IDAI: Kematian Balita Selama Pandemi COVID-19 Meningkat 50%




Tidak sedikit orang yang masih mengira bahwa anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap virus COVID-19. Di masa awal pandemi, WHO dan UNICEF memang sempat mengeluarkan pernyataan bahwa kasus COVID-19 pada anak jarang terjadi. Akan tetapi, kondisi tersebut tentunya terus berkembang mengingat persebaran virus COVID-19 dengan varian barunya juga semakin masif.
 
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, sebagaimana dilansir dari Kompas mengatakan, “WHO (dan) UNICEF, mereka underestimate kasus (COVID-19 pada anak). Kita, IDAI, banyak melihat (kasus COVID-19 pada anak).” Pernyataan Prof. Aman ini didasarkan pada data mingguan yang diperoleh oleh IDAI. Bahkan, Prof. Aman juga mengatakan bahwa kasus anak positif COVID-19 di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
 
Kasus Anak Positif COVID-19 Lebih dari 10%
Berdasarkan data dari covid19.go.id pada 16/6/2021, jumlah pasien positif COVID-19 anak usia 0-18 tahun adalah sebesar 12,5% dengan rincian 2,9% adalah balita 0-5 tahun dan sisanya adalah anak usia 6-18 tahun.
 
Bila data dari tanggal yang sama menunjukkan bahwa total pasien terkonfirmasi positif dari semua umur adalah 1.531.005 orang, maka ada lebih dari 190.000 kasus COVID-19 pada anak.
 
Peningkatan Jumlah Balita Meninggal
Masih dari covid19.go.id, pasien positif COVID-19 anak 0-18 tahun yang meninggal mencapai 1,37%. Akan tetapi, menurut Pof. Aman, fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak yang meninggal berjumlah ribuan tiap minggunya.
 
Prof. Aman menuturkan data lapangan dari para dokter anak bahwa selama pandemi ini jumlah kematian meningkat hampir 50%. Melansir dari Kumparan, Prof. Aman mengatakan, "Harusnya satu anak pun tak boleh sakit. Ini kita cerita ribuan anak meninggal tiap minggu.”
 
Lemahnya Pengujian pada Anak
Prof. Aman juga menyoroti lemahnya pengujian atau testing COVID-19 pada anak. Dirinya menyebut bahwa banyak orang tua dan anak yang takut dites. Hal ini tentu saja menyulitkan untuk mengetahui jumlah real kasus positif COVID-19 pada anak yang diprediksi lebih tinggi dari data yang ada sekarang.
 
Jaga Anak-anak Kita
Kondisi pandemi di mana angka positif COVID-19 semakin meningkat ini harus direspons dengan sangat bijaksana. Kenyataan bahwa beberapa tempat wisata atau tempat publik sempat ramai oleh pengunjung yang tidak menjaga jarak serta memakai masker dengan benar menjadi bukti bahwa masyarakat belum benar-benar mematuhi protokol kesehatan COVID-19.
 
Dengan angka-angka tersebut, dikhawatirkan terjadi lost generation. Oleh karenanya, jaga anak-anak dengan cara:

  • Selalu edukasi si kecil tentang cara pencegahan infeksi COVID-19.
  • Minimalkan anak main di luar rumah bersama teman-teman.
  • Dampingi anak saat bermain di luar rumah dengan berbagai protokol. Pilih tempat terbuka seperti taman atau lapangan sebagai alternatif.
  • Praktik 3M wajib dilakukan oleh seluruh anggota keluarga.
  • Tak perlu mengajak anak-anak berbelanja. Cukup satu orang dewasa saja yang melakukannya.
  • Cegah kunjungan dari keluarga ke rumah terlebih dahulu.
  • Tidak melakukan kunjungan bertamu atau bermalam ke rumah kerabat bila tidak ada yang benar-benar mendesak.
  • Penuhi imunisasi anak sesuai jadwal.
 
 
 
Baca juga:
Cara Melindungi Bayi dan Balita dari COVID-19 Saat Harus Keluar Rumah
Waspada Klaster Keluarga, Batasi Si Kecil Main di Luar
Bahaya Varian Covid Baru B.1.1.7 Asal Inggris yang Baru Masuk Ke Indonesia
7 Kunci Lindungi Diri dari Mutasi Baru Covid B.1.1.7
Mama-Papa Sudah Divaksin COVID-19, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan
 
 
 
LTF
FOTO: SHUTTERSTOCK

 


Topic

#corona #coronavirus #viruscorona #covid19 #dirumahsaja #dirumahaja #belajardirumah #workfromhome

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

IDAI: Kematian Balita Selama Pandemi COVID-19 Meningkat 50%