5 Langkah Mengelola Uang Angpau Anak Jangka Panjang


 

Imlek atau Tahun Baru Cina menjadi momen yang menyenangkan untuk anak-anak. Bukan hanya karena aktivitas menghias rumah dengan lampion, banyaknya jajanan khas Imlek, atau bisa menonton berbagai macam pertunjukan saja. Imlek tentu menjadi ladang “rejeki” untuk anak-anak karena di momen ini mereka akan mendapat banyak amplop merah atau angpau.
 
Ya, di dalam tradisi masyarakat Tionghoa, angpau atau amplop merah berisi uang selalu diberikan oleh orang-orang dewasa dalam keluarga kepada anak-anak. Anak-anak tentu mendapatkan lebih dari dua atau tiga amplop, tergantung pada seberapa besar keluarganya. “Kalau dihitung-hitung, setiap tahun, anak saya bisa dapat enam digit, lho, dari angapaunya,” ujar Virgina (29 tahun). Seorang Mama lain, Fenny (34 tahun) menceritakan seberapa banyak kisaran jumlah pendapatan anak-anaknya dari angpau. “Keluarga besar saya tipe orang yang sangat royal kalau ngasih angpau ke anak-anak. Apalagi, kalau mereka di tahun kemarin pas dapat banyak rejeki, banyak kerjaan, banyak proyek, nah, makin gede-gede, tuh, isi amplopnya. Semua anak saya kebagian, ada tiga anak, hehehe. Satu anak bisa dapat total jutaan, lho, kalau dikumpulkan,” ujarnya tanpa menyebutkan nominal pasti.
 
Lantas akan digunakan untuk apa uang angpau si kecil? Membeli mainan yang sudah ia incar? Dipakai oleh orang tua untuk memenuhi kebutuhan lain karena si kecil dianggap belum bisa mengelola uang? Atau dipakai untuk berlibur bersama?
 
Rencana Jangka Panjang Sejak Dini
Ada rencana jangka panjang yang bisa Anda lakukan dengan uang angpau anak-anak Anda, yakni mengajarkannya investasi. Apakah bisa di usianya yang semuda itu? Tentu saja, penelitian dari University of Cambridge, Inggris, mengungapkan bahwa kebiasaan keuangan anak-anak mulai terbentuk sejak usia 7 tahun.
 
Beth Kobliner, ahli finansial personal di New York sekaligus penulis buku Make Your Kid a Money Genius (Even if You’re Not) mengatakan bahwa semakin cepat orang tua mulai memanfaatkan momen harian untuk mengajarkan perihal uang, maka akan semakin baik anak-anak kita. “Orang tua adalah pengaruh nomor satu bagi perilaku keuangan anak-anak. Maka, orang tua akan berperan apakah akan membangkitkan generasi konsumen, investor, penabung, atau seorang dermawan,” tuturnya.
 
Caranya: Dari Anak-anak Untuk Anak-anak
Edwin Gan, konsultan keuangan Income, sebuah perusahaan asuransi di Singapura sekaligus ayah tiga anak memberikan tip untuk mengelola uang angpau anak-anak Anda dalam jangka panjang sekaligus mengajarkan mereka tentang investasi.
 

1. Duduk dan Hitung Bersama

Ajak si kecil duduk bersama untuk membuka amplop-amplop merahnya dan hitung jumlah uang yang ia dapatkan. Anda bisa mengajarnya menghitung sesuai pecahan. Misal, pecahan Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, dan Rp100.000. Totalkan jumlah semuanya.
 

2. Berdiskusi Tentang Tujuan Keuangan “Jangka Pendek” dan “Jangka Panjang”

Setelah Anda dan anak-anak tahu berapa jumlah total angpau yang diterima, tanyakan kepada mereka untuk apa uang itu bisa dipergunakan sebaik-baiknya. Beberapa anak mungkin sudah merencanakan akan membeli mainan atau lainnya. Di sinilah peran awal Anda untuk menjelaskan perbedaan tujuan keuangan “jangka pendek” dan “jangka panjang.”
 
Tunjukkan bagaimana menunda kepuasan dengan tidak membelanjakan habis uang saat itu juga. Anda bisa menjelaskan bahwa sebagai gantinya, ia bisa menunggu angpau di tahun-tahun berikutnya atau hadiah uang lainnya untuk menghasilkan jumlah uang yang lebih besar. Dengan begitu, ia akan punya lebih banyak opsi tentang apa yang bisa dibelinya.
 

3. Mulai dengan Menabung

Sebelum masuk untuk menjelaskan investasi, Anda bisa mulai dengan penjelasan tentang menabung. Menurut Gan, Menabung adalah hal mendasar dalam pengelolaan uang. Ajarkan anak-anak pentingnya menabung terlebih dahulu sebelum memperkenalkan ide-ide investasi.
 
Bila sebelumnya Anda selalu menyimpan uang angpau anak Anda sejak ia masih sangat kecil, ini saat yang tepat untuk menunjukkan padanya. Namun, bila Anda tidak melakukannya, ini saatnya untuk mulai. Anda bisa mulai mengajaknya berbicara tentang menabung sebagai akumulasi kekayaan. Beri semangat padanya untuk menyimpan uang dengan pandangan bahwa bila uang-uang yang ia dapatkan terus dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu, ia akan bisa memiliki jumlah yang lebih besar.
 

4. “Iming-iming” Keuntungan

Dalam pikiran anak-anak, menabung mungkin hanya sebatas tidak menggunakan uang dan menyimpannya. Anda bisa memberi penjelasan pada anak Anda bahwa menabung dalam jangka waktu tertentu akan memberi keuntungan lebih padanya. Anda bisa bicara tentang memasukkan uang ke rekening bank dan mulai menjelaskan tentang bunga. Artinya, uang bisa bertumbuh dari situ. Ini akan membuat ia tertarik dan memberinya semangat untuk mencoba.
 

5. Prinsip 20 : 80

Orang tua bisa mempertimbangkan untuk mengalokasikan 20% uang angpau sebagai tabungan di bank untuk likuiditas dan 80% darinya untuk rencana asuransi. Gan lebih merekomendasikan 80% tersebut digunakan untuk asuransi jenis rencana tabungan atau dana abadi. Mengapa bukan asuransi penyakit medis atau jiwa? Karena menurutnya jenis rencana tabungan defensif tersebut menjamin jumlah pokok dengan pengembalian yang tidak dijamin lebih tinggi daripada rekening tabungan bank pada umumnya.
 
Salah satu fasilitas yang bisa Anda gunakan adalah dana pendidikan yang keuntungannya dapat diambil ketika anak Anda memasuki jenjang pendidikan lainnya, seperti SMP, SMA, atau bahkan Perguruan Tinggi. Anda dan anak bisa memilih jangka waktu polisnya sendiri. Misal, bila dana tersebut digunakan untuk Perguruan Tinggi, maka Anda bisa memilih jangka waktu 10 tahun tahun bila saat ini anak Anda berusia 7 tahun. Artinya, dana beserta bunga tersebut akan cair di usia 17 tahun. Ini akan semakin memberinya gambaran terang tentang prinsip investasi serta manfaat yang bisa didapatkan.
 
Nah, bagaimana dengan yang 20%? Uang ini bisa diambil sewaktu-waktu dari bank. Anda bisa mengatakan bahwa ia bisa mengambil untuk keperluannya pribadi, misalnya saja untuk membeli sepatu atau tas baru di tahun ajaran baru nanti. Penting bagi Anda untuk tidak membatasi anak menggunakan uang tabungan yang 20% tersebut. Menurut Gan, “Tujuan jangka pendek memungkinkan anak untuk merasakan pemberdayaan dan kepuasan membeli sesuatu sendiri dan menghargai bahwa akumulasi tabungan membutuhkan waktu.”
 
Tip Belajar Investasi Lewat Permainan
Anda bisa mengajarkan investasi pada si kecil lewat permainan monopoli. Monopoli mengajarkan anak-anak untuk menyimpan penghasilan untuk kemudian ditukar dengan aset yang menghasilkan keuntungan.
 
Silahkan dicoba, ya Ma. Giring si kecil menikmati manfaat jangka panjang dari uang-uang angapaunya.
 
 
Baca juga:
Mengenal Reksadana Sebelum Investasi
Pilih Asuransi atau Tabungan Pendidikan Anak?
Cermat Pilih Produk Tabungan Anak
Lengkapi Tabungan Anak dengan Asuransi
Cara bijak gunakan tabungan
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK
 
 
 

 
 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia