Papa Punya Teman Curhat tentang Rumah Tangga, Wajarkah?



 

Salah satu pendapat umum tentang hubungan pernikahan adalah dilarang menceritakan konflik rumah tangga. Hal ini berdasarkan pandangan bahwa hal tersebut adalah aib yang seharusnya ditutupi. Hal ini membuat Anda merasa bersalah bila harus “membocorkan” cerita tentang rumah tangga Anda sendiri.
 

Tapi, benarkah demikian? Ada kalanya, ada perasaan butuh menyampaikan apa yang ada di hati dan pikiran Anda kepada orang lain di luar pernikahan Anda, katakanlah pada sahabat Anda sendiri. Apakah itu juga salah? Benarkah bahwa perempuan lebih “ember” dibandingkan lak-laki soal hubungan pernikahannya?
 

Faktanya, studi yang dilakukan oleh Kirsten Lind Seal, Ph.D., LLC, psikolog sekaligus konselor pernikahan dan keluarga dari Universitas Minnesota, AS, menunjukkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki umumnya memiliki orang kepercayaan tempat ia menceritakan masalah tentang pasangan serta hubungannya. Justru, teman curhat yang tepat akan menjadi sumber dukungan eksternal bagi hubungan Anda.
 

Dalam studinya untuk program Marital First Responder, Seal dan rekan meneliti seribu orang dewasa yang berusia 25 - 70 tahun untuk menanyakan tentang orang kepercayaan mereka dan bagaimana kepercayaan mereka. Mereka mendapat pertanyaan seputar pengalaman curhat kepada orang yang dipercaya, karakteristik masalah apa yang diceritakan, serta tanggapan seperti apa yang paling membantu, juga apakah mereka pernah menjadi orang yang dipercaya untuk mendengarkan masalah pernikahan atau hubungan jangka panjang orang lain.
 

Hasilnya adalah, sebagian besar orang baik laki-laki maupun perempuan atau 66% pernah terlibat dalam pengalaman curhat tentang hubungan. Teman adalah yang paling mungkin menjadi orang kepercayaan. Sementara, bila curhat dilakukan kepada keluarga, hal itu biasanya terjadi dalam hubungan "horizontal" antara saudara kandung, bukan hubungan "vertikal" antara anggota generasi yang lebih tua dan yang lebih muda.
 

Curhat ke Sesama Jenis atau Lawan Jenis?

Dari penelitian itu, sebagian besar perempuan curhat kepada perempuan lain. Sementara, jumlah laki-laki yang curhat dengan sesama laki-laki jauh lebih kecil, yakni hanya 33%. Persentase yang sama didapat untuk laki-laki yang memilih untuk curhat kepada perempuan. Sementara 33% sisanya, pilihan curhat jatuh pada kedua jenis kelamin sekaligus.
 

Topik Curhatan yang Umum

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa topik yang paling mungkin diceritakan pada orang kepercayaan adalah tentang perasaan terpisah dari pasangan, ketidakmampuan mereka untuk berbicara dengan pasangannya, kurangnya perhatian dari pasangannya, atau lebih serius lagi, yakni tentang apakah pasangan mereka mempertimbangkan untuk bercerai.
 

Tidak hanya tentang masalah intim saja, para responden ini ada juga yang membutuhkan “pendengar” tentang kehidupan sehari-hari bersama pasangannya seperti cara pasangan mereka menangani uang, kebiasaan pribadi pasangan yang tidak diinginkan, atau pertimbangan untuk bercerai.
 

Temuan ini menunjukkan bahwa sedekat apa pun hubungan Anda dengan pasangan, memiliki sahabat di luar akan sangat membantu mendukung pernikahan dan hubungan komitmen jangka panjang. Akan tetapi, dengan menyusutnya jaringan pertemanan seiring waktu, semakin sedikit orang yang bisa dijadikan sebagai teman, apalagi sahabat.
 

Sekalipun jumlahnya sangat minim, Anda tetap perlu berhati-hati memilih orang yang bisa Anda percaya. Pilihlah teman yang dapat memberikan dukungan positif untuk Anda dan hubungan Anda. Pastikan juga Anda tidak menyimpan rahasia terlalu dalam yang kiranya malah dapat merusak hubungan Anda dengan pasangan. Hargai juga batasan antara Anda dan sahabat yang Anda percaya.

 

Baca juga:

25 Kalimat Empati Dalam Merespons Curhat Pasangan

Curhat Ke Papa, Kenapa Tidak?

4 Cara Komunikasi Yang Membahayakan Pernikahan

4 Kesalahan komunikasi yang Sering Terjadi dalam Hubungan

Tip Agar Komunikasi Lancar Bagi Pasangan Sibuk

 

LELA LATIFA

FOTO: FREEPIK

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Papa Punya Teman Curhat tentang Rumah Tangga, Wajarkah?