Kalimat Efektif Berkomunikasi dengan Anak (Part 2)



Kalimat-kalimat ini bisa menjadi pembuka untuk mengawali percakapan Anda dengan anak. Selain menciptakan relasi yang kuat antara orang tua dan anak, percakapan berkualitas melatih keterampilan komunikasi anak, serta membentuk perilaku masa depan mereka.

6. "Kita membaca, yuk!"
Menurut Nina, membaca bersama adalah langkah pertama belajar membaca. Jika anak belum merasakan kenikmatan membaca, sebaiknya jangan diajari membaca dulu. Sejak putri saya, Pendar (9), masih kecil, saya selalu mengajak ia membaca sebelum tidur. Sewaktu Pendar belum bisa membaca, tentu saya yang membacakan buku untuknya. Namun ketika Pendar masuk SD dan sudah lancar membaca, ia ‘keenakan’. Ia tetap minta dibacakan cerita dan tak mau membaca sendiri, walaupun ia sudah menyukai buku. Barulah ketika sudah kelas 3, tiba-tiba ia berkata, “Bunda, kita ‘klub buku’, yuk!” Rupanya, yang ia maksud klub buku adalah: Kami duduk berdampingan, lalu kami membaca buku kami sendiri-sendiri. Sejak itu, saya tak perlu lagi membacakan untuknya karena ia sudah hobi membaca sendiri.

7. "Kita semua pernah salah."
Bila Anda yang melakukan kesalahan, ini justru momen untuk memperlihatkan kepada anak bagaimana Anda bertanggung jawab terhadap kesalahan itu dan move on. Anak-anak kecil bisa menyalahkan diri mereka sendiri, bila merasa tak sempurna atau tak bisa memenuhi standar Anda. Saling memberikan ruang untuk berbuat kesalahan (dan belajar dari kesalahan itu) sangat baik untuk Anda dan anak. “Kalimat ‘Kita semua pernah salah’ sebaiknya didahului oleh pembahasan mengenai kesalahan yang dilakukan anak. Misalnya, dengan bertanya, bagaimana awalnya, atau, kok, bisa begitu, lalu pelajaran apa yang bisa kamu ambil. Penting sekali bagi anak untuk merasakan, mengenali, dan mengeluarkan emosi negatifnya dulu. Jangan buru-buru diredam. Setelah itu, orang tua bisa menutup dengan kalimat, kita semua pernah salah, kok. Barulah kalimat itu sakti, karena terasa sangat menghibur dan menyetarakan. Anak diberi tahu bahwa semua orang – termasuk orang tuanya – juga tak luput dari kesalahan,” tutur Nina.

8. "Maaf"
Menurut Nina, kata maaf akan lebih efektif, bila yang mengucapkan benar-benar merasa menyesal. Selama ini, Sekar memberi contoh kepada Hario untuk meminta maaf, jika melakukan kesalahan. Tempo hari, ketika ia ingin memotret Hario bersama beberapa temannya, Hario rupanya ingin berdiri paling depan. Ia lalu mendorong seorang kawannya, hingga marah dan menangis. Sekar langsung meminta Hario minta maaf. Namun tak mudah bagi Hario langsung minta maaf karena saat itu masih malu. ia tetap meminta maaf, walau dengan berurai air mata. Dua hari kemudian, ketika kembali bermain bersama, Hario meminta maaf ulang kepada temannya. Rupanya ia belum lega dan merasa harus meminta maaf lagi.

9. "Menurut pendapatmu bagaimana?"
Meminta masukan anak dan memberi mereka kesempatan dalam diskusi keluarga akan membuat anak belajar membuat keputusan dan mulai bertanggung jawab terhadap pilihan mereka. Irawati Diah selalu melibatkan putrinya Nadira (7) dalam diskusi keluarga, dari pemilihan restoran, tempat liburan, hingga sekolah. Bagi Ira, hal itu penting karena anak akan merasa dihargai dan dianggap oleh orang tuanya. Selain itu, “Kalau kita ingin anak kita bisa bersikap dewasa, kita harus melatih mereka berpikir seperti orang dewasa, bukan?” ucap Ira.

10. "Iya"
Orang tua kerap melarang, tapi lupa mengarahkan. Misal, jika anak ingin makan di depan TV, Mama bisa bilang, “Ya, kamu boleh nonton TV, TAPI setelah makan.” Jadi, anak punya arahan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan keinginannya. Irawati menerapkan hal ini. Ketika Nadira meminta nonton TV hingga malam di hari sekolah, Ira tidak langsung melarangnya. Ia mengajak Nadira berdiskusi dan memikirkan konsekuensi logisnya. “Kalau kamu nonton sampai malam, besok pagi bisa terlambat bangun. Akibatnya, bisa terlambat sekolah. Nadira mau, nggak, terlambat sekolah?” Ira menyukai cara ini karena komunikasi berlangsung dua arah. Ia melatih Nadira untuk tidak sekadar patuh, tapi juga memahami akibat perbuatannya.

Foto : Fotosearch

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Kalimat Efektif Berkomunikasi dengan Anak (Part 2)