Wajib Tahu! 10 Pemicu Stres saat #WFH


 

Tak terasa sudah hampir tiga bulan Anda menjalani work from home. Berbagai thread tentang uniknya kerja dari rumah banyak bertebaran di media sosial dan menjadi bahan hiburan, misalnya saja tentang seseorang yang berkemeja dan berdandan lengkap saat conference call namun ternyata di bawahnya hanya memakai celana pendek, dan hal tersebut diketahui lantaran si kecil yang tak sengaja masuk ke ruang kerjanya berseru mempertanyakan padu padan pakaian yang kurang pas itu. Ada juga yang sedang fokus presentasi di rapat daring atau online malah diteriaki keluarganya untuk mengangkat jemuran.
 
Memang ada hal-hal dari WFH yang bisa membuat Anda tersenyum. Akan tetapi, hal tersebut mungkin jumlahnya tidak lebih banyak daripada yang dikeluhkan oleh para ibu. Ya, sebagian orang mungkin awalnya mengira bahwa dengan WFH, maka pekerjaan kantor bisa disambi dengan tugas lainnya yang tak bisa dikerjakann saat harus ngantor. Ternyata, yang disebut dengan “disambi” ini tidak semudah yang dikira.
 
Coba saja bayangkan: kerja disambi mengasuh anak, disambi mendampingi anak belajar online, disambi menemani anak mengerjakan tugas, disambi mengerjakan pekerjaan rumah. Pada akhirnya semua “sambilan” tersebut malah menjadi beban berat bagi ibu.
 
Nah, apakah Anda merasakan hal serupa? Ternyata, bagi para ibu, tekanan saat WFH bukan hanya kesulitan berkomunikasi dengan tim seperti yang dialami oleh mayoritas orang lain. Erica Djossa, M.A., psikoterapis yang fokus pada kesehatan mental maternal di Kanada, mengatakan bahwa ada beberapa sumber stres yang tidak terlihat di balik bekerja dari rumah yang dialami hanya oleh orang yang sudah menjadi ibu. Apa saja, ya?

1. Susah Fokus

Saat Anda di kantor, fokus Anda adalah menyelesaikan pekerjaan kantor. Begitu juga saat Anda sampai rumah, maka fokus Anda langsung beralih ke keluarga. Ini biasanya nampak sudah seperti automatic mode, ya. Nah, bagaimana dengan WFH? Seperti yang sudah diceritakan di awal tadi, banyaknya sambilan tentu membuat Mama lebih susah untuk tetap menjaga fokus pada pekerjaan kantor semata.

2. Merasa Bersalah

Saat Anda harus berangkat ke kantor, perasaan bersalah karena meninggalkan si kecil tentu ada. Akan tetapi, dengan kerja di rumah tak membuat Anda bebas dari perasaan bersalah ini. Anda justru merasa bersalah karena tidak bisa terlibat bermain atau menemani si kecil makan, padahal Anda dan si kecil sama-sama berada di rumah. Banyak ibu yang membagikan cerita harus mengunci dirinya di kamar atau ruangan tertentu saat bekerja agar si kecil tidak “menempel”.

3. Mom’s Break

Saat di kantor, jam istirahat Anda jelas: yakni pada saat makan siang. Akan tetapi, saat WFH, Anda harus lebih banyak mengalokasikan waktu istirahat dari pekerjaan untuk “pekerjaan ibu” seperti menyusui, menenangkan si kecil yang menangis, atau menemani si kecil tidur siang. Ini tentu menyita waktu Anda.

4. Terlalu Banyak “Keharusan”

Anda menerima arahan dari atasan untuk mengerjakan sesuatu dan di saat yang bersamaan Anda juga menerima arahan dari guru si kecil untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Semuanya harus dikerjakan. Dan, situasi ini terasa tidak mudah bagi semua ibu.

5. Memprioritaskan Orang Lain Hingga Pekerjaan Menumpuk

Nah, siapa yang begini? Sering kali, kita terlalu memprioritaskan menemani si kecil, membuat masakan yang menyenangkan mulut dan perut semua anggota keluarga hingga akhirnya pekerjaan kantor menumpuk lantaran tak ada lagi waktu yang tersisa di hari itu.

6. Berusaha Tetap Waras

Kedengarannya ini nampak sebagai hal yang positif. Tapi, percayalah, ketika Anda gagal merasa waras (sehat jasmani dan rohani) saat Anda berusaha tetap waras, maka Anda akan semakin merasa tidak waras.

7. Batas Waktu yang Kabur

Tidak ada batas yang konkret antara kapan mulai dan kapan berhenti. Semua hal yang harus Anda selesaikan sangat membebani secara waktu. Tak jelas kapan waktunya Anda bekerja dan kapan mengasuh anak.

8. Ganti Topeng

Sama seperti batas waktu yang kabur, saat bekerja di rumah Anda juga dituntut bisa mengubah peran kapan pun. Kapan Anda jadi seorang staf, jadi seorang manajer rumah, atau jadi seorang teman bagi anak-anak.

9. Memenuhi Kebutuhan Emosional Anak-anak

Saat Anda di rumah, anak-anak pasti ingin selalu di dekat Anda dan melibatkan Anda di seluruh aktivitasnya. Sayangnya, hal tersebut tak mungkin. Melihat kebutuhan emosionalnya tak bisa terpenuhi walau Anda “bersamanya” tentu menghadirkan emosi yang negatif pula di diri Anda.

10. Mengontrol Anak Belajar Daring

Bagi si kecil yang belum punya ponsel atau laptop pribadi, Anda tentu akan punya tugas untuk jadi manajer sekolah jarak jauhnya juga. Anda lah yang bertugas menyampaikan apa saja tugas dari gurunya maupun kapan harus dikumpulkan. Pekerjaan ini terlihat sepele tapi tak mudah juga untuk dilakukan. Belum lagi Anda harus membangkitkan
mood si kecil untuk belajar di rumah.
 
 
Baca juga:
7 Tip Mengatur Rutinitas Baru Selama #dirumahsaja
Tip Mengatur Jadwal Si Kecil Selama #diRumahSaja
11Tip Tetap Produktif Selama Kerja dari Rumah (Bagian 1): Suami to the Rescue
11 Tip Tetap Produktif Selama Kerja dari Rumah (Bagian 2): Komitmen Mama
11 Tip Tetap Produktif Selama Kerja dari Rumah (Bagian 3): Mengendalikan Anak-anak
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK

 
 
 
 

 


Topic

#corona #coronavirus #covid19 #covid-19

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia