sebaliknya orang tua yang tidak cocok, cari sekolah normal. Salah besar rasanya kalau dipukul rata di semua daerah. Jangan sampai hanya karena action plan menteri baru, sehingga mengorbankan seluruh anak di seluruh Indonesia. Kalau alibinya pembentukan mental anak, itu bukan tugas sekolah. Mental dan karakter anak itu dibentuk terutama di dalam keluarga di rumah. Kalau alibinya lagi supaya anak-anak tidak berkeliaran di mal atau kegiatan negatif. Wah, masih banyak, kok, anak yang pulang sekolah membantu orang tuanya bekerja dan itu bukan hal yang negatif. Saya sendiri orang tua dari 3 anak dan tidak cocok dengan full day school. Karena saya masih membutuhkan bounding dengan anak-anak. Masih ingin mendidik dan mengajarkan mereka nilai-nilai lain yang sepertinya tidak akan didapatkan di full day school. – Antea Maria

“Setuju banget, karena saya dan suami kebetulan kerja sampai sore. Toh sekarang banyak juga sekolah swasta yang sudah menerapkan sistem full day.” – Septy Markhamah

 


Topic

Rahasia Sukses Usia Sekolah

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia