6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 2)


 

Membicarakan politik dengan anak-anak punya banyak manfaat. Antara lain adalah menumbuhkan integritas, menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, keadilan, kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian menyampaikan pendapat.
 
Jangan sampai nilai-nilai tersebut tenggelam lantaran kesalah yang Anda lakukan saat mengobrol seperti yang disampaikan oleh Najeela Shihab, pendidik sekaligus pendiri Keluarga Kita, organisasi yang fokus pada pendidikan keluarga dan pengasuhan berikut ini :
 
Menjelek-jelekkan
Semua orang tahu bahwa menjelek-jelekkan adalah sesuatu yang tidak baik. Anda juga tentu tidak mau si kecil meniru perbuatan tersebut. “Di luar sana banyak contoh buruk, masa di rumah anak dapat contoh buruk juga,” kata Najeela.
 
Oleh karenanya, alih-alih menjelekkan, sebaiknya beri dia pertimbangan objektif seperti kelebihan dan kekurangan setiap peraturan pemerintah atau keunggulan dan kelemahan masing-masing calon pemimpin yang berkontestasi dalam pemilu. Ini adalah cara yang lebih baik untuk menumbuhkan sikap kritis dan demokratis sejak kecil.
 
Memaksakan Pilihan
Perlu diingat bahwa setiap orang berhak menentukan pilihan masing-masing. Karenanya memaksakan agar anak punya pilihan yang sama dengan Anda adalah hal yang kurang tepat. Namun, Najeela mengatakan, “Sering kali orang tua kurang mau mendengarkan anak, kurang berusaha memahami informasi apa yang sebetulnya sedang dibutuhkan anak. Mereka justru sibuk dengan agendanya sendiri. Apalagi di tahun politik, mereka sibuk agar anaknya suka dengan calon pilihan mereka.”
 
Yang perlu dilakukan orang tua hanyalah menjelaskan pada anak tentang pilihan yang ada serta kelebihan dan kelemahan masing-masing untuk digunakan sebagai pertimbangan.
 
Menyamakan dengan Dirinya
“Jangan samakan anak sekarang dengan anak dulu,” kata Najeela. Menurutnya, saat berdiskusi politik dengan anak, sangat mungkin ada perdebatan. Hal tersebut wajar saja. Jangan terlalu berharap mereka akan langsung sepakat dengan pernyataan Anda.
 
Menurut Najeela, kalimat seperti, “Mama/Papa itu melihatnya begini, jadi kamu harus gini juga,” dalam menjelaskan sikap dan pandangan politik sangat tidak tepat. Biarkan mereka mencerna informasi dari Anda dan informasi lain dari luar. “Mereka, kan, mengalami zaman yang berbeda, sistem politik berbeda, tentu tidak bisa disamakan,” pungkasnya. Tugas Anda adalah membantunya membuat kesimpulan yang objektif.
 
Najeela mengungkapkan bahwa membicarakan soal politik tidak bisa habis dalam satu kali perbincangan saja. Butuh proses yang panjang sesuai perkembangan anak.
 
 
Baca juga:
Politik Pilkada Mengancam Rasa Toleransi Anak
Ajari Anak Pendidikan Politik
6 Kesalahan Orang Tua Membicarakan Politik dengan Anak (Bagian 1)
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK
 
 
 

 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia