Anak Demam Setelah Liburan dan Mudik, Kapan Perlu Waspada?

bagaimana mengatasi demam anak pasca lebaran


Saat ini, jika 
anak mengalami demam setelah bepergian jauh seperti liburan atau mudik dan bertemu banyak orang, sebaiknya Anda tidak hanya mencurigai COVID-19 sebagai penyebabnya. Dari studi yang diungkap Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), akrab disapa dr. Anggi, Ketua UKK Infeksi Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), demam akut adalah yang paling kerap terjadi di Indonesia, yang disebabkan oleh virus Dengue 47%, Salmonella Typhi/Paratyphi (10%), Ricketssia typhi (10%), Influenza virus (7%), Lepstopira spp. (5%), dan virus Chikungunya (4%).
 
Selain itu, penyebab demam lainnya adalah infeksi saluran kencing, terutama pada anak-anak yang suka menahan buang air kecil karena perubahan suasana, toilet berbeda, toilet tidak bersih, atau kondisi lainnya.
 
Cek, Cek, Cek!
Karena bisa banyak gejala dan penyebabnya, begitu anak demam, menurut dr. Anggi, sebaiknya orang tua mengingat beberapa poin berikut ini:


1. Lihat kondisi menyeluruh, jangan cuma demamnya saja. Curigai dengue, karena ini yang paling sering terjadi, bukan. Selain itu, jika anak mengalami demam selama seminggu dan sudah mengonsumsi segala macam jajanan dan junk food, ingat tipes atau paratipes. Jika demam disertai sakit kepala dan sakit tenggorokan, selain COVID-19, ingat juga influenza. Kalau selama liburan atau mudik anak main di lapangan yang banyak becek-becek, banyak terluka atau tergores, main kotor, dan lupa mandi, lalu ia mengalami demam, badannya sakit-sakit, curigai lepstopira. Sementara, gejala chikungunya mirip dengue, tapi lebih ringan. Baca juga: Beda Gejala Demam DBD dan COVID-19

2. Catat kapan anak mulai demam dan bagaimana pola demamnya. 

3. Adakah tanda lain yang muncul, misal merah-merah atau ruam-ruam. Karena tiap penyakit memiliki kekhasan masing-masing. 

4. Perhatikan aktivitas anak. Masih lincah atau tidak? Mau makan/minum? Jangan lupa amati BAK-nya, apakah normal 3-4 jam sekali dan bagaimana pula BAB-nya. 

5. Cek apakah terdapat tanda bahaya atau tidak? Anak wajib dibawa ke dokter atau rumah sakit jika menunjukkan tanda-tanda bahaya sebagai berikut:
- Usia anak kurang dari 3 bulan. Begitu demam, tanpa memandang keadaan anak secara umum, wajib dibawa ke dokter.
- Anak usia 3 bulan ke atas hingga 6 tahun, cek sudah berapa lama ia demam, apakah sudah 3 hari dan suhunya hingga 39 derajat Celcius? Jika ya, segera bawa ke dokter.
- Ada kejang atau kejang demam.
- Demamnya berulang.
- Kurang respons atau susah dibangunkan atau tidak bisa bergerak.
- Sesak atau kesulitan bernapas.
- Bibir, lidah kuku kebiruan.
- Pada bayi ubun-ubunnya menonjol atau cekung.
- Menangis terus.
- Air liur keluar terus dan tubuh condong ke depan.
- BAK sakit atau jarang.
- Ada kekakuan di leher
- Nyeri perut hebat atau muntah-muntah.
- Ruam kulit seperti memar.
- Tidak mau makan dan minum.
- Anak gelisah.
 
Baca juga: Tenang Hadapi Demam Pertama Anak
 
Pemeriksaan Laboratorium
Untuk mengetahui apa penyebab demam, tidak jarang diperlukan pemeriksaan laboratorium. Bijakkah melakukan pemeriksaan laboratorium secara mandiri atau sebelum ke dokter? Menurut dr. Anggi, sisi baiknya adalah lebih cepat, tidak harus bolak-balik ke dokter, dan harapannya, dokter dapat langsung mendiagnosis saat anak diperiksa berdasarkan data yang ditemukan dari hasil laboratoriumm yang dibawa orang tua.
 
“Tapi, kurang baiknya, mungkin pemeriksaan darahnya tidak tepat atau kurang lengkap, mungkin dokter minta anak di-swab karena arahnya lebih ke COVID-19. Mungkin terlalu cepat atau lambat. Artinya, pemilihan apa yang harus diperiksakan bisa jadi kurang tepat. Sehingga, pemeriksaan dokter (terlebih dulu) itu sangat penting,” kata dr. Anggi.
 
Jika dilakukan pemeriksaan darah berulang, tentu akan menambah biaya dan anak jadi dua kali ditusuk dengan jarum.
 
Sedikit berbeda pada COVID-19, yang bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium tanpa rujukan dari dokter. Jika dilakukan pemeriksaan segera justru sangat membantu, karena ada hubungan dengan penularan yang sangat mudah. Dengan tahu cepat (lewat PCR), maka bisa dilakukan isolasi segera.
 
Baca juga: Gejala 4 Penyakit Ini Ruam dan Demam. Bagaimana Membedakannya?
 
Tangani Demam dengan Benar
Demam merupakan reaksi normal tubuh yang bermanfaat melawan kuman. “Dengan adanya demam, tubuh justru bisa menekan mikroorganisme untuk tumbuh,” kata dr. Anggi.
 
Namun, bagaimana pengobatan dan cara menurunkan demam yang tepat?

  • Berikan obat penurun demam, apabila anak tidak nyaman. Penurun demam akan membuat aktivitasnya terjaga, mood bagus, nafsu makannya kita harapkan akan lebih baik, setidaknya mau minum. Kapan memberikan obat penurun demam? Ketika suhu mencapai 38 derajat Celcius-38,5 derajat Celcius. Namun, obat penurun demam atau antipiretik tidak efektif untuk mencegah bila anak mempunyai kejang demam. Apalagi di usia balita, Anda perlu berhati-hati jika anak mengalami kejang demam. Tapi ketahui juga aturan pemberiannya di sini: Anak Demam, Jangan Asal Diberi Parasetamol!
  • Dokter akan memberikan obat antikejang, jika terjadi kejang demam.
  • Obat-obatan lainnya, tergantung diagnosis penyakit. Misalnya, kalau penyebabnya virus, dokter tidak akan memberikan antibiotik, karena antibiotik untuk melawan bakteri.
  • Biarkan anak beristirahat, tapi jangan paksa anak untuk bed rest kalau dia masih bisa beraktivitas ringan.
  • Kompres hangat akan sangat membantu, terutama di lipatan-lipatan, untuk menurunkan demamnya. Tapi jangan sekali-kali memberikan kompres dingin atau alkohol. Kompres dingin malah memberikan sinyal tubuh kita di otak untuk meningkatkan suhu tubuh, sementara kompres alkohol sangat berbahaya karena bisa menyebabkan hipoglikemia dan koma.  
 
Baca juga:
5 Gejala Demam yang Harus Diwaspadai
Siap-Siap Lawan Demam Berdarah
Anak Demam Setelah Imunisasi
Demam Bukan Selalu Tanda Sakit
 
grc
Foto: Shutterstock

 


Topic

#balita #kesehatananak

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Anak Demam Setelah Liburan dan Mudik, Kapan Perlu Waspada?