5 Tip Berdamai dengan Si Pembantah


 

Repot juga ya, bila si kecil selalu tak pernah menuruti apa yang orang tua katakan. Padahal, Anda sudah mengajaknya bicara dengan cara yang paling lembut. Saat Anda terpancing menggunakan nada agak tinggi, si kecil malah semakin keras menolak.
 
Misalnya saja, saat Anda mengajaknya untuk selalu menggosok gigi sebelum tidur, ia membantah. Ia justru berkelit, “Aku nggak habis makan apa-apa, kok. Jadi nggak perlu gosok gigi. Lagipula aku sudah ngantuk, Ma.” Belum lagi kalau Anda sudah memintanya untuk berhenti bermain gadget, ampun susahnya. Anda mungkin mengatakan bahwa terlalu lama bermain gadget bisa berdampak buruk pada kesehatan matanya. Namun ia justru menjawab dengan mencontohkan teman-temannya yang lain, “Si Boni, Adam, Danu juga baik-baik aja, kok, matanya. Padahal mereka lebih sering main gadget daripada aku. Mereka sampai sekarang nggak harus pakai kacamata.”
 
Dr. Deborah MacNamara, Ph.D., seorang konselor klinis dari Neufeld Institute mengatakan bahwa manusia secara alamiah dipersiapkan untuk menjadi oposisi. Menurutnya, itu adalah hal yang lumrah. Ia menjelaskan, setiap orang memiliki sisi kontra yang membuat mereka menolak, melawan, dan menentang kapan pun mereka merasa dikendalikan.
 
Bagi Deborah, hal tersebut bukanlah kesalahan dalam sifat manusia, melainkan sebuah naluri yang berfungsi penting. Deborah mengingatkan bahwa tantangan bagi orang tua adalah bersikap bijak untuk menghadapi bantahan dari anak-anak agar mereka tidak rentan terhadap ekspresi perlawanan.
 
Untuk menghadapi anak yang selalu membantah, ada beberapa tip yang bisa membantu Anda:
 
1. Ciptakan Keinginan, Bukan Keharusan
 
Anak-anak tidak suka berada pada pihak yang diharuskan. Sebab, hal itu membuat mereka merasa dikendalikan dan mudah bagi mereka untuk menentang. Ketimbang memberitahunya bahwa ia harus menggosok gigi, sebaiknya ciptakanlah keinginannya untuk menggosok gigi sebelum tidur. Ajak ia untuk menggosok gigi bersama-sama. Katakan padanya, “Kamu ingin gigi kamu bersih dan putih seperti idola kamu, kan? Pasti gigi kamu kelihatan bagus sekali dan banyak yang suka nantinya.” Atau bisa juga dengan mengatakan, “Giginya digosok ya, biar tetap bisa makan yang enak-enak. Kalau giginya sudah berlubang pasti nggak enak kalau dipakai makan.”
 
2. Wujudkan Kooperatif, Bukan Patuh
Biasakan untuk membuat aturan dengan persetujuan si kecil. Misalnya saja tentang aturan bermain gadget, belajar, dan tidur malam. Buka kesempatan baginya untuk memberikan pendapat pada aturan tersebut. Jika sudah sama-sama setuju, maka aturan berlaku. Dengan adanya peraturan, si kecil akan selalu ingat bahwa ia harus melakukan apa di jam berapa, dan sebagainya. Sehingga ketika si kecil tidak melaksanakannya, Anda tinggal mengingatkan kembali aturannya. Hal yang berbeda mungkin terjadi ketika aturan belum dibentuk. Anda mungkin akan berkali-kali menyuruhnya belajar dan ia juga berkali-kali membantah Anda. Kalaupun ia akhirnya menuruti Anda, itu karena kepatuhan, bukan karena kooperatif.
 
3. Sepakati Konsekuensi Bersama
Saat mengajukan aturan pada si kecil, libatkan ia juga untuk menyepakati konsekuensinya. Dengan begitu, ia tak dapat mengelak lagi saat ia melanggar aturan yang sudah dibuat. Anda tinggal katakan padanya, “Ini bukan keputusan Mama sepihak. Kamu sudah sepakat dengan konsekuensi itu.”
 
4. Berikan Opsi
Alih-alih memberikan ancaman kosong, berikan opsi padanya. Misalnya saja, Anda bisa mengatakan, “Kamu mau mengerjakan PR sekarang atau terus bermain? Kalau mau melanjutkan bermain, silahkan saja. Tapi, itu artinya besok kamu perlu bangun lebih pagi dan harus menyelesaikan PR terburu-buru karena Mama akan sibuk menyiapkan sarapan dan tidak bisa membantu kamu.” Dengan memberikan opsi ini, ia akan segera tergerak untuk memilih mana yang penting.
 
5. Buka Jendela tentang Dunia
Anda bisa bercerita tentang masa depan di dunia nyata pada anak-anak. Beritahu padanya bahwa bos atau atasannya di masa depan nanti tidak akan mau berdebat kusir dengannya. Bos tidak akan mengingatkan berkali-kali agar mereka menyelesaikan tugasnya. Bahkan, mereka mungkin akan menerima konsekuensi yang tidak diharapkan.
 
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FOTOSEARCH
 
 
 
 

 
 
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia