Sering Dituntut Serba Sempurna, Ini Tip Menjadi Ibu Bahagia dari Psikolog

mama dituntut sempurna


Banyak tuntutan yang sering ditujukan kepada para ibu. Misalnya, ibu dituntut untuk sempurna dalam mendampingi anaknya, menyediakan semua kebutuhan keluarganya, anaknya tidak pernah sakit, kemampuan anaknya setara dengan anak lain, anaknya berprestasi sesuai keinginannya dan bisa dibanggakan, rumahnya selalu bersih, anaknya makan dengan lahap, jago memasak, keluarganya tampak harmonis, sering pergi berlibur seperti keluarga lain di medsos. Apakah benar itu semua adalah tanda kesempurnaan ibu?
 
Tak hanya itu, ibu juga dituntut untuk selalu bahagia, tidak boleh marah atau sedih. Psikolog Ajeng Raviando, Psi. mengatakan bahwa itu adalah tuntutan yang mustahil. Sebab, semua emosi termasuk emosi negatif adalah hal yang wajar dirasakan setiap manusia. “Itu manusiawi,” sebutnya.
 
Bahagia Bersyarat dan Dampak Selalu Ingin Serba Sempurna
Mungkin Anda berpikir bahwa ketika selalu berusaha mencapai kesempurnaan dan berusaha memenuhi tuntutan dari semua orang, maka Anda akan bisa menjadi ibu yang bahagia. Ajeng menyebut hal tersebut sebagai ‘bahagia bersyarat’, yakni kita baru bisa merasa bahagia bila semua hal sesuai dengan ekspektasi kita.
 
“PR banget, tuh. Ibu-ibu, kan, biasanya mengharapkan kesempurnaan, ya. Inginnya, segala urusan dari pola pengasuhan, mengatur rumah tangga, urusan domestik, pasangan, segala macam inginnya perfect,” ujar Ajeng. Keinginan untuk serba sempurna inilah yang dapat membuat seorang ibu terjebak. Sering kali hal tersebut bukannya menghadirkan kebahagiaan malah justru membuat Mama mengalami kelelahan fisik dan emosional atau yang sering dikenal dengan moms fatigue.
 
Baca juga: 6 Pengaruh Stres Terhadap Kesehatan Fisik dan Emosional Anda
 
Bahkan, mereka yang kesulitan atau belum mampu meraihnya, sebagaimana disampaikan oleh Ajeng, jadi kerap membandingkan dirinya sendiri dengan ibu lain. Hasilnya, mereka malah jadi menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik. Kondisi ini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental ibu.
 
Baca juga: 7 Hal yang Harus Dilakukan Setiap Ibu untuk Menjaga Kesehatan Mental
 
Siapakah Ibu yang Bahagia?
Ajeng memandang bahwa ibu yang bahagia justru adalah mereka yang bisa menerima dirinya beserta kekurangan dan kelebihannya. “Jadi, self acceptance-nya bagus. Biasanya, kalau sudah bisa punya self acceptance bagus, biasanya dia tidak mengharapkan kesempurnaan,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, “Ternyata tidak mengharapkan kesempurnaan bikin kita lebih bahagia.”
 
Lalu seperti apa ciri ibu yang bahagia menurut Ajeng?

  1. Mampu mengelola emosi dengan baik. “Bukan berarti dia nggak pernah marah, ya. Tetapi, bisa mengungkapkan emosinya,” ujar Ajeng. Ibu yang bahagia mampu jujur atas perasaannya dan apa yang menjadi masalahnya.
  2. Bisa membuat orang lain di sekitarnya bahagia karena memiliki aura positif.
  3. Senang bermain.
  4. Mau mendengarkan orang lain dan berpikiran terbuka.
 
Sebaliknya, menurut Ajeng, ciri ibu yang tidak bahagia adalah kesulitan mengontrol emosinya serta dipenuhi keluhan.
 
Tip Menjadi Ibu Bahagia
Untuk dapat menjadi ibu bahagia, Ajeng mengatakan bahwa yang utama kita harus bisa mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana tip mewujudkannya?


1. Bangun Awareness
Sadari kondisi kita saat ini. “Kita harus sadari bahwa kondisi kita dinamis,” ujar Ajeng. Ia mencontohkan bahwa apa yang dulu membuat kita bahagia, mungkin sekarang tidak. Sadari perubahan apa saja yang terjadi dalam perkembangan kita.

2. Kenali Diri Kita Lagi
Setelah menyadari apa saja yang berubah dan bagaimana kondisi kita saat ini, kita bisa berusaha berkenalan lagi dengan diri kita, apa tujuan, hambatan, kelebihan kita, serta apa yang menjadi kelemahan kita.

3. Accept
Terima diri kita yang sekarang dan bangun kepercayaan diri dengan kondisi tersebut. Kita harus bisa mencintai diri kita sendiri dengan segala kelemahan. “Intinya bagaimana kita bisa mencintai diri kita yang tadi marah. Saya sayang sama diri saya sendiri meskipun tadi merasa putus asa dan frustrasi,” tutur Ajeng.
 
Menurut Ajeng, langkah tersebut akan lebih memudahkan Mama untuk dapat membahagiakan diri sendiri.
 
Tidak Bisa Sendirian
Menurut Ajeng, kebahagiaan memang harus kita temukan sendiri. Akan tetapi, kita juga perlu orang lain sebagai support system, misalnya suami. “Kita sebagai manusia butuh social support, kita butuh pengakuan dari orang di sekitar kita,” ujarnya.
 
Di samping itu, bila kita tak kunjung bisa menyelesaikan masalah, kita bisa mencari bantuan profesional.
 
Baca juga:
Luangkan Waktu untuk Menuliskan Emosi Positif
4 Tipe Orang Tua Dilihat dari Caranya Merespons Emosi Anak
5 Cara Bersyukur untuk Membangun Kebahagiaan
Mengenal Gentle Parenting untuk Membesarkan Anak Bahagia
Orang Tua Bahagia, Kunci Kesehatan Mental Anak
 
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 


Topic

#duniamama #selfcare

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Sering Dituntut Serba Sempurna, Ini Tip Menjadi Ibu Bahagia dari Psikolog