Bahaya Varian Covid Baru B.1.1.7 Asal Inggris yang Baru Masuk Ke Indonesia



 

Bertepatan dengan setahun pandemi COVID-19, Wakil Menteri Kesehatan dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, menyebutkan bahwa telah ditemukan mutasi virus corona varian B.1.1.7 masuk ke Indonesia, yakni pada 2/3/2021. Terdeteksi dua orang di Karawang, Jawa Barat, terinfeksi varian baru corona ini.
 

Varian baru ini pertama kali ditemukan di Inggris pada akhir September 2020 lalu. dr. Dante sendiri mengatakan bahwa masuknya mutasi virus corona ini akan menjadi tantangan yang lebih berat bagi Indonesia untuk menghadapi pandemi COVID-19.
 

Apa yang membuat varian baru Covid B.1.1.7 asal Inggris ini berbahaya?
 

  1. Cepat Menyebar

Pada 13 Januari 2021, WHO menyebut bahwa ada 50 negara yang melaporkan varian baru covid B.1.1.7 ini. Beberapa negara seperti Prancis, Spanyol, Portugal, Jerman, dan Italia juga telah mengidentifikasi penularan di negaranya. AS pun juga melaporkan penularan di 5 negara bagiannya.
 

  1. Lebih Mematikan

British government's New and Emerging Respiratory Threats Advisory Group (NERVTAG) mengungkapkan data yang menunjukkan peningkatan kematian bagi pasien infeksius B.1.1.7. Studi mencatat bahwa kasus varian baru ini 30%-70% lebih mematikan dibandingkan dengan strain virus corona yang sudah ada.
 

  1. Lebih Banyak Rawat Inap

Dilansir dari Forbes, pasien yang terinfeksi varian baru covid B.1.1.7 ini lebih banyak harus menjalani rawat inap.
 

  1. Risiko Lebih Tinggi Masuk ICU

Selain itu, data dari Intensive Care National Audit and Research Center (ICNARC) dan QRESEARCH juga menemukan risiko lebih tinggi masuk ICU untuk kasus varian baru ini.
 

  1. Viral Load Lebih Tinggi

Studi dari University of Birmingham menemukan bahwa pasien yang terinfeksi varian B.1.1.7 cenderung memiliki viral load yang lebih tinggi. Ini artinya, mereka dapat mengeluarkan lebih banyak partikel yang mengandung virus saat mereka bernapas, berbicara, batuk, atau bersin. Temuan itu diambil dari analisis laboratorium terhadap 641 sampel positif virus corona antara 25 Oktober hingga 25 November 2020.
 

  1. Butuh Waktu Lebih Lama

Mengutip dari The Independent, dalam penelitian pra-cetak yang diterbitkan oleh Universitas Harvard, para peneliti menunjukkan bahwa durasi rata-rata ketika B.1.1.7 bereplikasi dan terakumulasi di dalam tubuh adalah 5,3 hari - dibandingkan dengan rata-rata 2 hari untuk varian lain.
 

Studi tersebut menemukan, biasanya dibutuhkan 8 hari bagi sistem kekebalan untuk membersihkan B.1.1.7, dibandingkan dengan 6,2 hari untuk varian yang berbeda.
 

Sekalipun demikian, Dr. Angela Rasmussen, ahli virologi dari Pusat Kesehatan dan Keamanan Global di Universitas Georgetown, AS, menyebut bahwa keefektifan vaksin dapat meminimalkan efek dari B.1.1.7.

 

Baca juga:

Kini Giliran Para Wartawan Senior Termasuk Pendiri Femina dan Ayahbunda Mendapatkan Vaksinasi Covid-19

Langkah Aman Menyusui saat Ibu Positif COVID-19

Kriteria Orang yang Tidak Bisa Divaksin COVID-19

Ini Reaksi yang Mungkin Muncul Setelah Divaksin COVID-19

 

LELA LATIFA

FOTO: FREEPIK

 

 

 


Topic

#corona #coronavirus #covid19 #covid-19

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Bahaya Varian Covid Baru B.1.1.7 Asal Inggris yang Baru Masuk Ke Indonesia