Jangan Langsung Emosi, Pahami Penyebab Balita Melakukan 6 Hal Ini




Di usianya yang ke-2, anak sudah mulai memiliki daya analisis berkat perkembangan berpikirnya yang pesat. Ia mulai belajar dari informasi yang ia dengar dan mencontoh apa yang ia lihat. Tak heran, kemampuannya menyerap banyak hal membuatnya dengan mudah menciptakan keahlian-keahlian baru yang tak selalu dapat Anda terima dengan senang hati, seperti di bawah ini:


MERENGEK
Bagi anak, kehilangan perhatian walau hanya sebentar bisa membuat ia kecewa. Maka, ketika ia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaannya, ia pun akan merengek.

Lakukan ini:
  • Jika disebabkan penolakan Anda, maka berikan alasan yang jujur kenapa Anda menolak keinginannya.
  • Rekam suara atau gambar saat ia merengek, lalu putar rekaman itu di waktu lain agar anak mendengar dan melihat sendiri sehingga ia berpikir ulang, jika ingin melakukannya kembali.

BERBOHONG
Ada beberapa alasan mengapa anak berbohong. Pertama, karena ia belum bisa memisahkan antara dunia nyata dan imajinasi. Misalnya, ia ingin sekali punya adik dan ia mulai mengatakan ke orang-orang bahwa Anda sedang mengandung adik laki-lakinya, padahal tidak. Atau, memang ia berbohong untuk memungkiri telah melakukan sesuatu, seperti memecahkan piring karena takut Anda akan memarahinya.

Lakukan ini:
  • Menegaskan bahwa berbohong itu perilaku yang tidak baik.
  • Jangan langsung percaya omongan anak. Cari tahu dulu kebenarannya dari pihak lain sebelum Anda mengambil sikap.
  • Jika ia berbohong karena belum bisa membedakan antara fakta dan khayalan, jangan langsung hancurkan khayalannya. Ajak ngobrol, sambil diselipkan fakta-fakta sesungguhnya.

SERING MARAH
Berbagai hal bisa memicu anak untuk marah yang berujung kepada tantrum. Tantrum bisa hadir dalam berbagai bentuk, seperti menjerit keras di tengah keramaian atau memukul-mukul. Umumnya terjadi karena anak merasa kesal dan tidak nyaman, dan ini merupakan jalan pintasnya untuk meluapkan perasaannya.

Lakukan ini:
  • Cari tahu kondisi anak saat marah, apakah karena rasa lapar, bosan, atau terlalu lelah. Dengan mengetahui pasti penyebabnya, Anda jadi tahu cara penanganannya.
  • Ajak anak mengenali emosi marah, dan setelah ia mengenali rasa marah, ajak ia menyalurkan emosi sesuai koridor.

MELANGGAR ATURAN
Ketika anak melanggar aturan yang Anda terapkan, hal itu semata karena aturan itu tidak sesuai dengan keinginannya, dan ia belum bisa mengontrol diri. Namun di sisi lain, ia justru senang melanggar karena mencari perhatian dari orang di sekitar.

Lakukan ini:
  • Jangan langsung marah. Dekati dan ajak ia dengan menggandeng atau menggendong, sambil mengatakan apa yang ia lakukan tidak benar.
  • Beri apresiasi saat anak mengikuti aturan sehingga ia dengan senang hati mengulangi perbuatan itu, seperti bilang terima kasih saat ia membuang sampah di tempatnya.
  • Hindari situasi yang memungkinkan anak melanggar aturan. Misalnya, saat ia tidak mau membereskan mainan, maka siapkan tempat mainan khusus yang disenanginya agar ia mau mengembalikan mainan ke tempat tersebut.

SELALU BILANG TIDAK
Balita yang sering bilang tidak bisa saja belajar dari diri Anda yang juga sering melakukan hal yang sama padanya. Namun, berkata tidak, sangat normal pada balita usia ini karena ini adalah cara yang sehat baginya untuk memiliki kontrol atas dirinya.

Lakukan ini:
  • Jadilah teladan. Dengan melihat orang tuanya melakukan hal yang baik, maka ia pun tertantang melakukan hal serupa.
  • Tanya dengan nada biasa-biasa saja apa alasan anak menolak melakukan permintaan Anda. Ia akan belajar memiliki alasan atas keputusan yang ia ambil.
  • Lakukan hal bersama-sama, seperti saat ia tidak mau sikat gigi, maka ajak ia sikat gigi bersama.

SENANG TELANJANG
Menolak mengenakan baju adalah salah satu bentuk sikap balita untuk mengukuhkan kemerdekaannya dan senang mencari perhatian Anda. Namun, ingatlah, ini hanya salah satu fase yang memang umum dialami dalam periode tumbuh kembangnya.

Lakukan ini:
  • Beri pilihan dengan mengatakan: “Mau pakai baju setelah lari keliling ruangan 4 kali atau mau pakai sekarang?“ Dengan memberi pilihan, ia cenderung akan memilih dan mengakhiri ‘drama’ telanjangnya.
  • Ajak ia ikut memilih baju yang akan ia pakai, dan bantu ia mengenakan baju dengan tangannya sendiri.
  • Beri penjelasan tentang konsekuensi: Jika ia terus telanjang, maka akan masuk angin, dan jika masuk angin, akan muntah.
  • Beri respons sewajarnya. Jika terlalu berlebihan, maka ia cenderung mengulangi drama telanjang ini.

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia