12 Tip Membuat Anak Lebih Bahagia



Apa yang bisa orang tua lakukan agar anak melewati masa kecilnya dengan bahagia?

1. BAHAGIA DULU
Ya, Anda dan pasangan perlu berkomitmen untuk berbahagia terlebih dulu. “Karena bahagia itu menular,” begitu menurut British Medical Journal. Selain itu, Sean Grover, L.C.S.W., psikoterapis dan penulis buku When Kids Call the Shots: How to Seize Control from Your Darling Bully and Enjoy Being a Parent Again, yang dilansir dari psychologytoday.com, juga menuturkan pentingnya "Happy Parents, Happy Kids". Ini merupakan pesan sederhana, yakni orang tua bertanggung jawab menjadi orangtua yang bahagia, lalu menunjukkan, serta menularkan gaya hidup yang bahagia tersebut kepada anak dalam hidup sehari-hari. Salah satu caranya, dengan melakukan hal yang menyenangkan dan sering tertawa bersama anak.

2. PERLIHATKAN CINTA
Amy Bohnert, psikolog dan peneliti perkembangan anak dari Loyola University Chicago, Illinois, AS, mengungkapkan, terdapat banyak cara dan, tentunya berbeda-beda, dalam seni mengurus anak. Tak ada formula tepat yang bisa disamakan kepada setiap anak, namun hal paling mendasar adalah orang tua yang menunjukkan cinta yang hangat kepada anak-anaknya, akan membuat rasa bahagia, nyaman dan aman bagi si kecil. Misalnya, Anda selalu memilih menggunakan kata-kata positif setiap hari ketika berinteraksi dengan anak.

3. MENANAMKAN SIFAT OPTIMIS
Memiliki sifat optimis berkaitan dengan hidup yang bahagia. Demikian ujar Christine Carter PH.D., salah satu penulis buku Raising Happiness: 10 Simple Steps for More Joyful Kids and Happier Parents. Kenalkan dan ajarkan anak untuk selalu optimis serta mengajarkan anak melihat sisi baik dari tiap pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, saat tidak bisa bersepeda karena di luar sedang hujan. Sisi baiknya, Anda dan si kecil jadi bisa menghabiskan waktu di dalam rumah. Misalnya, dengan belajar membuat kue kering bersama.

4. AJARKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Kenalkan si tiga tahun mengenai macam-macam emosi, serta cara mengendalikannya. Misal, ketika ia sedang cemberut, karena tidak Anda belikan mainan yang ia minta. Tanyakan, “Kenapa kamu cemberut, Nak? Kamu kesal karena Mama tidak belikan mainan, ya?” Dengan demikian, anak belajar mengenal emosi yang sedang ia alami, serta penyebabnya. Kenalkan juga emosi lain, seperti senang maupun marah. Setelah mengenali emosi, ajarkan si kecil untuk bisa mengontrol emosi yang ia sedang alami. Misalnya, daripada marah dan merengek tanpa henti, ia mesti belajar bersabar untuk mendapatkan sesuatu yang sedang ia inginkan.

5. KONTROL DIRI
Menjadi bahagia bukan berarti bebas melakukan apa saja sebebas-bebasnya, tanpa batasan. Tanamkan juga kepada si kecil konsep disiplin. Kedisiplinan bukan hanya berkaitan dengan kehidupan yang sukses kelak, namun juga terhadap kebahagiaan. Buktinya adalah hasil dari Marshmallow Test, yakni penelitian yang dilakukan Psikolog Walter Mischel pada tahun 1960-an kepada balita. Tes ini memberikan satu marshmallow dan meminta balita memilih, yakni sabar menunggu, sebab akan diberi satu buah lagi atau bila ingin segera memakannya pun tidak masalah. Menurut hasil penelitian tersebut — anak-anak yang yang diteliti kini telah berusia 40–50-an — mereka yang mendapat dua marshmallow mampu menyelesaikan studi tepat waktu, berpenghasilan lebih tinggi, serta tidak mengalami overweight. Balita yang mampu belajar mengontrol diri akan membantu ia mengatasi gangguan yang terjadi. Ia jadi tidak mudah terganggu dan menjadi pribadi yang bahagia.

6. MORE PLAYTIME!
Bermain sendiri maupun dengan teman sama menyenangkannya, serta kaya manfaat. Mengasah gerak motorik dan melatih empati merupakan hal lain. Christine Carter menyebutkan, dengan bermain, si kecil sebetulnya sedang mempraktikkan mindfulness, yakni memusatkan fokus secara penuh terhadap apa yang sedang dilakukan saat ini (living in the moment). Hal ini merupakan salah satu cara yang kerap dilakukan sebagai terapi, ketika sedang berada di bawah tekanan. Untuk itu, biarkan si kecil bereksplorasi dengan mainan dan imajinasinya!

7. BERMAIN DENGAN TEMAN
Ajarkan si kecil bersosialisasi, meski ia tergolong tipe yang senang sendiri maupun pemalu. Menurut psikolog Sandee McClowry dari New York University, AS, sifat pemalu memang merupakan salah satu karakter, maka perlu cara khusus untuk membuat ia mau berteman. Caranya antara lain dengan mengajak ia bermain dengan anak yang lebih muda, atau memberi ia tugas menyambut tamu di rumah. Dengan memiliki teman bermain, anak belajar banyak hal yang membuat hidup lebih berwarna, yang menjadi modal untuk merasa bahagia. Empati anak juga akan terasah. Misalnya, ketika temannya sedih, ia akan menghibur atau berbagi ketika teman tidak membawa bekal. Berikan
petunjuk praktis, misalnya dengan menyapa orang lain atau bergabung dengan teman yang sedang bermain.

8. LINGKUNGAN YANG BAHAGIA
Laura Kubzansky, profesor ilmu sosial dan perilaku dari Harvard School of Public Health, AS, mengungkap, faktor keturunan (gen) dari orang tua yang berbahagia memiliki pengaruh yang besar untuk menghasilkan anak-anak yang berbahagia pula. Namun tidak cukup sampai di situ, sebab lingkungan juga memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan psikologis. Dalam bukunya, Christine Carter menyebutkan, banyak penelitian mengungkap hubungan kecenderungan orang yang bahagia adalah orang-orang yang jarang menonton TV. Meski belum diketahui apa hubungannya, namun dengan tidak terlalu sering terpapar TV, maka si kecil jadi bisa melakukan aktivitas aktif lain.

9. MEMOTIVASI ANAK
Adalah sah, menginginkan anak menjadi seperti yang orang tua harapkan. Umumnya orang tua berharap anak-anaknya dapat tumbuh cerdas dan sejahtera kelak. Maka, mengajarkan anak disiplin itu perlu, namun hindari bila terlalu berlebihan, apalagi sampai memaksa anak. Sebuah penelitian dari Journal of Personality menyebutkan, orang tua yang terlalu memaksa anak melakukan sesuatu agar bisa memperoleh nilai tinggi di sekolah, lebih rentan menjadi pribadi yang sangat kritis terhadap diri sendiri (terlalu menyalahkan diri sendiri, bila suatu kali gagal), berisiko mengalami kecemasan dan depresi. Hal ini tentu merenggut kebahagiaannya.

10. WAKTU YANG BERKUALITAS
Saat Anda mengobrol dengan si kecil, Anda jadi bisa tahu apa saja yang terjadi hari itu kepadanya, selama Anda di kantor seharian ini. Dongeng yang menarik yang diceritakan oleh guru di sekolah, bermain permainan baru dan seru dengan teman, dan menu makan siang di sekolah yang enak, misalnya. Di tengah kesibukan pagi, Anda tetap bisa mengajak ia bicara di meja makan, atau saat mengantar ia ke sekolah. Dan, hari si kecil akan semakin lengkap dan bermakna, jika malam hari ditutup dengan makan bersama, lalu mengantar ia tidur. Itu semua akan membuat si kecil merasa diperhatikan dan menumbuhkan perasaan bahagia.

11. DENGARKAN SUARANYA
Berikan si kecil tempat untuk didengarkan suaranya. Misalnya, dengan membiarkan ia menentukan menu makan siang hari ini, ide aktivitas di akhir pekan nanti akan menghabiskan waktu di mana, pakaian yang akan ia kenakan, dan sebagainya. Yang tak kalah penting pula adalah mendengarkan dan selalu menjawab segala pertanyaan ajaibnya, seperti mengapa adik harus minum susu, kenapa Mama harus pergi kerja, dan sebagainya. Hal ini bisa membuat si kecil jadi merasa dihargai serta bahagia.

12. BIASAKAN BAHAGIA
Jadikan bahagia sebagai gaya hidup. Sebab, bila sudah menjadi kebiasaan, hal ini tentu menjadi hal yang otomatis terjadi sehari-hari. Tantang diri Anda dan si kecil untuk menerapkannya setiap hari. Christine Carter menyebutkan salah satu yang membiasakan agar terbiasa hidup bahagia, yakni membuang jauh-jauh gangguan atau mencegah hal yang bisa membuat tidak bahagia.

Baca juga: Hal-hal Sederhana Bisa Bikin Bahagia

 

Edisi Terbaru

Aku Indonesia

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia