3 Masalah Makan Balita dan Cara Mengatasinya


 

“Anakku sudah 1,5 tahun, tapi makannya masih suka diemut. Jadi, kalau makan lama sekali, butuh satu sampai satu setengah jam.” Cicilia (32 tahun).
 
“Anakku aneh, kalau hari ini lahap, besoknya bisa nggak mau makan sama sekali. Bisa dibilang, dia itu makannya seolah-olah seperti tiap dua hari sekali.” Safira (26 tahun).
 
“Anakku malas banget makan. Dia sukanya cuma ayam goreng. Padahal, kan, dia butuh nutrisi lain.” Diana (29 tahun).
 
Ini adalah segelintir keluhan Mama tentang kebiasaan makan anaknya yang barangkali dialami oleh banyak Mama lain. Seringkali harapan Mama tidak sesuai dengan fakta di meja makan. Anda sudah berpikir keras memutar otak untuk memilih menu dan bekerja di dapur, eeh, si kecil malah tidak mau makan. Hal ini tentu membuat semua emosi bercampur, kesal, marah, sedih, dan khawatir mengenai pemenuhan nutrisinya.
 
Berikut ini adalah beberapa masalah makan balita yang paling umum terjadi dan cara mengatasinya:
 
Dulu Makannya Lahap, Sekarang Nafsu Makannya Turun
Tahukah Mama bahwa penurunan nafsu makan pada balita adalah hal yang sangat lumrah? Menurut Canadian Pediatric Society, biasanya anak-anak mengalami penurunan nafsu makan di usia 2 tahun. Pada usia ini, kecepatan pertumbuhan balita melambat. Hal ini berkolerasi dengan kebutuhan kalorinya yang juga tidak sebanyak awal MPASI.
 
Yang bisa Anda lakukan:
Dr. Andrea McCoy, M.D., profesor pediatrik di Penn State College of Medicine, AS, menyarankan memberikan makanan dalam jumlah yang lebih kecil sebanyak 5 sampai 6 kali ketimbang memaksanya menghabiskan makanan dalam porsi besar sebanyak 3 kali sehari. Jika dia menolak beberapa kali makan, tak perlu panik dan mencoba memaksanya atau menyuapnya untuk makan. Balita umumnya bisa memenuhi kebutuhan nutrisi yang mereka butuhkan, bahkan ketika pola makan mereka tidak menentu.
 
Selalu Main-main
Anda pasti kesal ketika harapan Anda bahwa si kecil akan melahap habis makanan yang sudah Anda sediakan berakhir pada meja yang berantakan. Bukannya makan, si kecil malah memainkan makanannya. Ia membuang-buang beberapa potong sayur atau daging, melemparkan nasi, dan memutar-mutar mienya. Siapa yang tak kecewa.
 
Tapi coba sabar dulu, Ma. Jan Faull, M.Ed., pakar parenting dan early childhood development dari Seattle, AS, yang telah menulis banyak buku parenting mengatakan bahwa pada usia ini, balita menghabiskan setiap waktu untuk bereksperimen. Ia menganggap waktu makan sebagai waktu bereskplorasi juga. Ia ingin tahu apa yang terjadi saat makanannya jatuh, dan lain sebagainya. Ini adalah fase yang akan berlalu.
 
Yang bisa Anda lakukan:
Tidak perlu menghukum karena hanya akan membuat anak-anak takut dan trauma. Sebaiknya beri ia contoh makan yang baik dengan makan bersamanya. Selalu beri respon positif ketika ia berhasil melakukan sesuatu yang tepat.
 
Makan Itu-itu Saja
Si kecil tidak mau makan menu lain. Ia sudah punya menu favorit yang tidak bisa digantikan. Mama tentu cemas tentang pemenuhan gizi si kecil. Mama juga khawatir bahwa si kecil tumbuh menjadi seorang picky eater.
 
Tapi, Jan Faull, M.Ed mengatakan bahwa balita memang begitu. Mereka suka mainan yang sama, lagu yang sama, baju yang sama, juga makanan yang sama. Ini adalah bagian yang normal dari perkembangannya.
 
Yang bisa Anda lakukan:
Terus beri contoh makan makanan sehat yang beragam di depannya. Selalu berikan ia pilihan di meja makan—terlepas dari apakah ia mengambilnya atau tidak. Perlahan Anda bisa mengenalkan makanan lain dengan cara mencampur makanan yang ia suka dengan menu baru agar lebih bisa diterima.
 
Kita semua tahu bahwa untuk melakukannya memang tak semudah membalikkan tangan. Namun, semua ini butuh kesabaran Anda untuk menciptakan kebiasaan makan yang sehat.
 
Baca juga:
10 Alasan Balita Tidak Mau Makan
Masalah Makan yang Bukan Masalah
Anak Susah Makan, Dua Masalah Ini Bisa Jadi Penyebabnya
Anak Susah Makan, Perlukah Vitamin?
7 Makanan Super untuk Tingkatkan Kecerdasan Anak
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: STUTTERSTOCK
 
 
 

 
 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia