Sudah Bosan Belajar Daring, Tepatkah Anak-anak Sekolah Tatap Muka?



 
Terhitung sudah setahun lebih sebagian besar anak-anak Indonesia belajar dari rumah karena pandemi. Mereka bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan teman-teman di kelas baru mereka.
 
Banyak keluhan dari sekolah daring ini, mulai dari masalah jaringan, kesulitan memahami penjelasan guru, hingga tidak ada alat ukur yang benar-benar efektif dalam menilai pembelajaran anak, karena ditengarai terlalu banyak campur tangan orang tua dalam mengerjakan PR bahkan ujian anak.
 
Anak Bosan, Orang Tua Terbebani
Samanta Elsener, S.Psi., M.Psi., Psikolog Anak dan Keluarga, dalam Webinar Millenial Parents Academy yang diadakan oleh Parenting Indonesia dan Ayahbunda bertajuk Siap-Siap Sekolah Tatap Muka, mengatakan bahwa sering kali yang terjadi bukan anak-anak saja yang merasa bosan dengan sistem pembelajaran daring ini. Ia mengamati banyak orang tua yang juga merasa terbebani.
 
Penyebabnya, Samanta menjelaskan, banyak orang tua yang harus meninggalkan anak untuk bekerja. “Mereka bingung, anak-anak di rumah dengan siapa. Makanya, mereka butuh anak-anak untuk sekolah,” ujarnya.
 
Di samping itu, orang tua juga merasa terbebani dengan kesulitan mata pelajaran yang harus diajarkan ke anak-anak. Orang tua juga terbebani dengan keharusan lebih kreatif memberikan anak alternatif kegiatan di rumah, di tengah kesibukannya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau bekerja.
 
Orang Tua Harus Punya Informasi Lengkap
Doni Koesoema A.M.ED, Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan Periode 2019-2023 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga mengamati hal yang serupa. Akan tetapi, ia berpendapat, “Jangan hanya karena orang tua sudah bosan anaknya di rumah atau merasa sekolah daring berjalan kurang jelas, akhirnya memaksa (anak-anak) untuk masuk sekolah bahkan mendesak sekolah.” Ia menambahkan, “Orang tua harus sadar atau terinformasi tentang pandemi, untuk membuat keputusan yang mengizinkan anaknya sekolah atau tidak.”
 
Menurut Doni, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) memang merupakan bagian fundamental dalam proses pendidikan. “Sekolah tatap muka memang tidak bisa ditiadakan. Terkadang, bapak atau ibu guru tidak bisa memberikan penjelasan yang lebih personal lewat daring.”
 
Ia juga mengatakan, “Dalam konteks pandemi, keselamatan dan kebahagiaan peserta didik sebagai tujuan pendidikan sebagaimana digagas Ki Hajar Dewantara harus menjadi pertimbangan utama. Apakah kondisi daerah sudah aman dan bisa menjamin keselamatan anak untuk PTM.” Karena itu, menurutnya, pelaksaanan PTM harus benar-benar melihat pertimbangan dari epidemiolog atau Satgas COVID-19 mengenai zona daerah tersebut.
 
Keselamatan yang Utama
Oleh karenanya, sebelum melaksanakan sekolah tatap muka, Doni menekankan agar unit satuan sekolah benar-benar memenuhi check list, seperti ketersediaan sarana sanitasi, alat pengukur suhu, maupun pemetaan warga sekolah berkaitan dengan penyakit komorbid, mobilitas, serta kontak dengan pasien positif COVID-19. “Check list ini harus diisi dengan sejujur-jujurnya. Karena nyawa satu orang saja sangat penting,” tandasnya.
 
Doni juga berpesan agar orang tua benar-benar memerhatikan apakah daerahnya aman, sekolah siap, serta anak sudah bisa menjalankan protokol kesehatan dengan baik, sebelum memutuskan untuk melepas mereka sekolah tatap muka.
 
 
Baca juga:
Bagaimana Protokol Kesehatan Uji Coba Sekolah Tatap Muka?
 
LTF
FOTO: SHUTTERSTOCK
 

 


Topic

#pembelajarantatapmuka #corona #coronavirus #viruscorona #covid19 #dirumahsaja #dirumahaja #belajardirumah #workfromhome #vaksin #vaksincovid19 #sinovac

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Sudah Bosan Belajar Daring, Tepatkah Anak-anak Sekolah Tatap Muka?