Anak Malas Belajar? Ini Alasannya!

Menurut Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, psikolog keluarga yang juga founder HeartSprings Therapy Center & Diana and Associate, malas belajar merupakan masalah yang menduduki posisi paling atas pada anak-anak praremaja alias preteen. Dan, yang namanya praremaja itu adalah anak yang berusia 10 -12 tahun. “Bayangkan, diperkirakan persentase masalah ini bisa mencapai sekitar 70 persen atau lebih. Tidak heran kalau orang tua sering kali pusing menghadapi anak usia ini,” katanya lagi.

Penyebab: Umumnya, anak praremaja s
udah duduk di kelas 4 SD dan pelajaran sedang susah-susahnya. Anak bukannya semakin rajin, namun makin sebal. Bagaimana tidak? Tuntutan belajar makin tinggi, tapi sebenarnya mereka masih ingin bermain.

Lakukan ini! Orang tua harus menjelaskan kepadanya mengapa ia harus belajar. Hal ini dimungkinkan karena nalarnya sudah berkembang dengan baik. Jadi, ia harus benar-benar mengerti arti dan manfaat belajar untuknya. Misalnya, belajar sains. Melalui sains, ia bisa mengetahui peristiwa alam, seperti gerhana. Mengapa terjadi gerhana dan apa dampaknya, dll. Selain itu, Anda harus membangkitkan kembali minat belajarnya sekaligus mengarahkannya. Misalnya, anak senang nonton TV. Pilihlah program TV yang baik. Dari sini, jelaskan kalau pintar berhitung, misalnya, ia bisa membuat bangunan yang menjulang tinggi, dll.

Perlukah ke psikolog? Jika anak terlihat benar-benar malas sekali belajar. Namun, Anda jangan terburu-buru memberi label anak malas belajar. Bisa jadi, ia memang kurang fokus saja belajarnya karena ia adalah anak dengan ADHD (Attention Defi cit Hyperactivity Disorder) tapi ringan. Dan, kondisi ini tidak terlihat sebelumnya. Bisa jadi, ini karena ia belajar di sekolah yang lebih berbasis Amerika. Pada sekolah ini, anak belum terlalu belajar hingga kelas 3 SD. Juga, ia tidak harus duduk tenang, masih banyak main, dll. Sistem seperti ini disebut active learning. Berbeda dengan sekolah yang berbasis Singapura. Di sini, anak harus duduk tenang dan banyak menulis. Jika kurang fokus, hal ini terlihat pada usia yang lebih dini. Bila Anda mulai curiga pada anak, boleh saja dibawa ke psikolog. “Untuk dilihat saja. Kadang-kadang anak perlu seseorang untuk diajak ngobrol. Bagaimana pun, tidak semua anak memiliki
hubungan yang baik dengan orang tuanya. Psikolog bisa melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Jadi, tidak cuma menyalahkan atau memarahinya saja. Jika orang tua hanya memarahi saja, mau tidak mau ia akan malas ngomong,” katanya lagi.

Tip: Sebaiknya Anda tenang dulu. Anak sedang berada dalam fase transisi, yang ia sendiri sedang bingung apakah sudah besar atau masih kecil.

 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia