6 Mental Habit Yang Buruk


 

Mental habit atau kebiasaan mental sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan mental secara keseluruhan. Apabila Anda memiliki kebiasaan sehat, maka Anda akan memiliki kondisi mental sehat yang tentunya juga memiliki pengaruh terhadap kesehatan fisik Anda. Namun, bila Anda terjebak menanggung banyak kebiasaan mental yang buruk, Anda dapat jatuh karenanya.
 
Dr. Melanie Greenberg, Ph.D., psikolog klinis dan terapis manajemen stres di Marin Country, California, AS,  menyebutkan 6 mental habit yang buruk :
 
1. Merasa Bersalah
Rasa bersalah bisa muncul ketika Anda tidak sengaja menyakiti orang lain atau melanggar nilai-nilai yang dipegang teguh bahkan ditanamkan sejak Anda masih anak-anak. Misal, Anda merasa bersalah ketika harus meninggalkan anak untuk bekerja. Hal ini lantaran mengurus anak menjadi konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat tentang peran ibu. Anda merasa bersalah karena tak bisa memenuhi konstruksi ini dan bisa saja berpikir bahwa Anda menelantarkan si kecil. “Rasa bersalah yang berlebihan dapat melumpuhkan dan menghilangkan kegembiraan dalam hidup,” tutur Greenberg.
 
2. Merasa Gagal
“Jika Anda melihat hidup melalui lensa kegagalan, Anda akan gagal memperhatikan prestasi Anda,” terang Greenberg. Perasaan gagal dapat membentuk bagaimana cara Anda menilai diri Anda sendiri. Sering kali, orang yang merasa gagal tidak bisa menganalisa keadaan sulit yang mungkin ia hadapi dan tidak pernah memperhitungkan proses yang sudah ia lewati. Misal, Anda merasa menjadi perempuan yang gagal ketika Anda harus mengundurkan diri dari kantor dan berada di rumah saja untuk mengurus anak, sementara Anda adalah seorang lulusan S1 yang harusnya sekarang mendapat karier yang cemerlang. Hal ini bisa membuat Anda stres.
 
3. Menjadi Perfeksionis
Greenberg mengatakan, “perfeksionisme berbahaya bagi pikiran dan tubuh Anda.” Seseorang yang perfeksionis cenderung menjadi kritikus terbesar bagi dirinya sendiri, tidak pernah merasa sempurna bila standarnya belum terpenuhi, dan selalu menyalahkan diri berlebih saat menghadapi kegagalan. Orang yang perfeksionis cenderung lebih banyak berjuang dengan depresi atau kecemasan.
 
4. Hidup dengan Penyesalan
Penyesalan adalah keadaan kognitif atau emosi negatif yang melibatkan menyalahkan diri sendiri untuk hasil yang buruk atau merasakan kehilangan atau kesedihan atas apa yang mungkin terjadi. Orang yang hidup dengan penyesalan sering kali terjebak pada pengandaian bisa membatalkan pilihan sebelumnya yang telah dibuat. Semakin besar penyesalan, maka semakin besar perenungan kronis yang secara mental dapat menghancurkan diri Anda sendiri. Saat memikirkan penyesalan, otak memutar ulang situasi yang membuat stres di kepala mereka, hal ini menyebabkan pelepasan adrenalin dan kortisol secara konstan yang dapat merugikan tubuh dan pikiran Anda.
 
5. Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain
Anda mungkin sering terjebak dengan kebiasaan ini. Ya, seringkali membandingkan digunakan untuk menilai diri sendiri. Anda merasa lebih baik bila membandingkan diri Anda sendiri dengan seseorang yang berada di bawah Anda. Sayangnya, begitu melihat ke atas, Anda sering merasa lebih buruk tentang diri Anda sendiri. Misal, melihat Mama lain yang juga selebgram di sosial media bisa punya waktu untuk selalu bermain permainan sensorik bersama anaknya atau makan bersama dengan anaknya yang lahap dapat membuat Anda merasa buruk. Karena jangankan punya waktu membuat mainan stimulasi seperti itu, waktu Anda sudah dihabiskan dengan pekerjaan rumah serta waktu makan si kecil yang sangat lama. Masalahnya adalah Anda tidak pernah benar-benar memahami bagaimana kehidupan orang lain. Anda hanya melihatnya dari permukaan. Perbandingan memberi Anda banyak tekanan yang merugikan.
 
6. Menyenangkan Orang Lain
Menyenangkan orang lain tentu dapat dikatakan sebagai hal baik. Namun menurut Greenberg, menjadi buruk ketika perilaku menyenangkan orang lain berasal dari keinginan agar semua orang menyukai Anda. Anda akan berkutat hanya dengan pendapat orang lain. “Hanya karena Anda mungkin tahu apa yang orang lain rasakan, bukan berarti Anda bertanggung jawab untuk membuat mereka merasa lebih baik,” ujar Greenberg. Anda akan banyak mengorbankan waktu, energi, bahkan kebutuhan Anda sendiri hanya untuk selalu mengatakan “iya” demi membuat orang lain senang. Belajarlah untuk menyeimbangkan kebutuhan orang lain dan kebutuhan Anda sendiri. Selalu prioritaskan diri Anda.
 
 
Baca juga:
9 Cara Mengatasi Mental Habit Yang Buruk
Saat Hendak Marah Pada Anak, Lakukan 3M
Tip Kontrol Ucapan Saat Marah
7 Manajemen Stres untuk Mama
6 Penyakit Ini Bisa Mengintai Anda Ketika Stres
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK
 

 





Video

Behind The Scene - Cover Parenting Indonesia Agustus 2017


Polling

6 Mental Habit Yang Buruk

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia