5 Tahap Perkembangan Kecerdasan Moral Anak


Dok. 123RF
 
 
Definisi cerdas sudah berkembang pesat. Patokan kecerdasan seseorang tak lagi dilihat dari IQ (Intellegence Quotient) semata, tetapi telah merambah ke EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), hingga CQ (Creativity Quotient). Seperti belum cukup itu semua, kini muncul aspek baru yang akan menambah kualifi kasi kecerdasan seseorang, yang disebut MQ (Moral Quotient) atau kecerdasan moral.

Michele Borba, Ed.D, dalam bukunya Building Moral Intelligence, mendefi nisikan kecerdasan moral sebagai kemampuan untuk memahami benar dan salah, serta pendirian yang kuat untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan norma moral.

Sederet kualifikasi di atas mungkin terdengar bagai PR berat bagi orang tua. Selain mengisi otak si kecil dengan berbagai ilmu dan pengetahuan, Anda juga dituntut mengisi hatinya dengan sederet kebaikan: Empati, jujur, adil, dan masih banyak lagi. Akan menjadi ringan jika Anda mulai konsisten mengajarkannya sejak dini.

Perkembangan Moral
Seperti halnya kecerdasan yang lain, kecerdasan moral, menurut Nessi Purnomo, Psi, MSi, psikolog anak dan keluarga, merupakan paduan antara faktor genetik dan bentukan lingkungan di sekitarnya.

Dan, perkembangan moral seorang anak akan sejalan dengan perkembangan kognitifnya. Nessi memberi contoh, di usia 5 - 6 tahun, seorang anak akan berperilaku baik karena ia melihat pada konsekuensinya.

Misal, anak akan melepas sepatu dan menyimpannya dengan rapi di rak setiap pulang sekolah, merupakan hasil bentukan sang mama yang tak pernah absen mengingatkannya untuk melakukan hal itu. Kalau anak lupa meletakkan sepatunya di rak, ia akan mendapat konsekuensi berupa teguran keras dari mama.

“Di usia yang lebih besar, anak mulai bisa berpikir lebih jauh. Ia akan melakukan sesuatu bila ada keuntungannya buat dia,” kata Nessi.

Misal, ketika anak diminta untuk membereskan tempat tidurnya sendiri, ia mungkin akan mencoba melakukan proses negosiasi dengan mama, seperti meminta imbalan, atau dibebastugaskan dari pekerjaan rumahnya.

Kecerdasan moral, lanjut Nessi, akan menjadi bekal untuk anak kelak berhadapan dengan dunia yang lebih kompleks. Khawatir ‘bekal’ si kecil tak cukup untuk menghadapi tantangan dunia? Tidak perlu, Ma, karena sebenarnya tahap perkembangan moral berlangsung secara alami pada anak seiring dengan pertambahan usianya. Berikut tahap perkembangan moral pada anak yang perlu Anda ketahui:

Bayi
Seorang bayi belum memiliki kapasitas untuk mengembangkan kecerdasan moralnya. Yang ia miliki hanyalah rasa benar dan salah terhadap sesuatu yang berlaku untuk dirinya sendiri.

Contohnya: Bagi bayi, rasa lapar itu adalah salah, sehingga ia menangis saat lapar. Sebaliknya, digendong, disusui, dan dibelai, akan terasa benar bagi bayi. Dan, perasaan inilah yang akan terus dikembangkan sebagai ‘sesuatu yang benar’ bagi bayi hingga 12 bulan ke depan.

Batita
Menginjak satu tahun, si kecil belum memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu sebagai benar atau salah. Patokan baginya hanyalah apa yang mama dan papa katakan padanya.

Sebagai contoh, si kecil belum memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa memukul seseorang itu adalah sesuatu yang salah karena menyakiti orang lain. Ia baru mengetahui bahwa perilakunya salah ketika orang di sekitarnya mengatakan itu padanya, atau karena ia dihukum untuk perilakunya itu.

Prasekolah (3 - 7 tahun)
Inilah saat di mana anak mulai memasukkan nilai-nilai keluarga ke dalam dirinya. Apa yang penting bagi mama dan papa juga akan menjadi penting baginya.

Di sini Anda mulai dapat mengarahkan perilakunya sehingga sesuai dengan aturan dalam keluarga. Dalam tahap inilah seorang anak mulai memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan memengaruhi orang lain. Misal, ketika si kecil merebut mainan milik temannya, dan temannya menangis, ia tahu bahwa ada kemungkinan mama atau papa akan memarahinya.

Usia sekolah (7 - 10 tahun)
Otoritas orang dewasa (mama, papa, guru, dsb) tidak lagi terlalu ‘menakutkan’ buat anak usia sekolah. Mereka tetap tahu bahwa orang tua adalah sosok yang harus ditaati, tetapi mereka juga tahu bahwa jika mereka melanggar aturan, maka mereka harus memperbaikinya. Perasaan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’ sudah mulai tertanam kuat dalam diri mereka.

Dan, satu lagi seperti yang telah dikatakan Nessi di atas, anak usia sekolah ini juga mulai memilah mana saja perilaku yang akan mendatangkan ‘keuntungan’ buat mereka. Misal, anak akan setuju membantu adik mengerjakan PR asalkan mama memberinya izin nonton film kartun sesudahnya.

Praremaja dan remaja
Di usia ini, anak akan berusaha untuk menjadi populer. Tekanan teman sebaya dan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya akan membuat mereka terus memilah mana nilainilai akan menjadi bagian dari diri mereka.

Praremaja dan remaja mungkin akan terombang-ambing dan mencoba nilai yang berbeda dengan nilai keluarga untuk melihat mana yang cocok. Bisa jadi, nilai keluarga yang telah dianutnya sejak lama justru dibuang karena ‘kalah’ dengan nilai baru yang dikenalnya di luaran.

Baca juga:
5 Nilai Ini Latih Anak Jadi Pengguna Digital yang Cerdas