Mencegah Klaster Keluarga, Tolak Tamu ke Rumah



 

Sebagai orang yang tinggal di negara dengan budaya komunal seperti Indonesia, pandemi ini memang sebuah tantangan. Bagaimana tidak, kita sudah sangat terbiasa dengan budaya bertamu ke tetangga, menengok bayi yang baru lahir, berkunjung ke rumah baru saudara, merayakan ulang tahun keluarga, menginap di rumah saudara, atau bahkan berkumpul bersama keluarga di hari besar keagamaan.
 

Membatasi orang apalagi saudara sendiri untuk bertamu ke rumah memang tidak mudah. Jujur saja, kita pasti didera perasaan tidak enak atau sungkan ketika menolaknya.
 

Akan tetapi, jangan sampai itu membuat Anda terjebak pada pikiran seperti, “Ah, ya sudahlah, kan, sama keluarga sendiri”; “Dia kayaknya nggak pernah kemana-mana” atau “Kayaknya aman, sih.” Sebab, Anda tidak pernah tahu riwayat interaksi maupun perjalanan seseorang sekaligus kondisi imun tubuhnya.
 

Oleh karena itu, dr. RA Adaninggar, Sp.PD, Internist dan Health Educator dalam Webinar bersama Ayahbunda & Parenting Indonesia, berpesan untuk tidak menerima tamu di rumah, terutama untuk menginap. “Kalau memang ada keluarga ingin menginap, ada syarat yang harus dipenuhi, tapi ribet. Saya yakin tidak semua orang bisa melakukannya, karena ribet,” ujarnya.
 

Ia menjelaskan bahwa untuk menerima tamu terlebih untuk menginap, syarat yang harus dipenuhi adalah si calon tamu harus melakukan karantina di rumah selama dua minggu sebelum kunjungan, begitu juga dengan calon tuan rumah. “Ini relatif lebih aman, karena dipastikan dalam dua minggu dia tidak berkontak dengan siapa pun,” imbuhnya. Akan tetapi, ia tetap memperingatkan bahwa hal tersebut bukanlah jaminan. Sebab, seseorang tidak bisa diketahui menjadi carrier atau tidak bila tidak dilakukan tes.
 

Di samping itu, jika terpaksa harus menerima tamu di rumah, Anda bisa melakukannya dengan prinsip VDJ (Ventilasi-Durasi-Jarak), yakni:
 

  • Ventilasi: Temui tamu di teras atau di halaman rumah yang memiliki sirkulasi udara yang baik

  • Durasi: Batasi waktu pertemuan tidak lebih dari 15-30 menit

  • Jarak: Jaga jarak fisik setidaknya 2 meter

Anda juga perlu memakai masker sekalipun di rumah sendiri.
 

Menolak dengan Santun

Berikut ini adalah tip menolak saudara atau teman bertamu ke rumah dengan tetap menjaga perasaannya:

  1. Sampaikan Jujur dan Minta Maaf

Sampaikan dengan jujur bahwa Anda memang tidak bisa menerima tamu. Beritahukan bahwa itu adalah peraturan yang sudah disepakati oleh anggota keluarga di rumah Anda dan Anda tidak mungkin melanggarnya. Tak perlu menolaknya dengan cara berbohong bahwa Anda sedang tidak ada di rumah.
 

  1. Alasan yang Bisa Diterima

Berikan alasan yang bisa diterima seperti, “Maaf ya, di rumahku ada bayi atau anak kecil. Mereka belum bisa dipakaikan masker/mereka masih belum bisa menerapkan protokol kesehatan dengan tepat” atau “Kami belum bisa menerima tamu di rumah karena ada orang tua yang harus diperhatikan kondisi kesehatannya. Maaf, ya.”
 

  1. Pelihara Komunikasi dan Silaturahmi Online

dr. Adaninggar yang kerap disapa dr. Ning menyarankan untuk memelihara komunikasi dan silaturahmi lewat berbagai aplikasi online.
 

  1. Bantu Mencarikan Penginapan

Ketika ada kerabat yang butuh menginap di rumah Anda, bantu ia untuk merekomendasikan penginapan sebagai gantinya.
 

  1. Kirim Sesuatu

Karena belum bisa bertemu, kirimkan sesuatu seperti makanan atau bingkisan ke rumah teman atau keluarga sebagai pengganti “ kehadiran” Anda.
 

 

Baca juga:

Waspada Klaster Keluarga, Batasi Si Kecil Main di Luar

Cara Minimalisir Risiko Klaster Keluarga

Memahami Klaster Keluarga

Klaster Keluarga Meningkat, Periksa Apakah Keluarga Anda Berisiko!

 

LELA LATIFA

FOTO: PIXABAY


Topic

#corona #coronavirus #covid19 #covid-19

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Mencegah Klaster Keluarga, Tolak Tamu ke Rumah

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia