16 Tanya-Jawab dengan Dokter Soal Hepatitis Akut pada Anak

hepatitis akut pada anak
 


Beberapa pekan kemarin, Badan kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya kasus hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya (acute hepatitis of unknown aetiology) menyerang anak-anak di beberapa negara, sehingga dinyatakan sebagai Kondisi Luar Biasa (KLB).
 
Seperti dilaporkan, di Indonesia sudah ada 3 anak yang dirawat di RSUPN Cipto Mangunkusumo meninggal dunia dengan dugaan mengalami hepatitis akut ini. Karena itu, Kementerian Kesehatan RI meningkatkan kewaspadaan, bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan investigasi dan menyiapkan tatalaksana penanganannya.
 
Berikut ini tanya-jawab seputar hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini bersama Dr. dr. Muzal Kadim, Sp.A(K), Ketua UKK Gastro-Hepatologi IDAI.
 

1. Apa yang dimaksud dengan penyakit hepatitis?
Hepatitis adalah peradangan atau inflamasi pada hati. Kondisinya bisa berat, bisa ringan. Penyebab inflamasi ini bisa berbagai macam, seperti infeksi, autoimun, obat-obatan, kekurangan oksigen pada kondisi-kondisi tertentu.
 
Infeksi merupakan penyebab hepatitis terbanyak pada anak, bisa karena virus, bakteri, jamur, atau parasit. Tapi, yang paling banyak adalah infeksi virus, yang menyerang sel hati secara langsung adalah virus hepatitis A, B,C,D,E. Jadi, infeksi virus itu bisa virusnya sendiri yang merusak secara langsung sel hati tersebut, bisa juga karena tubuh sendiri yang melawan imunitasnya, mengeluarkan zat-zat untuk menghancurkan virus.
 
Tetapi, akibatnya, tidak hanya virus yang hancur atau rusak, melainkan juga sel hati. Semakin banyak sel hati yang hancur, akan semakin berat hepatitisnya. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menyebabkan hepatitis fulminan atau hepatitis akut berat, yang menyebabkan kegagalan hati. 
 
Jika sudah demikian, terkadang dokter sulit menanganinya, dan angka kematiannya tinggi, atau bahkan memerlukan transplantasi hati.
 
Baca juga: Tip Mencegah Penyebaran Infeksi pada Anak
 

2. Bagaimana dengan hepatitis akut berat yang belum diketahui penyebabnya (unknown aetiology)?
Pada kasus hepatitis akut berat yang unknown aetiology pada anak, sesuai kriteria WHO, tidak terdapat infeksi virus hepatitis A, B, C, D, E, dan juga bukan disebabkan oleh penyakit-penyakit lain seperti autoimun, obat-obatan, atau kelainan bawaan. Disebut unknown aetiology karena memang sedang dicari penyebabnya. Apakah Adenovirus, Epstein-Barr Virus, CMV, atau HSV. Ada banyak virus yang bisa diduga menyebabkan hepatitis akut berat. Tapi pada kondisi saat ini tidak spesifik semua. Jadi, ada yang ditemukan dengan Adenovirus, ada yang tidak. Ada yang koinsiden COVID-19 dan Adenovirus, ada yang tidak. Jadi masing-masing (kasus) berbeda.
 
Baca juga: Waspada Hepatitis Akut pada Anak
 

3. Apa itu Adenovirus yang disebut sebagai penyebab hepatitis akut pada anak?
Sebenarnya, Adenovirus adalah virus yang sudah banyak ditemukan sebagai penyebab diare pada anak. Gejala terinfeksi Adenovirus biasanya ringan, seperti diare, sakit perut, muntah, demam ringan. Selama ini, diare pada anak disebabkan oleh virus, yang paling banyak Rotavirus, tapi ada juga Adenovirus. Pada kasus hepatitis akut berat ini, kita belum tahu mengapa ditemukan Adenovirus.
 

4. Apa gejala hepatitis akut ini?
Sebagian besar adalah gejala saluran cerna, biasanya muntah, diare, sakit perut, demam, karena ini suatu infeksi maka bisa demam. Lalu, lebih lanjut lagi bisa ada kuning di mata, dan kuning di badan kalau lebih berat lagi. Jika sel-sel hatinya sudah banyak yang rusak maka bisa terjadi hepatitis fulminan, bisa menyebabkan kesadaran menurun. Jadi tergantung derajatnya, kerusakan makin berat, gejala makin berat. Selain kesadaran menurun, bisa sampai kejang dan kalau tidak ditangani bisa menimbulkan kematian.
 
Oleh karena itu, sejak awal kita harus waspada, kalau mendapatkan kasus-kasus dengan gejala saluran cerna yang dicurigai, seperti muntah, diare, sakit perut, demam, kuning, air kencing warna tua seperti teh. Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan pemeriksaan lebih lanjut.
 
Baca juga: 5 Cara Cegah Tertular Hepatitis A di Sekolah
 

5. Pertolongan pertama apa yang perlu dilakukan jika anak mengalami gejala mual muntah, diare?
Tentu pertolongan pertama yang umum pada anak dengan diare dan muntah. Jika ada demam diberikan penurun demam seperti parasetamol. Kalau muntahnya cukup sering, bisa diberikan obat-obatan antimuntah. Supaya tidak dehidrasi, tetap berikan cairan. Minumnya mesti cukup, berikan sedikit-sedikit.
 

6. Jika sudah diberikan obat-obat ringan gejalanya hilang, apakah masih perlu dibawa ke faskes?
Kalau memang hilang sama sekali, kemungkinan besar itu diare biasa. Di Indonesia, diare adalah sesuatu yang sering terjadi pada anak, setahun bisa 2-3 kali terjadi terutama penyebabnya adalah Rotavirus. Tapi kalau gejalanya masih berlanjut, sebaiknya dibawa ke faskes.
 

7. Apakah hepatitis akut ini hanya rentan pada anak-anak saja?
Ya. Lebih rentan pada anak karena sistem imunnya belum sempurna, terutama anak-anak lebih kecil yang di bawah usia 6 tahun. Tetapi, ada juga sebenarnya hepatitis akut yang justru terjadi pada orang dewasa yang sistem imunitasnya kuat. Seperti hepatitis A,yang menghancurkan atau merusak sel hati. Kekebalan tubuh menghancurkan virus, dan sel hatinya otomatis ikut rusak. Namun, pada umumnya, infeksi virus akan lebih berat kalau imunitas belum sempurna atau mature.
 

8. Apakah ada kaitannya dengan vaksin COVID-19?
Sampai saat ini, hepatitis akut berat ini tidak dikaitkan dengan vaksin COVID-19. Karena, sebagian besar kasus yang muncul saat ini, mereka belum divaksin, karena anak-anak di bawah usia 6 tahun, bahkan 2 tahun ke bawah, seperti yang terjadi di UK. Kalau dikaitkan dengan messenger RNA (mRNA), setelah sekian juta pemberian vaksin, hal itu mungkin efek samping.
 
Baca juga: Benarkah Hepatitis Akut pada Anak Berkaitan dengan Vaksin COVID-19?
 

9. Apakah anak-anak yang terkena hepatitis akut ada yang memiliki riwayat terinfeksi COVID-19?
Saat ini masih berupa dugaan. Apakah itu suatu koinsiden, artinya ditemukan (Adenovirus yang diduga penyebab hepatitis ini) bersamaan dengan COVID-19 atau sebagai penyebab langsung, itu pun masih dugaan. Karena, selama ini COVID-19 tidak pernah menimbulkan gejala seperti pada hepatitis akut berat ini. Yang ditemukan tidak khas sebagai gejala COVID-19.
 

10. Apa saran terbaik bagi orang tua untuk pencegahan dan deteksi dini?
Hepatitis akut sebagian besar ditularkan lewat fekal-oral, yakni saluran cerna, mulut, atau tangan yang terkontaminasi virus. Bisa juga lewat makanan, atau alat makan, makanan, atau air minum. Masih diduga ditularkan lewat droplets atau percikan.
 
Jadi, yang paling baik dilakukan saat ini adalah pencegahan penularan lewat oral, seperti rajin cuci tangan, menjaga kebersihan makanan, sanitasi. Tindakan pencegahan pada kasus-kasus yang sudah ada gejala, misalnya muntah, diare, sakit perut dengan menghindari supaya tidak kontak lewat tangan. Kedua, kita lanjutkan protokol kesehatan, untuk mengurangi risiko COVID-19 sekaligus penularan hepatitis lewat droplets, walapun ini masih suatu dugaan.
 

11. Anak-anak sudah divaksin hepatitis reguler, apakah ini bisa mencegah penularan?
Vaksin hepatitis B yang diberikan sesuai jadwal, dari bayi lahir, lalu diulang pada 2, 4, 6 bulan sesuai rekomendasi. Hepatitis A juga ada vaksinnya, dimulai pada usia 1 tahun, diulangi lagi 2 kali setelah 6 bulan sampai 1 tahun. Untuk hepatitis C, D, dan E belum (ada). Apalagi hepatitis akut yang sekarang adalah non A, B, C, D, E yang belum diketahui, otomatis vaksinasinya belum diketahui.
 

12. Apa faktor risiko hepatitis akut ini?
Faktor risiko terbesar adalah imunokompromais atau imunitas lemah, misal pada kondisi gizi kurang, anak yang sedang mendapatkan obat-obatan yang menekan sistem imun, anak-anak dengan HIV, dan kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan sistem imun berkurang. Tapi, pada kasus ini, sebagian anak-anak tidak ditemukan fakfor imunokompromais.
 

13. Apa tip untuk melindungi anak dari risiko hepatitis akut di tengah arus balik mudik?
Lakukan pencegahan penularan fekal-oral (lewat mulut). Sebaiknya siapkan makanan untuk anak sebelum berangkat, karena ini terbaik untuk anak terutama bayi. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan anak. Sendok anak jangan dipakai untuk yang lain, karena alat-alat makan bisa menjadi media penularan. Air minum sebaiknya dimasak. Jika menggunakan makanan bayi siap makan, pilih yang tepercaya, bukan makanan beli di warung. Hindari makan jajanan di luar sembangan, terutama yang kita ragukan kebersihannya. Cari tempat yang kita yakini bersih, bisa cuci tangan dengan sabun, dan perhatikan kebersihan makanan.
 

14. Apakah IDAI menyarankan PTM ditunda dalam kurun waktu tertentu?
Sampai saat ini belum ada keputusan IDAI untuk menyarankan penundaan PTM. Masih dilakukan investigasi dan dipantau perkembangannya.
 

15. Kalau ada 1 anak kena hepatitis akut, apakah perlu isolasi agar anak-anak lainnya di rumah tidak tertular?
Karena penyebabnya sebagian besar penularan lewat saluran cerna, memang sebaiknya isolasi, terutama isolasi kontak. Supaya tidak kontak tangan, alat makan/ minum, yang kaitannya dengan fekal-oral.
 

16. Adakah aktivitas atau makanan yang perlu dihindari anak bila ada gejala hepatitis akut?
Anak makan seperti biasa, banyak minum, cukup cairan supaya tidak dehidrasi. Hindari makanan-makanan tertentu yang merangsang mual-muntah, seperti mi instan, makanan pedas, berbumbu. Sebaiknya anak tirah baring (bed rest).
 
Baca juga:
4 Cara Mencegah Hepatitis A
Cegah Penularan Hepatitis dari Ibu ke Bayi
Tes Hepatitis B di Awal Kehamilan
Panduan Jika Anak-Anak Harus Isolasi Mandiri (Isoman)
Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Selama Isolasi Mandiri (Isoman)
 
grc
Foto: Shutterstock


Topic

#keluarga #kesehatan #hepatitisakut #hepatitisakutpadaanak

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

16 Tanya-Jawab dengan Dokter Soal Hepatitis Akut pada Anak