Remaja, Rentan Bahaya




Kisah pilu dan drama yang dilakukan oleh remaja begitu ramai di portal-portal berita. Seorang remaja putri bunuh diri, terjun bebas dari ketinggian. Remaja laki-laki ditemukan tewas gantung diri di rumahnya. Gagal percobaan bunuh diri, seorang remaja dilarikan ke Rumah Sakit. Remaja ngebut, menabrak mobil tewaskan 6 penumpangnya. Pesta miras, beberapa remaja ditemukan tewas. Memperkosa gadis di bawah umur, 5 remaja ditangkap.

Itulah kisah ngeri yang terjadi pada remaja sepanjang abad. Ingat saja lagu ‘Darah Muda’-nya si Raja Dangdut Rhoma Irama tahun 70-an. Masih relevan untuk menggambarkan polah remaja zaman now. Merasa gagah, tidak mau mengalah, dan tidak berpikir panjang.

Orangtua kerap sulit memahami perilaku putra putri remaja mereka. Pertengkaran dan perdebatan kerap mewarnai pengasuhan para mama dan papa saat menghadapi anak-anaknya yang menginjak usia remaja. Impulsif, tidak rasional, dan berbahaya! Si remaja kerap tidak memikirkan konsekuensi perilakunya. Tentu saja hal ini membuat mama dan papa kerap naik pitam. 

Menghadapi perilaku mereka, kita tidak bisa hanya berkutat pada perilaku yang tampak. Sibuk memikirkan bagaimana mengajar mereka, tanpa tahu secara mendasar sumber dari perilaku mereka. Semua perilaku anak adalah akibat dari perkembangan otaknya. Perubahan dari otak masa kanak-kanak, remaja, menuju masa dewasa.

Amigdala – bagian otak yang bertanggung jawab untuk reaksi sesaat seperti ketakutan dan agresif – berkembang lebih dulu. Sementara frontal cortex – bagian otak yang mengendalikan pembuatan alasan dan membantu berpikir sebelum bertindak – berkembang belakangan. Bagian inilah yang terus menerus akan berubah, dan baru akan matang saat dewasa.

Perubahan lain pada otak remaja adalah peningkatan yang pesat koneksi antar sel otak, yang membuat antar bagian otak semakin efektif. Sel-sel sarafnya tumbuh myelin yang berlapis – yaitu lapisan sel saraf yang membantu proses komunikasi antar sel. Semua perubahan ini penting bagi perkembangan koordinasi antar pikiran, tindakan, dan perilaku.

Perubahan itu artinya otak remaja bekerja secara berbeda dari otak orang dewasa, ketika mereka mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah. Tindakan mereka diarahkan oleh reaksi amigdala – emosional – dan kurangnya berpikir matang dan logis yang berasal dari frontal cortex.

Kabar buruknya, remaja yang mengonsumsi obat terlarang dan alkohol perkembangan frontal cortex-nya makin melambat. Itu sebabnya remaja-remaja pecandu obat terlarang dan alkohol cenderung semakin berani melakukan hal-hal berisiko tinggi.
Akibat perubahan otak itu, remaja memiliki ciri-ciri ini:

  • Bertindak impulsif
  • Salah baca dan salah memahami kondisi sosial
  • Mudah celaka
  • Terlibat tawuran
  • Sangat rentan untuk berperilaku berisiko dan berbahaya
Para remaja cenderung kurang:
  •  Berpikir panjang sebelum bertindak
  • Menahan dan mempertimbangkan konsekuensi tindakan mereka
  • Mengubah perilaku berbahaya atau perilaku yang tidak pantas
Tidak aneh bila mereka kerap berada dalam situasi bahaya. Tapi perbedaan kondisi otak itu bukan berarti remaja tidak dapat membuat keputusan yang baik, atau tidak tahu antara yang benar dan yang salah. Itu juga bukan berarti mereka tidak bertanggungjawab terhadap tindakan mereka sendiri.

Orangtua perlu sadar akan perbedaan ini. Kesadaran akan hal ini akan membantu orangtua untuk bertindak tepat saat menangani si remaja. Guru, dan pembuat kebijakan juga harus paham kondisi ini sehingga dapat mengantisipasi dan mengelola perilaku remaja-remaja kita. (Imma Rachmani)

 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia