4 Kesalahan komunikasi yang Sering Terjadi dalam Hubungan


 

Pernahkah Anda merasa bahwa berkomunikasi justru membuat masalah semakin besar? Ketika Anda dan pasangan memilih untuk saling bicara saat ada masalah, justru malah berbuah pertengkaran. Akhirnya, tak jarang saat ada masalah, Anda dan pasangan lebih memilih untuk saling memendam dan menghindar.

Kebiasaan tersebut tentu tidak sehat, baik untuk hubungan maupun diri sendiri. Coba introspeksi diri lagi, apa yang salah sehingga pertikaian tidak dapat dihindarkan? Jangan-jangan, tanpa disadari cara berkomunikasi Anda dan pasangan kurang tepat.

Preston Ni M.S.B.A, pelatih komunikasi interpersonal dan professional serta staf di Departemen Ilmu Komunikasi, Foothill College, Silicon Valley, California, AS, dalam bukunya How to Communicate Effectively and Handle Difficult People mengatakan, bahwa komunikasi yang buruk adalah salah satu alasan utama pertengkaran pasangan, dan menjadi salah satu alasan perceraian.

Preston membagikan 4 kesalahan komunikasi yang sering terjadi dalam hubungan:

1. “You” Language dan Arahan

Apa yang salah dengan menyebut “kamu”? Bukankah ini kata ganti orang kedua yang selalu kita sebutkan? Penggunaan kata “kamu” atau you language menjadi bermasalah jika disertai dengan arahan. Pengarahan tersebut bisa berupa mengharuskan pasangan atau menyarankannya.
 
Contoh:
“Kamu harusnya bisa gini, dong!”
“Kamu harusnya mengerti posisiku.”
“Kamu lebih baik melakukan ini daripada…”
“Kamu perlu/butuh belajar lebih banyak soal mengurus anak.”
 
Mengapa salah?
Arahan adalah pernyataan yang memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Tidak ada yang suka diberitahu apa yang harus dilakukan. Di samping itu, arahan mengandung pernyataan yang bersifat negatif artinya saat Anda mengatakannya, Anda menilai pasangan Anda memiliki kekurangan. Komunikasi jenis ini sangat mudah mengundang kemarahan dan pengelakan atau respon “Tidak.” Mendengar respon tersebut, bukannya bahagia, Anda pun justru semakin kesal. Sehingga, konflik pun tak terhindarkan.


2. Pernyataan Universal

Pernyataan ini menggeneralisasi perilaku atau karakter seseorang. Mudahnya, dengan beberapa kejadian buruk yang berulang, Anda melabeli pasangan Anda dengan kata, “selalu”, “tidak pernah”, “lagi”, atau lainnya.
 
Contoh:
“Kamu selalu saja mengeluh.”
“Kamu tidak pernah mementingkan keluarga, selalu saja lembur.”
“Kamu telat lagi?”
“Memang semua orang di keluargamu itu sama kerasnya sepertimu.”
 
Mengapa salah?
Pernyataan ini cenderung menunjukkan sisi negatif pasangan. Pernyatan universal lebih fokus pada “apa yang salah” ketimbang “bagaimana menjadi lebih baik.” Faktanya, pernyataan seperti ini tidak akan mendorong perubahan dan justru mudah diperdebatkan. Pernyatan universal sangat mudah menimbulkan perlawanan dari pasangan.
                   

3. Mengatai Pasangan dan Mengabaikan Masalah

Sering kali saat menghadapi masalah, Anda terjebak mengatai pasangan dan sebetulnya sama sekali tidak menyentuh inti permasalahan.
 
Contoh:
“Kamu boros sekali.” Akan lebih tepat bila Anda mengatakan, “Saya melihat keuangan keluarga kita sudah menipis, padahal masih pertengahan bulan.”
            
“Dasar kamu kasar!” Akan lebih tepat bila Anda mengatakan, “Apa yang membuat kamu marah? Baik aku maupun kamu bisa, kok, menyampaikan keluhan bila ada yang tidak berkenan.”
 
Mengapa salah?
Mengatai hanya fokus pada kata sifat. Ini tentu lebih mudah membangkitkan reaksi negatif dari pasangan Anda seperti marah, tersinggung, atau bahkan penolakan tanpa tahu detail keluhan dan pendapat Anda. Akibatnya, inti masalah justru tidak pernah tersampaikan dan dituntaskan dengan baik akibat masing-masing sudah saling menolak.
 

4. Meremehkan Perasaan

Perasaan pasangan adalah hal penting yang patut juga diperhatikan. Beberapa orang melakukan kesalahan meremehkan perasaan pasangan, baik itu perasaan positif atau perasaan negatif.
 
Contoh:
“Kesedihanmu itu berlebihan.”
“Kecemasanmu benar-benar tidak berdasar.”
“Jangan senang dulu, hasil presentasimu belum tentu bagus.”
“Baru bisa menjaga anak setengah hari karena saya tinggal sebentar saja sebegitu bangganya.”
 
Mengapa salah?
Saat Anda meremehkan perasaan atau emosi negatif seseorang, sangat mungkin orang tersebut jadi membenci Anda, terluka, dan marah karena merasa tidak dimengerti. Akibatnya ia dapat menjadi tertutup pada Anda untuk meminimalisasi risiko terluka lagi. Ini tentu tidak baik bagi hubungan. Hal yang berlawanan di saat Anda meremehkan perasaan atau emosi positif pasangan, emosi tersebut bisa jadi berkurang atau bahkan hilang dan memengaruhi kekuatan hubungan. Bisa jadi, emosi positif tersebut berubah menjadi emosi negatif. Ketika perasaan negatif meningkat, demikian juga dengan hubungan.
 
Baca juga:
Hubungan Suami Istri Tak Lagi Mesra, Mengapa?
Tip Agar Komunikasi Lancar Bagi Pasangan Sibuk
7 Tanda Keluarga Anda Stres
Trik Mengajak Pasangan Mengikuti Konseling Pernikahan
 
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: PIXABAY
 
 
 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia