Curhatan Papa: Jadi Jauh dengan Si Praremaja?



 

Waktu anak-anak masih sangat kecil, Anda sangat menikmati menggendong-gendongnya, memberi ciuman hangat, dan memeluk mereka erat. Sebaliknya, mereka juga akan menodong Anda dengan permintaan sentuhan fisik yang sama. Betapa bahagianya keluarga Anda dengan kehadiran si kecil.
 

Akan tetapi, tak terasa waktu berlalu. Kini si kecil sudah beranjak menjadi praremaja. Biasanya mereka akan menghindari pernyataan sayang dengan sentuhan fisik, apalagi di depan teman-temannya. “Malu, ah! Aku, kan, sudah gede,” alasannya.
 

Seorang Papa, Eri Vidiyanto, M.Psi, Psikolog, Psikolog Pendidikan dan Senior Consultant Essa Consulting, dalam acara Instagram Live Live Meet Up Parenting Indonesia bertema "Ayah dan Anak Praremajanya" menceritakan bahwa ketika anak-anaknya menginjak usia praremaja, memang lebih ada jarak antara dirinya dan anak-anak. Bagaimana kisahnya?
 

Kedekatan Papa dengan Anak Perempuan dan Laki-laki
 

“Kalau anak laki-laki (11 tahun) mungkin karena oedipus complex, agak ada kompetisi dengan bapaknya. Jadi untuk kedekatan, sih, kurang,” katanya. Eri yang juga psikolog menjelaskan, “Kan, ada ya, teorinya, oedipus complex itu. Teorinya kenapa anak laki-laki kurang dekat dengan bapaknya adalah karena sama-sama bersaing mendapatkan cinta ibunya.”
 

Ia mengatakan bahwa hal yang sama juga berlaku untuk anak perempuan. Eri menjelaskan bahwa secara alamiah mereka memang akan lebih dekat dengan orang tua yang berlawanan jenis. “Kalau yang anak perempuan (7,5 tahun) karena faktor ada perubahan fisik juga, ya. Jadi lebih kurang nyaman akhirnya terlalu dekat dengan ayahnya,” bukanya. Akan tetapi, ia menambahkan bahwa jarak itu hanya berlaku dalam urusan sentuhan fisik saja. Ia mengatakan, “Kalau yang perempuan lebih dekat dengan saya. Jadi untuk kedekatan emosional tetap.”
 

Walaupun demikian, Eri mengatakan bahwa kedekatan antara Papa dan anak-anaknya tidak hanya terpengaruh jenis kelamin saja. “Di lapangan, balik lagi ke sejauh mana interaksi kita dengan anak kita,” ujarnya. Menurutnya, kedekatan antara Papa dengan anak-anak harus dibentuk dengan cara selalu menyediakan waktu dan benar-benar “hadir” untuk mereka.
 

Menjadi Papa yang “Hadir”
 

Di usia praremaja, anak-anak memang lebih mandiri sehingga mereka tidak lagi “nempel” dengan orang tuanya. Momen ini jangan sampai direspons salah oleh tua, misalnya dengan malah selalu membiarkan mereka sehingga menambah jarak.
 

Menurut Eri, justru di masa ini orang tua harus lebih dekat secara emosional dengan anak-anak. Salah satu caranya adalah dengan membuka komunikasi dengan anak-anak. Eri menyarankan agar Papa bisa menjadi teman bagi anak-anak. “Kalau anak laki-laki, kita bisa dekati lewat hobinya,” sarannya. Sementara, untuk anak perempuan, Papa bisa bertanya tentang teman-temannya atau kesehariannya.

 

Baca juga:

Trik Jadi Papa Andalan Si Praremaja

5 Tahap Perkembangan Anak Usia Praremaja

Peralihan Anak ke Fase Praremaja

Berkomunikasi dengan Anak Praremaja

Atasi krisis praremaja

 

(LELA LATIFA)

FOTO: FREEPIK

 

 

 

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Curhatan Papa: Jadi Jauh dengan Si Praremaja?

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia