Myopia Boom, Makin Banyak Anak-anak Pakai Kacamata



Dekade lalu, ketika ada seorang anak yang memakai kacamata, umumnya orang-orang akan berkomentar, “Masih kecil, kok, sudah pakai kacamata?” Memang, pada masa itu pemakaian kacamata identik dengan faktor usia. Notabenenya, kacamata lebih banyak dipakai oleh orang tua yang mulai mengalami rabun dekat.
 
Namun, belakangan ini, saat berjalan-jalan di tempat umum atau menjemput anak Anda di sekolah, Anda mungkin bisa melihat bahwa anak-anak yang berkacamata tidaklah sedikit jumlahnya. Belakangan, memang ada peningkatan jumlah populasi anak yang mengalami kelainan refraksi seperti rabun jauh atau myopia sehingga harus mengenakan kacamata. Kondisi ini disebut dengan myopia boom.
 
Sebetulnya apa yang menyebabkan peningkatan jumlah anak-anak yang memakai kacamata? dr. Adhi Wicaksono, SpM., Pediatric Ophtamomogy and Strabismus dari Rumah Sakit Mata Aini, Jakarta, menyebutkan bahwa gaya hidup anak-anak zaman sekarang menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko penggunaan kacamata. Gaya hidup menyumbang 45% penyebab kelainan refraksi di antaranya rabun jauh atau myopia yang sering dikenal dengan mata minus. Selebihnya, penyebab lain kelainan refraksi (membuat mata tidak dapat melihat dengan jelas) adalah karena genetika, prematuritas, ataupun kelainan mata seperti katarak, glaucoma, kerusakan kornea, dan sebagainya.
 
“Gaya hidup yang membuat anak-anak mengalami kelainan refraksi dan memakai kacamata. Ini disebabkan karena penggunaan mata untuk melihat dekat atau melihat layar dengan waktu yang lama,” tutur dr. Adhi. Aktivitas yang dimaksud dr. Adhi adalah membaca, menulis, menggambar terlalu dekat, atau menonton TV, bermain ponsel, dan komputer dalam waktu yang lama.
 
Ketika anak lebih banyak menggunakan matanya untuk melihat dengan jarak dekat, maka mata akan perlahan kehilangan kemampuannya untuk melihat jarak jauh karena tidak dibiasakan. Selain itu, radiasi dari layar elektronik juga sangat berbahaya bagi kesehatan mata.
 
dr. Adhi menunjukkan sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pemakaian gadget pada anak-anak di bawah usia 2 tahun selama lebih dari 2 jam sehari, dalam kurun waktu 2 tahun tersebut, berpotensi menyebabkan ia harus memakai kacamata.
 
Mengikuti rekomendasi dari American Academy of Pediatrics, anak-anak di atas usia 6 tahun sebaiknya dibatasi dalam screen time. Screen time tidak boleh mengganggu akivitas fisik anak-anak, waktu tidur, dan jadwal lain yang berkaitan dengan kesehatan. Sementara, untuk balita usia 2-5 tahun perlu dibatasi screen time-nya maksimal satu jam dalam sehari.
 
Tak hanya screen time, kurangnya aktivitas anak-anak di luar ruangan pun menambah daftar penyebab anak mengalami myopia. Untuk diketahui, beraktivitas di luar ruangan penting untuk mendorong anak untuk melihat dengan jarak jauh untuk mencegah myopia.
 
Baca juga:
Anak Perlu Pakai Kacamata, Ini 6 Tandanya!
Mitos Fakta Anak Pakai Kacamata
Ajak Anak Main di Luar agar Tidak Perlu Pakai Kacamata Minus
5 Pertanyaan Seputar Mata Minus pada Anak
10 Kiat Mencegah Mata Minus pada Anak
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK
 
 

 
 

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Myopia Boom, Makin Banyak Anak-anak Pakai Kacamata